Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Sengaja tabrak wali murid Marlion School, Imelda hanya divonis hukuman percobaan
Terdakwa Imelda Budianto saat mendengar pembacaan vonis hakim di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (28/08/2019). FOTO: ROFIK-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Sengaja tabrak wali murid Marlion School, Imelda hanya divonis hukuman percobaan 

LENSAINDONESIA.COM: Imelda Budiarto wali murid Marlion Internasional School Surabaya divonis pidana 5 bulan tanpa kurungan dengan masa percobaan 10 bulan.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya menyatakan, Imelda terbukti secara sah dan meyakinkan telah dengan sengaja menabrakkan mobilnya pada Lauw Vina alias Vivi, seorang wali murid yang hendak menjemput anaknya.

Dalam amar putusannya, Ketua Majelis hakim Yulisar menyatakan, terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak penganiayaan sebagai mana diatur dalam pasal 351 ayat (1) KUHP.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Imelda Budiarto selama lima bulan tanpa harus menjalani kurungan dengan masa percobaan 10 bulan,” kata Yulisar dalam sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (28/08/2019).

Vonis ini lebih ringan dari tuntuntan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis yang sebelumnya menuntut pidana 6 bulan dengan masa percobaan 1 tahun.

Atas vonis tersebut, pihak korban mengaku sangat kecewa. Sebab, dengan apa yang dialami oleh kliennya tentunya vonis tersebut dianggap tidak mencerminkan rasa keadilan.

“Cobalah kalau keluarga mereka mengalami seperi klien saya tentu mereka nggak akan terima diginikan,” ujar Andry usai sidang.

Masih kata Andry, sejak awal penanganan kasus ini, korban sama sekali tidak mendapatkan keadilan. Hal itu bisa dilihat dari tidak ditahannya terdakwa baik oleh pihak kepolisian, Jaksa maupun hakim. “Kasus seperti ini banyak, dan sebagian besar tersangka ditahan,” tambahnya.

Meski begitu, Andry tetap menghormati putusan hakim ini, terlebig lagi pihak Jaksa juga tidak menempuh upaya banding atas vonis ini. “Jadi mau diapain lagi, kita cuma bisa pasrah saja. Mudah-mudahan kasus seperi ini tidak dialami oleh yang lainnya,” ujarnya.

Perlu diketahui, dalam dakwaannya Darwis menyebutkan bahwa perkara ini terjadi pada Jumat 25 Januari 2019 sekitar pukul 10.00 Wib di Marlion Internasional School.

Baca Juga:  Pelantikan Jokowi dipastikan aman, Tetap waspada dari gangguan

Saat itu, terdakwa sedang menjemput anaknya di Marlion Internasional School dengan mengendarai mobil Sienta bersama suaminya yang duduk di kursi penumpang.

Setelah menjemput anaknya dan hendak keluar dari parkiran, mobil terdakwa terhalang mobil saksi Lauw Vina sehingga tidak bisa lewat.

Saat itu, saksi Lauw Vina hendak mengganti pakaian anaknya yang ada di sekolah Marlion dan memarkirkan mobilnya secara pararel dan selanjutnya langsung masuk ke gedung sekolah.

Kemudian terdakwa membunyikan klakson berkali-kali hingga datang saksi Agus Supriyanto yang selanjutnya memanggil saksi Lauw Vina dan meminta agar saksi Lauw Vina memindahkan mobilnya karena menjalani jalan.

“Kemudian saksi Lauw Vina berjalan menuju ke mobilnya dan melewati mobil terdakwa, saat itu terdakwa membuka kaca mobilnya dan mencaci maki saksi Lauw Vina,” ujar Darwis dalam dakwaannya.

Namun saksi Lauw Vina tidak menghiraukannya lalu memarkirkannya. Setelah saksi Lauw Vina memarkirkan mobilnya, kemudian berjalan melewati mobil terdakwa. Saat itu, terdakwa membunyikan klakson secara terus menerus dan saksi mengacungkan jempol ke arah depan mobil terdakwa.

“Bahwa dengan terbawa emosi saat saksi Lauw Vina berjalan searah dengan mobil terdakwa dan terdakwa menjalankan mobilnya ke arah saksi Lauw Vina hingga mobil terdakwa menyerempet saksi Lauw Vina dan spion mobil terdakwa mengenai lengan kanan Lauw Vina sehingga membuat saksi terjatuh sedangkan terdakwa tetap mengendarai mobilnya,” beber Darwis dalam dakwaannya.@rofik