Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
13,5 persen penduduk Jatim rawan idap neouropati, apa itu?
Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepidari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Pusat, Dr Manfaluthy Hakim, Sp.S(K) saat memaparkan gejala-gejala neouropati di Hotel JW Marriot Surabaya, Sabtu (14/09/2019). Eld
HEADLINE HEALTH

13,5 persen penduduk Jatim rawan idap neouropati, apa itu? 

LENSAINDONESIA.COM: Sejumlah 13,5 persen atau 2,2 juta penduduk Jawa Timur yang aktif sebagai pengguna internet rawan terkena Neuropati ( gangguan saraf).

Data tersebut diperoleh dari APJII ( Asosiasi Penyelenggara Jasa internet Indonesia) di tahun 2018. Jawa Timur di urutan ke 3 untuk pengguna internet tertinggi di Indonesia.

Dan 93,9 persen dari total pengguna internet, terkoneksi internet melalui gawai. Konkritnya, pengguna internet secara global Iebih dari 8 jam terkoneksi di setiap harinya.

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepidari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Pusat, Dr Manfaluthy Hakim, Sp.S(K) menyampaikan, neuropati jeratan biasa menyerang di bagian tubuh seperti lengan, leher dan bagian tangan.

“Biasanya bagian tubuh tersebut merasa kesemutan, terbakar, kaku, kebas hingga kram. Di samping itu, neuropati juga bisa merusak saraf motorik, sensorik, otonom dan campuran, ujarnya saat seminar kesehatan terkait neuropati yang diselenggarakan P&G Health di Surabaya, Sabtu (14/09/2019).

Sementara itu, Medical and Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health dr Yoska Yasahardja mengatakan, pada Studi Klinis 2018 NENOIN (Penelitian Non Intervensi dengan vitamin neurotropik) memaparkan, konsumsi Vitamin Neurotropik (kombinasi vitamin Bl, B6, dan B12) secara rutin dan berkala terbukti mampu mengurangi gejala neuropati.

“Konsumsi kombinasi Vitamin Neurotropik dengan rutin dan berkala itu cukup.signifikan lho untuk mengurangi gejala neuropati,” tandas dr Yoska.
Survey Nasional Penetrasi Pengguna Internet sesuai Consumer’s Behaviour and Lifestyle Study yang menyebut, di Surabaya ada 72,1 persen responden aktif menggunakan gawai.

Dan sekitar 23,8 persen merasakan gejala kerusakan saraf seperti kesemutan, kebas dan kram di usia 26 hingga 30 tahun.@Eld-Licom

Baca Juga:  Dana desa 2020 naik jadi Rp72 T, Jokowi ingin desa-desa jadi produktif dan padat karya