Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Cegah perdagangan orang dan kekerasan anak, Flores Timur jadi target proyek percontohan
Ketua Komisi VIII DPR RI, Muhammad Ali Taher bersama Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Pribudiarta Nur Sitepu melakukan kunjungan di Desa Lamakera, Kab. Flores Timur, NTT. @dok.netbamsur
BALI / NTB / NTT / PAPUA

Cegah perdagangan orang dan kekerasan anak, Flores Timur jadi target proyek percontohan 

LENSAINDONESIA.COM: Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Pribudiarta Nur Sitepu bersama Ketua Komisi VIII DPR RI, Muhammad Ali Taher melakukan kunjungan di Desa Lamakera, Kab. Flores Timur, NTT. Kunjungan ini untuk mendorong Flores Timur jadi proyek percontohan kabupaten Layak Anak dan Ramah Perempuan.

“Kunjungan kami bertujuan untuk menjadikan Flores Timur sebagai Wilayah Proyek Percontohan Kabupaten Layak Anak, Kabupaten Ramah Perempuan. Sekaligus, menekan kasus Perdagangan Orang (Humas Trafficking). Dan, memastikan tumbuh kembang anak-anak di Lamakera sudah terlindungi dengan baik,” jelas Pribudiarta, Rabu (28/8/2019).

Ali Taher menerangkan bahwa Flores Timur merupakan kabupaten yang kaya akan peradaban, adat, budaya, religiusitas. Masyarakatnya dengan berbagai agama bisa hidup bersaudara dan saling berdampingan. Namun, Flores Timur juga banyak memiliki persoalan sosial yang harus diselesaikan.

“Saya merupakan putra Flores Timur yang akan selalu berbakti bagi kampung halaman tercinta. Saya akan terus berupaya menggandeng Kementerian/Lembaga untuk memajukan Flores Timur. Di antaranya, Kemen PPPA dan Kementerian Sosial,” imbuhnya.

“Kami akan menerapkan program meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Seperti usaha ekonomi produktif, memberikan perhatian khusus pada anak maupun kaum disabilitas, membangun sarana pra sarana seperti panti asuhan untuk memberi perhatian kepada anak-anak dan fakir miskin khususnya di Flores Timur,” jelas Ali Taher.

Ali Taher juga menambahkan bahwa ia akan melakukan intervensi program yang mengadopsi kebijakan Pemerintah Brazil. Yaitu, Bolsa Familia (keranjang keluarga) yang menghasilkan satu kartu untuk tiga manfaat sekaligus. Meliputi, kesehatan, pendidikan dan sosial bagi masyarakat di Flores Timur.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2017, menurutnya, menunjukan bahwa 30,5 persen atau 79,6 juta jiwa penduduk Indonesia adalah anak-anak.

Baca Juga:  Pelantikan Rektor Undar Jombang dinilai cacat hukum

“Di sisi lain, anak merupakan kelompok rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan baik fisik maupun psikis. Tentu, dapat memengaruhi proses tumbuh kembangnya. Padahal, masa depan bangsa ada di tangan anak-anak kita,” terang Pribudiarta, menyampaikan sambutan pada acara “Pentas Ceria Anak-Anak Lamakera : Membentuk Anak Indonesia yang Unggul”.

Terlindungi Dari Diskriminasi dan Kekerasan
Untuk itu, Negara melalui Kemen PPPA menghadirkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang bertujuan memastikan anak-anak dapat tumbuh, berkembang dan berpartisipasi dalam proses pembangun bangsa. Serta terlindungi dari berbagai diskriminasi dan kekerasan.

“Saya harap acara Sosialisasi Undang-Undang tentang Perlindungan Anak melalui Panggung Ceria ini, dapat menggugah dan meningkatkan kepedulian setiap individu, baik orang tua, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media massa, serta pemerintah pusat dan daerah,” tutur Pribudiarta.

Ia juga menekankan pentingnya peran, tugas dan kewajiban masing-masing elemen tersebut dalam memberikan
perlindungan dan pemenuhan hak anak khususnya di Flores Timur.

Pribudiarta juga berpesan anak-anak di Lamakera untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat meraih prestasi, rajin beribadah, dan hormat pada orangtua dan guru. @bamsur