Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
KH Nasaruddin Umar: Berdakwahlah dengan santun seperti dakwah yang dilakukan Nabi
Imam Besar Masjid Isitiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. (istimewa)
LENSA DEMOKRASI

KH Nasaruddin Umar: Berdakwahlah dengan santun seperti dakwah yang dilakukan Nabi 

LENSAINDONESIA.COM: Hakikat berdakwah adalah memberikan pencerahan dan pemahaman agama kepada jamaah sesuai Alquran yang identik dengan kesantunan, akhlakul karimah, dan rahmatan lil alamin. Karena itu, para pendakwah atau mubalig harus mengedepankan hakekat dakwah tersebut dengan meniru cara berdakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yaitu berdakwah dengan santun, juga cara dakwah para Wali Songo.

“Jadilah mubaligh yang enak, yang sejuk, yang baik, mubalig yang mengajak dengan cara Nabi, dengan cara para aulia, ulama besar, maka semakin arif seseorang dalam berdakwah, itu menandakan dirinya semakin pintar,” ujar Imam Besar Masjid Isitiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, di Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Selain itu, lanjut Nasaruddin, berdakwah yang baik adalah berdakwah yang membawa kesejukan, kedamaian, dan ketenangan, bukan berdakwah untuk memecah belah, menjelekkan dan menyakiti orang lain. Hal itu pernah dilakukan para Wali Songo yang selalu menjadi tamu VVIP kerajaan lokal waktu itu karena para wali itu tidak pernah dianggap sebagai ancaman, apalagi akan melakukan kudeta.

“Gak usah berdakwah justru justru menyakiti, apalagi mengusir orang. Kalau belum apa-apa sudah ditakuti orang, itu bukan mencontoh Nabi, Wali Songo. Coba bandingkan dengan Nabi, Wali Songo, dan ulama kita terdahulu, baru melihat wajahnya saja sudah mengesankan, rindu, dan adem sekali,” terang Mantan Wakil Menteri Agama RI ini.

Ia mengakui saat ini banyak orang yang mengaku mubalig, tetapi kelakuannya bukan mencerminkan sebagai seorang mubalig. Apalagi kadang, mereka yang baru membaca Alquran terjemahan, sudah mengklaim sebagai seorang mubalig atau ulama. Alhasil, mubalig seperti ini justru membuat perpecahan, ketakutan, dan korban di masyarakat.

“Akan banyak korban berguguran dari mulut seorang mubalig yang seperti itu. Seorang mubalig itu tidak akan pernah menyakiti publik dengan ucapannya. Saya pastikan itu bukan mubalig kalau ceramahnya berisi adu domba, ujaran kebencian, apalagi fitnah. Sekali lagi itu bukan mubalig, bisa jadi dia provokator,” ungkapnya.

Baca Juga:  Ketua Harian Halal Institute, H. SJ Arifin: "MUI dan Kemenag layak diapresiasi kinerja terkait UU JPH"

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini menyarankan, masyarakat harus bisa membedakan mana mubalig yang baik, dan mana mubalig yang tidak baik. Apalagi saat ini ada banyak orang pintar baru dan orang kaya baru yang suka mendemonstrasikan kelebihannya, tetapi mentalitasnya tidak mendukung, serta kapasitasnya tidak dimiliki.

Karena itu, Nasaruddin mengajak para mubalig untuk belajar lebih dalam lagi agar ilmu pengetahuan dan mentalitasnya berbanding lurus.

“Jangan kegedean ilmunya, tapi mentalitasnya kecil. Gak imbang itu,” tandasnya.@licom