Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Warga tak bersalah jadi korban oknum penyidik tak profesional, Polres Jombang didemo
Massa FRMJ berunjukrasa di halaman Mapolres Jombang, Kamis (01/08/2019). FOTO: obi-LICOM
Uncategorized

Warga tak bersalah jadi korban oknum penyidik tak profesional, Polres Jombang didemo 

LENSAINDONESIA.COM: Puluhan massa Forum Rembug Masyarakat Jombang (FRMJ) menggelar unjukrasa di depan Mapolres Jombang, Kamis siang (01/08/2019).

Aksi ini dipucu kinerja sejumlah penyidik yang tidak profesional dalam menangani kasus, sehingga masyarakat yang tidak bersalah menjadi korban. Salah satu kasus yang disorot oleh FRMJ adalah penahanan seorang warga bernama Iwan Arif Mustaqim oleh oknum penyidik Polsek Ploso yang menjadi ‘debt collector’ alias penagih utang.

Ketua FRMJ Joko Fattah Rochim meminta Kapolres Jombang AKBP Fadli Wiyanto mencopot para oknum penyidik yang ‘doyan’ menyalahgunakan kewenangannya tersebut.

“Kami sebelumnya telah melaporkan beberapa penyidik itu ke Propam Polda Jatim,” ungkap Fattah di sela aksi.

Beberapa penyidik yang di-propam-kan tersebut diantaranya, Aiptu AW dan Iptu SB. “Ada juga oknum penyidik yang lain yang kami laporkan,” sebut Fattah sembari menunjukkan tanda bukti pelaporan bernomor STPL/ 111/VII/ 2019/Yanduan.

Disampaikan Fattah, penyidik tersebut diduga juga mengeluarkan SP3 terhadap penanganan kasus dugaan penggelapan sertifikat tanah milik Iwan Arif Mustaqim, yang pernah ditahan penyidik Polsek Ploso dan Polres Jombang.

“Jadi korban ini ditahan karena ada piutang bisnis jual beli-gabah. Lalu, korban ini menyerakan uang Rp 60 juta dan sertifikat tanah kepada rekan bisnisnya sebagai jaminan. Lalu tanah yang dijaminkan itu sekarang malah dijual dalam bentuk kavlingan oleh kepala desa setempat. Nah saat kita laporkan, kasusnya malah di SP3,” jelas Fattah.

Menyikapi aksi demo ini, Wakapoles Jombang Kompol Budi S mengajak perwakilan massa FRMJ untuk berdialog di gedung Graha Bakti Bhayangkara Polres Jombang.

Kompol Budi S mengatakan bahwa pihaknya sampai saat ini belum mengetahui bahwa anggotanya telah dilaporkan ke Propam Polda Jatim. Namun, lanjut dia, bila memang sudah ada laporan maka Polda Jatim akan menindaklanjuti.

“Kalau memang itu dilaporkan tentu akan ditindak lanjuti Polda. Pelaporan ke Propam itu memang jalurnya, jika tidak puas atas kinerja kepolisian kami persilahkan menempuh jalur praperadilan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Iwan Arif Mustaqim, warga Dusun Kramat, Desa Tanggungkramat, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang melapor ke Propam Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur.

Pria 43 tahun itu menuntut keadilan lantaran dirinya dijebloskan ke dalm penjara tanpa proses penyelidikan dan penyidikan sebagaimana mestinya (malprosedur) oleh Polsek Ploso dan Polres Jombang.

Kejadian yang menimpa Iwan Arif ini bermula ketika tahun 2017, istrinya Mumoyzatul Adhimah (sudah bercerai) menjalankan bisnis jual beli gabah dengan Sudarsih warga Kedungcaluk, Ngusikan dan Sarsi warga Ganggang, Kedungdowo, Kecamatan Ploso.

Dalam bisnis itu, Mumoyzatul Adhimah yang memakai UD Surya milik Iwan Arif memiliki piutang sekitar Rp151 juta pada Sudarsi dan sekitar Rp227 juta kepada Sarsi.

Dari piutang jual beli gabah itu, pihak Mumoyzatul Adhimah telah membayar Rp65 juta.

Tiba-tiba, ungkap Iwan Arif, pada 28 Mei 2017 dini hari, ia dan istrinya dijemput paksa oleh dua anggota polisi dari Polsek Ploso. Iwan Arif dan Mumoyzatul Adhimah dibawa lalu digelandang ke Mapolsek Ploso untuk diperiksa dan langsung ditahan.

Setelah dilakukan pemeriksaan (BAP) dan ditahan di Polsek Ploso, lanjut Iwan Arif, penyidil baru membuat surat penangkapan dan penahanan. Surat penangkapan iti diberikan kepada Zaenal, adik saya. Lalu surat penahanan diberikan pada ibu saya Siti Aminah. Surat itu diterima tanggal 29 Mei 2017.

Di Polsek Ploso itu, Iwan Arif dan istrinya ditahan selama 3 hari. Kemudian dipindah ke tahanan Polres Jombang. Keduanya juga menjalani penahanan selama 3 hari di Mapolres.

Saat ditahan di Polres Ploso itu, pihak Iwan Arif pada 29 Mei 2017, pihaknya menyerahkan jaminan uang Rp60 juta dan sertifikat bukti kepemililan tanah seluas 908M2 kepada Sudarti dan Sarsi. Jaminan pelunasan sampai gabah terjual itu juga ditanda tangani Lurah Tanggungkramat Agus Hadi Suroso.

Lalu kemudian, esok harinya, 30 Mei 2017, Sarsi selaku pelapor melakukan pencabutan pelaporan.

Anehnya, meski laporan telah dicabut dan jaminan sudah diserahkan, namun Iwan Arif dan istrinya masih ditahan, bahkan dipindah ke tahanan Polres Jombang.

Selain menyerahkan uang dan serifikat tanah, mobil Suzuki Futura milik Iwan juga ditahan oleh Sudarti.

Setelah menjalani penahanan selama 6 hari itu, akhirnya, pada 3 Juni 2017, keluar surat perintah penangguhan penahanan dari Polres Jombang.

Pada surat perintah penangguhan penahanan Nomor : SPP/07.D/VI/2017/Reskrim, penanggugan penahanan dijamin oleh Agus Hadi Suroso selaku Kepala Desa Tanggungkramat.

Meski Iwan telah kelar dari tahanan, dirinya hingga kini belum menerima Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dari pihak kepolisian.

Hal ini yang dipermasalahkan Iwan, karena dirinya merasa tidak diberi kejelasan terkait status hukum dirinya.

Iwan juga mengaku mengalami kerugian, sebab tanah yang dijadikan jaminan itu sekarang dijual secara kavlingan oleh kepala desa.

Ketua FRMJ Joko Fattah Rochim menduga bahwa Iwan Arif merupakan korban kriminalisasi. Sebab, kasus bisnis gabah yang pembayarannya sistem piutang tersebut adalah masalah perdata.

“Dugaan kami saudara Iwan Arif telah menjadi korban kriminalisasi. Sepertinya pihak yang terlibat dalam jual beli gabah itu bersekongkol dengan okmum polisi yang tujuannya untuk menagih utang,” ujarnya.

“Ini seperti akal-akalan oknum polisi yang berkerjsama dengan pihak tertentu untuk kepentingan menagih utang saja. Kalau begini apa bedanya oknum polisi itu dengan debt collector. Karena itu kami laporkan ke Propam Polda Jatim. Ada beberapa oknum polisi yang dilaporkan, dari Polsek Ploso juga,” tegas Fatah.@obi

CAPTION: Massa FRMJ berunjukrasa di halaman Mapolres Jombang, Kamis (01/08/2019). FOTO: obi-LICOM