Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Pengadilan Negeri Surabaya tak serius eksekusi kepengurusan Gereja Bethany?
Gereja Bethany di Jl Nginden, Surabaya. FOTO: ISTIMEWA
HEADLINE DEMOKRASI

Pengadilan Negeri Surabaya tak serius eksekusi kepengurusan Gereja Bethany? 

LENSAINDONESIA.COM: Pengadilan Negeri Surabaya dinilai tak serius dalam menjalankan eksekusi terhadap kepengurusan Gereja Bethany.

Sejak gagal melakukan eksekusi kepengurusan gereja yang terletak di Jl Nginden Intan Timur I Surabaya 2 tahun lalu, sampai saat ini PN Surabaya tidak melakukan upaya eksekusi lagi. Bahkan terkesan membiarkan kasus ini ‘ngendon’ begitu saja.

Dikekatui, dalam sengketa kepengurusan dalam putusan yang dimenangkan Pendeta Leonard Limanto, PN Surabaya tercatat dua kali melakukan rapat koordinasi (takor) eksekusi.

Sebelumnya, pada 26 Juli2017 lalu eksekusi kepengurusan Gereja Bethany gagal dilakukan, karena tim jurusita PN Surabaya beralasan bahwa ada perlawanan dari massa yang mengaku sebagai jemaat Gereja Bethany.

Saat itu, massa menolak eksekusi dengan cara berorasi dan membentangkan sejumlah poster di depan Gereja Bethany. Dalam orasinya, massa mengira bahwa eksekusi saat itu merupakan eksekusi mengambil alih seluruh aset Gereja Bethany.

Padahal faktanya, eksekusi dilakukan hanya untuk pengambilalihan kepengurusan Gereja Bethany dari pendeta Abraham Alex Tanuseputra ke pendeta Leonard Limanto dan Gereja Bethany yang sekarang ini dikuasai oleh Aswin Tanuseputra, anak dari pendeta Alex.

Sementara itu saat dikonfirmasi perihal tak kunjung dieksekusinya sengketa kepengurusan Gereja Bethany, Hanapie yang merupakan kuasa hukum pendeta Leonard Limanto tak menyangkalnya.

“Iya benar mas, sejak eksekusi gagal dilakukan pada 2017 lalu, sampai saat ini eksekusi kepengurusan Gereja Bethany juga belum dilakukan oleh PN Surabaya,” ujarnya, Kamis (15/08/2019).

Menurut Hanapie, setelah eksekusi pada Juli 2017 gagal dilakukan, dirinya hanya bisa menunggu hingga Januari 2018. Karena tidak ada kepastian, kemudian Hanapie mempertanyakan hal itu ke Ketua PN Surabaya yang saat itu dijabat Sujatmiko.

Dari pertemuan dengan Sujatmiko itu, lalu diadakan rakor kedua. Namun lagi lagi rakor kedua tidak ditindaklanjuti dengan pelaksanaan eksekusi.

Baca Juga:  Tak diundang fit and proper tes Bacawali Surabaya, Whisnu Sakti: Saya kan yang menguji

“Begini, rakor kan pernah terjadi dua kali, bagaimana pun rakor kedua itu harus diakui karena ada berita acaranya. Alasan apa lagi kalau tidak dilaksanakan (eksekusi)? Harapan kami agar segera dieksekusi kepengurusan Gereja Bethany demi kepastian hukum “tegasnya.

Hanapie juga menegaskan, bahwa eksekusi ini bukan untuk mengambil alih atau menyita aset Gereja Bethany. Menurutnya, eksekusi ini merupakan eksekusi kepengurusan jabatan dari pendeta Abraham Alex Tanusaputera ke pendeta Leonard Limanto.

“Ini sama sekali bukan eksekusi aset. Ini hanya eksekusi kepengurusan saja,” jelasnya.

Terpisah, Martin Ginting, Humas PN Surabaya enggan memberikan penjelasan soal tidak kunjung dieksekusinya kepengurusan Gereja Bethany.

Ginting saat itu sempat meminta agar wartawan bersabar dalam meminta jawaban konfirmasi. “Sabar ya mas,” katanya.

Namun selanjutnya beberapa kali pesan singkat dan panggilan tidak mendapat respon dari Ginting.

Beberapa hari kemudian, Ginting mengaku tengah berada di Jakarta untuk mengikuti acara pelatihan. “Saya lagi di Jakarta selama 4 hari acara pelatihan. Coba tanya ke panitera saja langsung,” sebutnya.

Perlu diketahui, sengkete pengurus Gereja Bethany antara pendeta Abraham Alex Tanuseputra dan Leonard Limanto terjadi sejak 2012 silam.

Setelah kasusnya disidangkan, PN Surabaya memerintahkan jurusita untuk mengeksekusi pengurus Majelis Pekerja Sinode Gereja Bethany yang berada bawah pendeta Abraham Alex Tanuseputra.

Tapi saat ini kepengurusan Gereja Bethany sudah berganti dan tidak lagi di bawah pendeta Alex Tanuseputra. Melainkan, sekarang kepengurusan Gereja Bethany saat ini berada di bawah Aswin Tanuseputra, anak dari Alex Tanusaputra.@rofik