Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
My God! 3 juta orang Indonesia terinfeksi Hepatitis C, ini “bom waktu” Bro!
HEADLINE

My God! 3 juta orang Indonesia terinfeksi Hepatitis C, ini “bom waktu” Bro! 

LENSAINDONESIA.COM: Permasalahan Hepatitis C di Indonesia saat ini cukup menjadi perhatian banyak kalangan. Prevalensi penduduk Indonesia yang terinfeksi Hepatitis C di Indonesia sekitar 1,1% dari total penduduk tanah air.

Angka 1,1% itu menurut penelitian Kementerian Kesehatan terakhir. Apabila saat ini penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 270 juta orang, maka sekitar 3 juta orang yang terinfeksi penyakit ini.

Hepatitis C, menurut keterangan pers organisasi “Satu Hati”, sejak 2012 dapat disembuhkan dengan mudah dan biaya yang cukup murah serta tingkat kesembuhan yang tinggi, yaitu di atas 96%. Obat ini dikenal dengan nama Direct Acting Antiviralatau atau DAA. Biaya untuk obat DAA saat ini di Indonesia sekitar Rp18 juta, untuk pengobatan selama 12 minggu.

Hal ini merupakan terobosan luar biasa dari obat Hepatitis C yang tersedia sebelumnya. Yaitu, Pegylated Interferon yang tingkat kesembuhannya di bawah 60%, efek samping yang berat dan biaya yang sangat mahal untuk 1 tahun pengobatan.

Biaya yang dibutuhkan untuk Pegylated Interferon sekitar 144 juta, itu belum termasuk biaya tes, diagnosa, dokter dan biaya – biaya lainnya seperti tes darah dan tes jenis virus.

Sejak awal Januari 2019 lalu, Sub Direktorat Hepatitis sudah mengajukan kepada Direktorat General Farmasi dan Alat Kesehatan (Farmalkes), KementerianKesehatan agar segera dapat melakukan pengadaan akan DAA karena kebutuhan yang sangat mendesak dan memangsudah dianggarkan oleh pemerintah yang disetujui Komisi IX, DPR RI.

Sebulan yang lalu, Direktur dari organisasi masyarakat sipil Koalisi Satu Hati, Caroline Thomas bertemu dengan Direktur General Farmalkes, Dra. Engko Sosialine Magdalene, Apt., M.Biomed dikantornya di Kemenkes, Kuningan Jakarta Selatan.

Hasil pertemuan itu, menurut “Koalisi Satu Hati”, Engko berjanji akan membahas masalah ini sehari setelah pertemuan kepada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP). Karena Engko mengakui permasalahan ada di sistem e-katalog LKPP yang belum dimutakhirkan, sehingga pihaknya tidak dapat melakukan pengadaan obat tersebut.

Baca Juga:  Jelang pelantikan, Preseden Jokowi terima kunjungan pemimpin negara sahabat

Namun sampai saat ini tidak ada update atau informasi apa pun mengenai ketersediaan obat ini. Caroline Thomas menerangkan, sementara kebutuhan untuk obat tersebut semakin meningkat dan mendesak.

Caroline menambahkan, sebagai contoh, Ditjenpas bersama dengan “Koalisi Satu Hati” melakukan gebrakan untuk skrining dan pengobatan Hepatitis C di 7 Lapas dan Rutan di Jakarta.

Hasil gebrakan itu, sampai saat ini, dari 12,000 orang yang diskrining, dan 730 orang di antaranya membutuhkan pengobatan. “Di luar Lapas dan Rutan DKI Jakarta, ada lebih banyak penduduk Indonesia yang juga membutuhkan obat ini,” imbuh Caroline.

Pramudya Adhi Nugraha, Staf Advokasi “Koalisi Satu Hati” menambahkan, pertanyaan dari pihak Farmalkes kepada pihak LKPP sampai saat ini tidak ditanggapi. “Hal ini membuat banyak pihak merasa hal ini tidak menjadi perhatian bagi para pengambil keputusan.”

Husen Basalamah, Direktur dari KIOS Atmajaya juga sangat menyayangkan pembiaran yang terjadi oleh pemerintah. Karena Pemerintah Indonesia sudah berkomitmen Bersama dengan World Health Organization (WHO), baik di tingkat Internasional maupun region Asia Tenggara untuk dapat mengeliminasi Hepatitis di tahun 2030.

“Koalisi Satu Hati” mencermati pembicaraan di kalangan masyarakat sipil pemerhati isu Hepatitis saat ini semakin besar, karena kondisinya seperti berlomba dengan waktu. Upaya mengeliminasi Hepatitis C di tahun 2030 akan menjadi mustahil, apabila tidak ada keseriusan dalam menangani permasalahan ini dari sektor – sektor strategis yang merupakan pengambil keputusan.

Tentunya, kondisi ini akan jadi “Bom Waktu” siap meledak. “Oh, My God!,” demikian agaknya ketercenungan banyak pihak. Akankah yang berwenang bergeming? @licom_09

Foto (atas):
Ilustrasi hepatitis C. @dok. health_europa