Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Rawan kemplang pajak, Formasi minta pemerintah percepat penggabungan batasan produksi SKM dan SPM
Sekitar 1.000 ibu-ibu pelinting Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Surabaya yang menggelar aksi sosial menyuarakan hal yang sama di sekitar Monumen Kapal Selam di Jalan Pemuda, Surabaya, Selasa (24/9/2019). Ist
EKONOMI & BISNIS

Rawan kemplang pajak, Formasi minta pemerintah percepat penggabungan batasan produksi SKM dan SPM 

LENSAINDONESIA.COM: Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Formasi) meminta pemerintah mempercepat penggabungan batasan produksi sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM).

Langkah tersebut dipahami akan mendongkrak pendapatan negara lebih besar.

Ketua Harian Formasi Heri Susanto mengatakan, struktur tarif cukai hasil tembakau, khususnya untuk SKM dan SPM, selama ini masih berpeluang untuk dimanfaatkan beberapa pabrikan besar asing demi penghindaran pajak.

“Strateginya adalah membatasi volume produksi mereka agar tetap di bawah golongan 1, yakni tiga miliar batang, sehingga terhindar dari kewajiban membayar tarif cukai tertinggi. Padahal tarif cukai golongan 2 SPM dan SKM lebih murah sekitar 50-60% dibandingkan golongan 1,” papar Heri kepada awak media di Surabaya, Selasa (24/09/2019).

Heri juga berharap ekonomi akan terus tumbuh, khususnya penerimaan negara di bidang industri hasil tembakau juga naik, tanpa mengorbankan pabrikan kecil dan penyerapan tenaga kerja tetap berlangsung.

Sementara itu, di waktu yang sama, dijumpai sekitar 1.000 ibu-ibu pelinting Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Surabaya yang menggelar aksi sosial menyuarakan hal yang sama di sekitar Monumen Kapal Selam di Jalan Pemuda, Surabaya.

Halnya Siti Zulaikah (41) menyampaikan, pengalihan produksi menjadi aksi sosial seperti ini bukan pertama kalinya.

Sebelumnya, di awal bulan September ini, kegiatan produksi rokok SKT di Surabaya, dan kota-kota lainnya di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat pun sempat dialihkan beberapa hari menjadi aktivitas lain seperti pelatihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

“Kami khawatir jika pengalihan produksi seperti awal September akan terjadi lagi. Sebab perekonomian keluarga terancam jika pabrik kami bekerja terus-terusan menghentikan aktivitas produksinya. Pabrik tempat kami bekerja adalah ladang kami. jika terus-menerus berhenti beroperasi, bagaimana nasib kami?” tandasnya.

Penurunan segmen SKT semakin tak terhindarkan. Namun, hal ini makin fatal dari adanya persaingan rokok SKT dengan rokok mesin yang lebih murah. Nampak di pasaran, banyak rokok mesin justru lebih murah dibanding rokok SKT.@Rel-Licom