LENSAINDONESIA.COM: Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan dua Guru Besar yaitu Prof. Dr. Arry Yanuar, M.Si, Apt sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Farmasi UI dan Prof. Dr. rer nat. Abdul Haris sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI.

Upacara pengukuhan berlangsung 31 Juni 2019 di Balai Sidang UI kampus Depok, dan dipimpin Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

Prof. Arry menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Artificial Intelligence Sebagai Pendekatan Baru dalam Ilmu Kimia Medisinal dan Perannya pada Proses Penemuan Obat.”

Menurut Prof Arry, pada awalnya penemuan obat banyak diperoleh secara kebetulan (serendipity) seperti penisilin (antibiotik), metformin (anti diabetes), sildenafil (disfungsi ereksi) dan minoksidil (penumbuh rambut).

Namun kini, lanjutnya, dengan kemajuan teknologi, penemuan obat yang rasional dapat didukung oleh kemajuan yang pesat dalam berbagai ilmu antara lain ilmu komputer, statistik, biologi molekuler, biofisika, biokimia, farmakokinetik, farmakodinamik dan kimia medisinal.

“Berbagai metode dapat digunakan di dalam penemuan obat rasional, salah satunya melalui upaya Artificial Intelligence.”

Prof. Arry menuturkan, “Salah satu perkembangan terbaru AI dan sangat luar biasa adalah penemuan obat PXT3003 untuk pengobatan penyakit neuropatiCharcot-Marie-Tooth (CMT) salah satu kelainan langka yang belum ditemukan obatnya, hingga obat ini ditemukan oleh perusahaan Biofarmasi Prancis Pharnext yang baru berdiri pada tahun 2007.”

Artificial intelligence, katanya lagi, memberikan akselerasi yang luar biasa dalam penemuan dan pengembangan obat.

Maka, tidak heran banyak perusahaan farmasi mulai bermitra dengan startup dan akademisi AI untuk memulai program pengembangan obat, bahkan perusahaan raksasa di luar farmasi bertransformasi untuk pengembangan obat seperti Google dan Facebook Inc. Prof.Arry sangat mendukung metode artificial intelligence (AI) dalam penemuan obat karena terbukti memiliki peran yang besar ke depannya dalam pengembangan obat baru baik dari bahan alam, sintetik maupun reposisi dari penggunaan sebelumnya.

Sedangkan Prof. Haris menyampaikan pidato tentang “Tantangan Ahli Eksplorasi Seismik dalam Pencarian Sumber Migas : Paradigma Baru dalam Eksplorasi Migas.”

Migas, dikatakannya, memiliki peran yang penting dan strategis dalam sejarah perkembangan Bangsa Indonesia, khususnya sebagai sumber pendapatan negara, memenuhi kebutuhan bahan bakar domestik, sumber bahan baku industri, dan menciptakan efek berantai kegiatan ekonomi.

Namun, lanjutnya, produksi migas di Indonesia sejak tahun 1990-an mengalami tren penurunan yang berkelanjutan yang tidak sebanding dengan jumlah kebutuhan yang terus meningkat. Hal ini disebabkan minimnya kegiatan eksplorasi dan minimnya inovasi dan pengembangan teknologi baru dalam eksplorasi migas.

Prof. Haris menuturkan, “Kita masih mempunyai peluang yang besar untuk mengembalikan kekuatan sektor migas karena kita masih memiliki cadangan minyak yang cukup besar. Ada 60 cekungan migas di Indonesia, dimana 22 cekungan belum dibor, 13 cekungan sudah dibor tapi belum ada penemuan, 8 cekungan dengan penemuan tapi belum berproduksi, dan 16 cekungan produksi.”

Untuk itu, Prof. Haris memaparkan sebuah paradigma baru dalam mengeksplorasi Migas yaitueksplorasi seismik denngan mengadopsi inovasi, analisis dan interpretasi seismik lanjut (advanced seismic interpretation). Teknologi ini menjadi bagian utama dan bagian penting dari tahapan eksplorasi yang diaplikasikan oleh industri migas.

“Tidak hanya sampai itu, Pengembangan survei seismik 2D diperluas menjadi seismik3D dan bahkan 4D yang dapat menghasilkan gambar bawah permukaan yang jauh lebih rinci.” @licom

Autentikasi:
Dr. Rifelly Dewi Astuti, SE, MM
Kepala Humas dan KIP UI