Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Gara-gara sepatu Rp6 Juta, mantan Kepala Keamanan Grup PT Siemens Indonesia diseret ke pengadilan
Kantor PT Siemens Indonesia di Arkadia Office Park, Jalan Simatupanag Kav. 88 Jakarta Selatan ini, Vris Ardian pernah menjabat Kepala Keamanan bergaji Rp50 juta sebulan. @dok. istimewa
HEADLINE

Gara-gara sepatu Rp6 Juta, mantan Kepala Keamanan Grup PT Siemens Indonesia diseret ke pengadilan 

LENSAINDONESIA.COM: PT Siemens Indonesia (SI) ‘menjebloskan’ mantan karyawannya, yang kepala keamanan ke sel tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, hanya karena kasus dugaan mengganti bukti kuintansi jatah pembelian jaket musim dingin diubah untuk beli sepatu saat ditugaskan ke Beijing, senilai Rp 6,8 juta.

Kasus dugaan pelanggaran pidana Pasal 378 KUHP masalah pemalsuan itu mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu besok, 22 Agustus 2019.

Vris Adianto (44), sebagai mantan kepala keamanan di perusahaan grup PT Siemens Indonesia, di AP berkantor di Arkadia Office Park, Tower C Jalan Simatupang Kav 88, Jakarta Selatan, sudah sejak 1 Agustus 2019, menghuni Rumah Tahanan (Rutan) Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Sebelumnya, kasus ini disidik Polsek Pasar Minggu, Polres Jakarta Selatan. Vris selama penyidikan berstatus tahanan kota.

Ayah dua anak itu mengaku tidak menyangka nasibnya setelah mengabdi selama 12 tahun di grup PT Siemens Indonesia hingga menduduki jabatan kepala keamanan, akhirnya berujung terancam dijebloskan ke penjara LP (Lembaga Pemasyarakatan).

“Sebenarnya saya ini sudah dipecat sejak 2017. Itu pun tanpa pesangon sama sekali. Mungkin karena saya ngotot memperjuangkan hak uang pesangon 12 tahun kerja hingga menggugat perdata di pengadilan meski kalah, sehingga saya dilaporkan polisi dengan tuduhan pidana ini,” keluh Vris, ditirukan pengacaranya dari LBH Karawang, Djajat Djarojat, SH kepada LensaIndonesia.com, Selasa (22/8/2019).

Ikhwal kasus yang dialami Vris, ayah dua anak itu, menurut Djajat, terjadi tiga tahun lalu, tepatnya 2016. Saat itu, Vris dua kali –Juli dan Desember 2016– ditugaskan perusahaan ke Beijing 3-4 hari. Ketika itu Vris mendapatkan dana kasbon dari perusahaan di antara untuk pembelian pakaian sejenis jaket musim dingin seharga 500 USD atau sekitar Rp6,8 juta.

Baca Juga:  PDIP Jatim gelar fit and proper test 126 calon kepala daerah

Saat kembali dari tugas di Beijing, Vris menyerahkan bukti-bukti kuitansi pengunaan anggaran di antaranya bukan kuitansi pembelian pakaian musim dingin, tapi sepatu. Vris berdalih tidak beli jaket sesuai kasbon, namun beli sepatu karena alasan sudah punya jaket musim dingin.

Karena perusahaan memberi penilaian buruk dan mengangap Vris bertindak tidak jujur, sehingga Direktur Utama Josef Winter yang WNA Jerman lewat HRD Ira Fortanti mengeluarkan surat pemberhentian dengan tidak hormat alias surat pemecatan pada 17 Agustus 2017. Surat pemberhentian ini diterimanya setelah sebelumnya Vris menolak ketika diminta mengundurkan diri.

“Saya dipecat begitu saja tanpa melalui prosedur sesuai ketentuan Depnaker, di antaranya tidak ada surat peringatan pertama, kedua dan ketiga. Padahal, saya watu mengubah beli sepatu sudah minta ijin lisan,” demikian pengakuan Vris, sebagaimana disampaikan pengacaranya.

Merasa diperlakukan tidak adil, dipecat sepihak dan tidak diberi pesangon, padahal gaji kliennya sebulan mencapai Rp50 juta, akhirnya Vris mengajukan gugatan di Pengadilan Hubungan Industrial. Proses gugatan perdata ini, Vris dikalahkan alias permohonannya tidak dikabulkan oleh pengadilan. Namun, perusahaan diwajibkan membayar Rp200 juta. Vris dan pihak perusahaan sebagai termohon sama-sama mengajukan kasasi.

Di tengah proses kasasi itu, sekitar April 2019, Vris ditetapkan sebagai tersangka di Polsek atas laporan pihak perusahaan dibawa naungan PT Simens Indonesia yang Dirut-nya sudah berganti WNA asal India, Prakash Chandran.

Setelah berkas penyidikan dan barang bukti oleh Polsek dilimpahkan ke kejaksaan, akhirnya Vris ditahan di Rutan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. “Sejak dipecat, klien saya tidak memiliki pekerjaan tetap, padahal dia harus menghidupi isteri dan dua anak,” kata Djajat.

Djajat berharap, tuduhan pidana dengan nilai yang tidak masuk akal dibanding besar gaji kliennya sekitar Rp50 juta per bulan, diharapkan tidak terbukti dalam fakta persidangan. Pengakuan pihak Vris ini, belum diperoleh klarivikasi dari pihak perusahaannya yang grup PT Siemens Indonesia. @jrk

Baca Juga:  BPK minta Dirut Pertamina setor Rp 234,82 miliar untuk negara, ada apa?