LENSAINDONESIA.COM: Petani asal Madura mengancam akan membuang garam hasil produksi mereka ke Jl Pahlawan Surabaya hingga menjadikan kantor Gubernur Jawa Timur seperti lautan garam. Hal ini akan dilakukan bila tuntutannya tidak dikabulkan.

Para petani yang berdemo sembari membawa 3 truk berisi garam tersebut merasa kesal karena selama ini tidak ada regulasi dari yang mengatur harga garam sehingga membuat harga garam produksi petani anjlok serta banyaknya peredaran garam impor yang membuat garam dari petani tidak terserap di pasaran.

“Kami menyatakan secara terbuka. Kami minta sebuah kepastian, bukan hanya janji – janji. Harus hari ini (pemeritah) menyepakati harga dan memberi harga kepastian di tiap kelas garam. Kita akan beri waktu 15 menit kedepan, jika tidak ada jawaban akan kami jadikan tempat ini (kantor gubernur Jatim) seperti lautan garam, setuju!!,” seru Muhammad Yanto, orator Forum Petani Garam Madura (FPGM) dalam aksi demo yang digelar di halaman kantor Gubenur Jatim, Jl Pahlawan, Surabaya, Rabu siang (04/09/2019).

Ratusan massa FPGM yang juga merupakan gabungan dari Kerukunan Pemilik Lahan Tambak Garam (KPLTG) dan Asosiasi Penggaraman Nasional Sampang (APNS) ini menuntut kepastian harga di tiap kelas garam, mulai dari garam kualitas (KW) 1, KW 2, hingga KW 3.

“Kami juga menuntut untuk kuota serapan garam jadikan lebih besar dari tahun kemarin,” kata para petani.

Selain berorasi, dalam aksinya, para petani juga membentangkan spanduk bernada protes bertuliskan ” 1. Penyerapan dan harga yang layak dan manusiawi, 2. Stop impor dan meniadakan sisa kuota importasi garam tahun 2019, 3. Mengecam keras panitia pelaksana kunjungan presiden ke kupang atas contoh garam madura , dan mencabut pernyataan presiden.”

Sekitar 20 perwakilan petani sempat masuk ke kantor gubernur untuk menemui Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak untuk menyampaikan tuntutan.

Setelah, hampil 5 jam menunggu akhirnya Emil bersedia menemui para demonstran.

Kepada para petani, Emil menyampaikan bahwa keputusan mengenai harga garam ada di ditangan presiden. Dan saat ini, kata dia, keputusan tersebut masih dalam proses.

“Kita dapat komitmen (soal harga garam) yang riil, tapi ini belum selesai. Karna kita sedang memperjuangkan lebih, yaitu ada aturan pemerintah yang sudah di proses. Untuk serapan garam harus sesuai komitmen dan dipastikan harganya naik,” kata Emil.

Setelah mendapat penjelasan dari Emil, para petani garam asal Madura tersebut langsung membubarkan diri.@arga