Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.  
Dosen FKM UI berdayakan kader Posyandu untuk tangani tingginya prevalensi stunting
Ilustrasi tingginya prevalensi stunting (kurangnya tinggi badan anak dibandingkan teman seusianya). (ist)
EDUKASI

Dosen FKM UI berdayakan kader Posyandu untuk tangani tingginya prevalensi stunting 

LENSAINDONESIA.COM: Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menerapkan Pemberdayaan Kader di dalam mengelola Posyandu sebagai upaya merevitalisasi Posyandu untuk intervensi gizi spesifik pada anak.
Pelatihan bagi para Kader dilaksanakan pada Jumat (2/8) di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Program Pengmas FKM UI dilatarberlakangi atas tingginya prevalensi stunting (kurangnya tinggi badan anak dibandingkan teman seusianya) sebagai salah satu beban masalah gizi di Indonesia yang hingga kini masih belum dapat ditanggulangi dengan baik.

Ketua Tim Pengmas FKM UI Prof. Ratu Ayu menuturkan, “Prevalensi stunting di Indonesia dari tahun ke tahun masih jauh dari angka yang direkomendasikan oleh WHO (di bawah 20%), sebut saja pada tahun 2018 pada angka 30,8%. Sebagai salah satu lokasi prioritas penanggulangan stunting, Desa Babakan Madang, Kabupaten Bogor memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata nasional, yakni mencapai 31,7%. Berangkat dari permasalahan tersebut, maka kami membuat perogram aksi nyata bagi masyarakat setempat yang diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan Stunting,” ujar Ratu.

Lebih lanjut, Tim Pengmas FKM UI memilih menjalankan program merevitalisasi Posyandu didasarkan karena belum maksimalnya peran posyandu. Posyandu sebagai pelayanan kesehatan dasar masih minim angka kunjungan serta keterampilan kadernya. Kinerja Posyandu juga dianggap belum optimal ditandai dengan jumlah kader di setiap posyandu yang tidak sesuai dengan ketentuan (kurang dari 5 orang), belum adanya tempat pelaksanaan Posyandu yang tetap, belum rutinnya pelaksanaan posyandu setiap bulan berkaitan dengan partisipasi aktif warga yang rendah untuk melakukan penimbangan terhadap balita sehingga angka kunjungan ibu balita ke Posyandu.
Berdasarkan hal inilah, diperlukan upaya untuk mengembalikan fungsi posyandu (revitalisasi) sebagai garda terdepan dalam pemantauan status gizi balita, pencegahan penularan penyakit infeksi melalui imunisasi serta penyuluhan gizi sehingga pada akhirnya dapat terjadi deteksi dini, pencegahan dan penanggulangan stunting.

Baca Juga:  Hari ini! Festival Merah Putih Mitra Gojek serentak digelar 256 Kota

Tim Pengmas FKM UI berfokus pada pelatihan kader dan pemberian materi edukasi dalam bentuk permainan dan role-play agar lebih mudah dipahami dan diingat. Diharapkan aksi nyata yang dilakukan tim Pengmas FKM UI dapat meningkatkan kinerja, pengetahuan, kapasitas, keterampilan, kemandirian, dan komitmen kader serta rasa kepemilikan warga terhadap Posyandu sehingga angka kunjungan posyandu semakin meningkat.

Dengan demikian, terjadi peningkatan pengetahuan ibu terkait kesehatan ibu dan anak sehingga stunting dapat dengan lebih mudah terdeteksi serta ditangani dengan tepat dan cepat.@licom