Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Pendiri Yayasan Harapan Insani diadili terkait dugaan penipuan investasi batu bara Rp8 miliar
Salim Lays, terdakwa kasus dugaan penipuan investasi batu bara menjalani sidanh di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (13/08/2019). FOTO: ROFIK-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Pendiri Yayasan Harapan Insani diadili terkait dugaan penipuan investasi batu bara Rp8 miliar 

LENSAINDONESIA.COM: Salim Lays, terdakwa penipuan senilai Rp8 miliar dengan modus investasi batu bara menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa, (13/08/2019).

Dalam sidang dengan agenda pembacaan dakwaan ini, disebutkan bahwa terdakwa Salim Lays yang merupakan pendiri Yayasan Harapan Insani di Balik Papan, Kalimantan Timur, menawarkan investasi tambang batu bara kepada Cecilia sejak 2013 dengan dalih keuntungan 10 persen.

Pada sidang ini, sebagai terdakwa yang tidak ditahan oleh jaksa, Salim Lays mengaku dirinya belum menunjuk seorang pengacara.

“Masih cari (pengacara) bu hakim,” ucapnya saat ditanya oleh ketua majelis Hakim Anne Rosiana.

Dalam surat dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakosa mengatakan, kasus ini berawal saat Salim menawarkan lahan tambang batu bara seluas 3 ribu hektare di Kalimantan Timur dengan harga Rp80 miliar ke Cecilia Tanaya, warga Surabaya (korban) pada 2013.

Selanjutnya, Cecilia melakukan pertemuan dengan Salim, Fu Xiaohan, dan Cokro di Restoran Ming Garden, Surabaya. Pada pertemuan tersebut, Salim mengatakan bahwa ada orang dari Korea, India, dan China yang berminat atas tambang batubara tersebut.

“Kemudian terdakwa Salim mengatakan kalau mau jual tambang langsung, keuntungan jadi tiga kali lipat dengan nilai sekitar Rp240 miliar. Terdakwa Salim juga menawarkan kerjasama dalam bidang tambang  batu bara tersebut  ke Cecilia dengan keuntungan senilai 10 persen dari nilai kerjasama,” terang JPU Ali.

Saat itu, Cecilia juga diminta untuk menyetorkan uang sebesar Rp8 miliar. Alasannya, uang tersebut akan digunakan sebagai saham perusahaan tambang batubara yang masih diurus oleh terdakwa Salim.

“Terdakwa Salim berjanji akan membuatkan akta kerjasama dan juga mengatakan bahwa tambang batu bara tersebut akan diatasnamakan istrinya yaitu saksi Kho Suharwati,” bebernya.

Baca Juga:  PBNU: Indonesia sudah darurat terorisme dan radikalisme

Usaha Salim membujukrayu Cecilia bahkan terus dilakukan dengan menggelar pertemuan sebanyak enam kali. Bahwa setelah enam kali pertemuan tersebut, akhirnya membuat Cecilia tertarik dengan janji-janji yang disampaikan oleh terdakwa Salim.

“Lalu Cecilia mentransfer uang ke rekening terdakwa Salim sebanyak empat kali dengan nilai total sebesar Rp8,6 miliar. Namun ternyata sampai saat ini Cecilia belum dibuatkan akta kerjasama sebagaimana dijanjikan oleh terdakwa Salim,” ungkap JPU Ali.

JPU dari Kejari Surabaya ini juga membeberkan bahwa terdakwa Salim sampai saat ini juga tidak pernah memberikan keuntungan sebesar 10 persen seperti yang dijanjikan kepada Cecilia.

“Melalui somasi sebanyak dua kali Cecilia meminta uang tersebut dikembalikan, namun terdakwa Salim banyak alasan. Akibat perbuatan terdakwa Salim, Cecilia sebagai korban mengalami kerugian sebesar Rp8,6 miliar. Perbuatan terdakwa Salim tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP,” pungkas JPU Ali.

Usai sidang, terdakwa Salim menolak memberikan komentar saat diwawancarai perihal kasus yang menjeratnya. Bahkan terdakwa Salim terlihat terburu-buru meninggalkan gedung PN Surabaya.@rofik