Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Terdakwa penganiayaan wali murid Marlion School dituntut ringan, korban kecewa
Terdakwa Imelda Budianto saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (24/07/2019). FOTO: rofik-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Terdakwa penganiayaan wali murid Marlion School dituntut ringan, korban kecewa 

LENSAINDONESIA.COM: Imelda Budianto, terdakwa kasus penganiayaan dengan cara menabrak korban dengan mobil dituntut pidana 5 bulan penjara dan masa percobaan 1 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Surabaya.

Dalam persidangan yang digelar di Ruang Kartika II Pengadilan Negeri Surabaya ini, terdakwa dianggap terbukti melakukan perbuatan penganiayaan terhadap Lauw Vina alias Vivi.

“Terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 351 ayat 1 KUHP, ” kata JPU Darwis dalam membacakan tuntutannya, Rabu (31/07/2019).

Tuntutan ringan ini membuat korban kecewa. Hal itu diungkapkan Andry Ermawan, kuasa hukum Vivi.

Menurut Andry, sejak awal penanganan kasus ini, korban sama sekali tidak mendapatkan keadilan. Hal itu bisa dilihat dari tidak ditahannya terdakwa, barang bukti juga sudah bisa dipinjam pakaikan.

Kata, banyak fakta persidangan yang diabaikan Jaksa dalam tuntutannya. Faktor kesengajaan terdakwa dan juga tidak adanya itikad baik dari terdakwa sama sekali tidak diperhitungkan.

“Lalu keadilan mana yang didapat korban? Yang namanya ditabrak mobil itu kan sangat membayahakan nyawa. Itu adalah perbuatan pidana berniat melukai seseorag. Dan terbukti melukai, klien saya luka memar lho,” ujarnya.

Menurut Andry, penganiayaan dengan cara menabarak dengan mobil itu telah membuat kliennya mengalami trauma.

“Ingat, walaupun bukan luka yang terbuka. Perlu juga diketahui rasa trauma dan psikologis klien saya yang belum hilang akibat peristwa itu. Jadi luka fisik dan luka batin klien saya juga harus dipertimbangkan oleh jaksa,” ujar Andry.

Dengan tuntutan ringan ini, lanjut Andy, terlihat bahwa jaksa tidak mewakili korban sebagai pelapor, tatapi justru sebaliknya.

“Yang dijadikan pertimbangan Jaksa malah hal-hal yang menguntungkan terdakwa, sementara keterangan saksi yang menyatakan bahwa memang ada kesengajaan dari terdakwa serta tidak adanya itikad baik dari terdakwa malah diabaikan. Lalu jaksa ini mewakili siapa dalam kasus ini,” ucap Andry dengan nada kecewa.

Baca Juga:  Ketua Harian Halal Institute, H. SJ Arifin: "MUI dan Kemenag layak diapresiasi kinerja terkait UU JPH"

Terpisah jaksa Darwis, menyatakan dalam kasus ini memang ada peristiwa korban diserempet mobil oleh terdakwa. Saat itu, spion mobil terdakwa mengenai korban. Namun waktu sidang pemeriksaan setempat Kepala Yayasan Marlion International School menyatakan bahwa korban tidak apa-apa.

“Setelah kejadian korban tidak apa-apa. Kata ketua yayasan setelah ribut (korban) berusaha di bawa di ruangan. Di situ dia (ketua yayasan) melihat korban itu datang berjalan biasa dan cuma ada bekas tanah yang ada di kakinya, trus saya tanyakan ada luka nggak?,” ujar Darwis usai sidang

Darwis menambahkan, sesuai keterangan dokter yang merawat di UGD dokter Asraaf dan setelah dilakukan diagnosa kondisi korban tidak apa-apa.

“Jadi dari fakta persidangan yang pemeriksaan setempat dan juga persidangan dan juga berdasarkan visum memang tidak terjadi apa-apa dengan korban. Itulah yang menjadi pertimbangan kita dalam menuntut terdakwa,” jelasnya.@rofik

CAPTION: Terdakwa Imelda Budianto saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (24/07/2019). FOTO: rofik-LICOM