Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Mahasiswa Unipra ciptakan mesin shredder sampah otomatis hingga drone tenaga surya
Kepala Jurusan Fakultas Teknik Industri Unipra Surabaya, Wahyu Eko Cahyono, ST. MT memamerkan drone tenaga surya karya mahasiswanya. FOTO: arga-LICOM
EDUKASI

Mahasiswa Unipra ciptakan mesin shredder sampah otomatis hingga drone tenaga surya 

LENSAINDONESIA.COM: Mahasiswa Fakultas Teknik Industri Universitas WR Supratman (Unipra) Surabaya berhasil menciptakan enam mesin canggih dan drone bertenaga surya.

Dari tujuh karya mahasiswa tersebut, dua diantaranya telah selesai diuji coba. Yaitu mesin shredder (pengrajang) sampah dengan sensor pengaman otomatis dan mesin pengangkut sampah dari sungai.

Kepala Jurusan Fakultas Teknik Industri Unipra, Wahyu Eko Cahyono, ST. MT mengatakan, enam mesin dan drone tenga surya itu merupakan karya tugas akhir mahasiswa masa perkuliahan 2018/2019.

Menurutnya, karya tugas akhir merupakan syarat mutlak bagi mahasiswa jurusan teknik industri.

“Beberapa mahasiswa berhasil menciptakan produk atau alat yang berorientasi menjadikan pekerjaan manusia menjadi lebih efisien. Tujuh produk yang berbeda fungsi pokok dan manfaatnya ini dikerjakan masing-masing mahasiswa. Maksudnya tiap satu unit produk dikerjakan satu orang mahasiswa beserta dosen pembimbing,” katanya.

Eko Cahyono menyebutkan, tujuh produk atau alat yang dihasilkan para mahasiswa fakultas teknik industri tersebut diantaranya, mesin pengangkut sampah dari sungai dengan menggunakan tenaga surya (solar cell), mesin shredder sampah dengan sensor pengaman otomatis (safety sensor), drone air bertenaga surya, mesin pemotong bahan pembuat kripik, mesin sangrai biji kopi sekaligus penggilingnya, remote lampu dengan menggunakan bluetooth dan oven portable.

“Dua diantaranya telah diuji coba, yakni mesin pengangkut sampah dari sungai dengan solar cell dan mesin pengrajang sampah dengan sensor pengaman otomatis,” ungkapnya.

Menurut Eko Cahyono, mesin pengrajang sampah karya mahasiswa Unipra sangat cocok diterapkan di tengah masyarakat, sebab mesin tersebut dilengkapi sensor pengaman otomatis atau safety sensor. Dimana sensor akan berkerja secara otomatis bila ada jari atau bagian tubuh penggunanya mendekati pisau pengrajang.

“Mesin akan mati dengan sendirinya bila ada tangan atau bagian tubuh penggunanya melewati sensor yang dipasang di dekat pisau pengrajang. Jadi sangat aman bagi penggunanya,” paparnya.

Baca Juga:  Lagi, Kabupaten Jombang raih penghargaan Peduli HAM 2019
Mesin pengancur sampah dengan sensor pengaman otomatis karya mahasiswa Unipra Surabaya. FOTO: arga-LICOM

Keunggulan lain dari mesin pengrajang sampah ini yaitu putaran pisau pengrajang akan berbalik arah bila mana ada benda keras yang tidak mampu diolah atau dihancurkan.

“Putaran pisau akan langsung berbalik arah untuk mengeluarkan benda keras tadi. Kemudian setelah benda keras itu muncul ke permukaan, pisau pengrajang akan kembali berputar sesuai arah sebelumnya untuk menghancurkan benda keras tersebut sedikit demi-sedikit. Jadi mesin tidak mati tetapi secara otomatis dia akan berkerja untuk menyesuaikan kemampuannya,” jelasnya.

Pembuatan mesin pengrajang sampah ini, kata Eko Cahyono, dirampungkan selama kurang lebih dua minggu oleh para mahasiswa.

“Produk ini dikerjakan selama kurang lebih dua minggu. Biaya yang dibutuhkan total sekitar Rp8 juta. Sekarang sedang menjalani proses pengajuan hak paten,” katanya.

Sedangkan keunggulan mesin pengangkut sampah dari sungai hasil karya mahasiswa Unipra adalah hemat energi dan ramah lingkungan. Sebab mesin yang pengangkut yang mengandalkan kerja conveyor sistem ini menggunakan tenaga surya atau solar cell.

“Mesin ini bisa mempermudah pengangkatan sampah yang terapung diatas sungai atau air. sangat efisien,” kata Dekan Fakultas Teknik Unipra Rini Oktavera, ST. MT.

Menurut Rini, cara kerja mesin ini sangat sederhana, yakni menarik sampah terapung yang sudah terkumpul dengan conveyor.

“Jadi sudah tidak perlu memakai alat biasa seperti serok atau jaring. Mesin ini ramah lingkungan karena mamakai solar cell,” terang Rini sembari menjelaskan cara kerja mesinnya.@arga