Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Prodi Magister Ilmu Forensik Pascasarjana Unair latihan Olah TKP
Aiptu Pudji Hardjanto, S.H., M.Si menyampaikan materi di acara Workshop Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) “Crime Scene Investigation and Forensic Identification” di Unair Surabaya, Kamis (15/08/2019). FOTO: unair
EDUKASI

Prodi Magister Ilmu Forensik Pascasarjana Unair latihan Olah TKP 

LENSAINDONESIA.COM: Program Studi Magister Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menggelar Workshop Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) “Crime Scene Investigation and Forensic Identification”, Kamis (15/08/2019).

Pelatihan yang bertempat di Ruang 205 lantai II Gedung Sekolah Pascasarjana ini diikuti 20 peserta yang terdiri dari mahasiswa program studi Magister Ilmu Forensik dan juga mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Forensik dan Medikolegal Uniair menghadirkan Tim
INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) Polrestabes Surabaya, Aiptu Pudji Hardjanto, S.H., M.Si sebagai pembicara.

Pudji yang didampingi dua anggota INAFIS Bripka Erfan dan Brigpol Yuga memaparkan pentingnya Olah TKP dalam mengungkap suatu perkara tindak pidana.

Bahkan menurut penulis buku “TKP Bicara” ini, bahwa implementasi segala bidang keilmuan forensik dapat ditemukan di TKP.

Oleh sebab itu, jelas dia, pelatihan Olah TKP seperti ini dinilai saIingat penting dan esensial untuk diikuti oleh seluruh lini bidang ilmu keforensikan.

“TKP adalah tempat ditemukannya tindak pidana, tempat lain ditemukannya barang bukti dan atau tempat lain yang ada hubungannya dengan tindak pidana. Oleh sebab itu, TKP merupakan sumber utama dalam pengungkapan suatu perkara,” paparnya.

Dalam workshop ini, Pudji Bripka bersama Erfan dan Brigpol Yuga juga memperagakan secara cara Olah TKP dan indentifikasi di dapan para peserta.

Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Unair Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, drh., M.Kes mengatakan, workshop ini diselenggarakan sebagai bentuk komitmen dan kepedulian Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga terhadap pengembangan pengetahuan dan skill civitas akademika Universitas Airlangga agar dapat unggul dan siap bersaing di era Revolusi Indusitri 4.0.

“Ini juga sebagai upaya untuk terus mempersiapkan Program Studi Magister Ilmu Forensik Universitas Airlangga untuk dapat terhubung dengan jaringan forensik Internasional,” sebutnya saat memberi sambutan.

Baca Juga:  Survei IPOL Indonesia, elektabilitas Cawali Surabaya Whisnu Sakti dan Eri Cahyadi tertinggi

Ketua Program Studi (KPS) Magister Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Dr. Ahmad Yudianto, dr., Sp.F(K), S.H., M.Kes, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut juga mengemukakan hal yang sama, tentang pentingnya pelatihan seperti ini dan mengapa perlu diikuti. Sebab, kata dia, pengetahuan seperti ini tidak di dapat dalam perkuliahan konvensional.

“Pelatihan Olah TKP, seperti yang diceritakan Pak Pudji kepada saya, sebenarnya memakan waktu tiga bulan. Dan biasanya hanya diadakan pada instansi tertentu. Jadi aya rasa sangat penting sekali peserta untuk mengikuti pelatihan ini, karena para peserta belum tentu mendapatkan materi seperti ini saat di perkuliahan,” ujar Dr. Ahmad Yudianto.

Latar belakang inilah yang juga mendasari panitia kegiatan mengadakan pelatihan ini.

“Tujuan awal kami mengadakan pelatihan ini adalah untuk mengembangkan kualitas lulusan prodi magister ilmu forensik dan juga untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi para peserta terkait Olah TKP dan implementasi ilmu forensik di lapangan.” ujar Ito Rantas, Ketua Pelaksana Kegiatan.

Pelatihan ini juga diharapkan dapat mempererat solidaritas dan sinergitas antar berbagai ahli keforensikan. Sehingga dapat memupuk kerja sama yang baik saat para peserta sudah terjun ke lapangan di masa mendatang.

Para peserta sepertinya telah memahami bahwasanya pelatihan ini begitu penting. Sehingga antusiasme tiap peserta begitu tampak pada saat pendaftaran.

“Begitu poster di sounding, jumlah pendaftar langsung membludak. Banyak sekali yang ingin mendaftar. Tetapi karena kami hanya membatasi 20 peserta karena pelatihan ini membutuhkan interaksi yang intens, sehingga kami tidak bisa menerima semua pendaftar,” ucap Reinaldy Dimpudus, salah satu panitia acara ini.

Chairil Anjasmara, salah satu panitia kegiatan juga berharap, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut, tidak berlangsung saat ini saja.

Baca Juga:  Intoleransi sama dengan menolak hak-hak dasar yang dijamin oleh konstitusi

“Pelatihan ini berlangsung selama sehari, diawali dengan seminar mengenai Crime Scene Investigation dan Pemeriksaan Sidik Laten, kemudian dilanjutkan dengan workshop tentang Penanganan dan Pembuktian Sidik Laten di TKP, serta Pelatihan Pembuatan Sketsa TKP sebagai salah satu prosedur Olah TKP secara ilmiah (scientific investigation),” sebut Dina Karimah Putri, panitia sekaligus pembawa acara saat menjelaskan teknis pelatihan.@rofik