Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Palsukan akta waris mendiang istri, Datuk Iksan Marsudi diadili
Datuk Iksan Marsudi saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (15/08/2019). FOTO: ROFIK-LICOM
HEADLINE DEMOKRASI

Palsukan akta waris mendiang istri, Datuk Iksan Marsudi diadili 

LENSAINDONESIA.COM: Datuk Iksan Marsudi (49) harus duduk dikursi pesakitan Pengadilan Negeri Surabaya sebagai terdakwa pemalsuan akta waris.

Dalam sidang pembacaan dakwaan, Kamis (15/08/2019) disebutkan bahwa pemalsuan akta waris ini dilakukan terdakwa sesaat setelah istrinya meninggal dunia.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis mejelaskan, kasus ini berawal saat Datuk menikahi Gaby Silvy Fauziah pada 30 Juni 2005.

Namun rumah tangga mereka tak berlangsung lama, sebab Gaby meninggal dunia di usia ke 71 tahun karena sakit pada 1 Agustus 2005.

“Bahwa Gaby Silvy Fauziah mempunyai satu adik kandung bernama Anthonia Meulemans,” ujar jaksa Darwis saat membacaka surat dakwaan.

Kemudian pada 2006, lanjut Darwis, Anthonia mengajukan gugatan intervensi terhadap Datuk dan telah berkekuatan hukum tetap atau inchraht.

“Telah diputus sebagaimana putusan Pengadilan Negeri Surabaya nomor 277/Pdt.G/2006/PN.Sby jo putusan Pengadilan Tinggi Surabaya nomor 109/Pdt.G/2008/PT.Sby dan telah berkekuatan hukum tetap yang menyatakan bahwa yang berhak atas semua warisan Gaby Silvy Fauziah yaitu adik kandungnya yaitu Anthonia Meulemans,” bebernya.

Namun ternyata Datuk tak terima atas putusan PN Surabaya dan PT Surabaya yang mengalahkan dirinya dalam gugatan tersebut.

Karena gelap mata akhirnya Datuk nekat mengajukan permohonan penetapan waris ke Pengadilan Agama Surabaya pada Maret 2017.

Dalam permohonan itu, Datuk yang tercatat sebagai warga Jalan Darmo Permai Timur 5/14 Surabaya itu menyatakan, bahwa almarhum Gaby Silvy Fauziah tidak memiliki saudara kandung.

“Dalam permohonannya di Pengadilan Agama, terdakwa Datuk tidak pernah mencantumkan putusan PN Surabaya dan PT Surabaya, sehingga putusan menetapkan bahwa ahli waris adalah terdakwa Datuk,” tegas JPU Darwis.

Usaha Datuk pun membuahkan hasil. Buktinya dengan bermodal penetapan Pengadilan Agama Surabaya, pria lulusan SMA itu berhasil mengausai obyek tanah di Bendul Merisi Besar Timur Nomor 57C Surabaya.

Baca Juga:  Polisi tangkap kakek-nenek yang sering pesta sabu di kamar mandi

“Perbuatan terdakwa Datuk diatur dan diancam pidana dalam Pasal 266 ayat 1 dan 2 KUHP atau Pasal 242 ayat 1 KUHP,” pungkas JPU Darwis.

Usai surat dakwaan dibacakan, melalui kuasa hukumnya Datuk meminta waktu dua minggu untuk mengajukan eksepsi. Namun majelis hakim yang diketuai Anne Rusiana menolak dan hanya memberikan waktu satu minggu.

“Terlalu lama kalau dua minggu. Saya kasih waktu satu minggu ya untuk mengajukan eksepsi,” kata hakim Anne.

Tak hanya itu, Datuk juga akan mengajukan penangguhan penahanan kepada majelis hakim. “Kami juga akan mengajukan penangguhan penahanan menjadi tahanan kota minggu depan,” kata kuasa hukum Datuk.@rofik