Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Indonesia dominasi 30 persen sebagai konsumen properti Crown Group
(dari ka-ki) Deputy Project Sales Director Crown Group, Jefry Irawan bersama GM Straegyc & Corporate Communication Indonesia Crown Internasional Holding Group, Bagus Sukmana saat mempresentasikan potensi bisnis di Australia.eld
EKONOMI & BISNIS

Indonesia dominasi 30 persen sebagai konsumen properti Crown Group 

LENSAINDONESIA.COM: Crown Group, pengembang properti besar asal Australia ini mencatat bahwa konsumen dari Indonesia menduduki nomer dua pembeli properti tertinggi setelah Cina.

Penjualan properti Crown Group memang hingga kini 60 persen didominaai pembeli dari Cina. Sedangkan, Indonesia menempati 30 persen, dan sisanya terbagi oleh konsumen asal negara lain.

Deputy Project Sales Director Crown Group, Jefry Irawan mengatakan, dominasi Cina sebagai konsumen Crown Group properti ini dikarenakan karena memang perekonomian mereka cukup bagus selain harga yang ditawarkan bisa diterima oleh mereka.

“Jika dibanding harga properti Hong Kong dan Singapura, masyarakat Cina lebih memilih berinvestasi properti di Australia. Menurut mereka lebih efisien, hemat, aman dan menguntungkan,” jelas Jefry kepada Lensaindonesia.com di sela Crown Group Media Update di Surabaya, Rabu (09/10/2019).

Ia menambahkan, masyarakat Indonesia yang membeli properti Crown Group, kebanyakan mereka digunakan untuk investasi.

“Yah kalau bisa dibilang, konsumen dari Indonesia itu sekitar 70 persen nya itu untuk investasi, sisanya itu mereka yang sedang pindahan atau alasan sekolah,” tandas Jefry.

Di waktu yang sama, GM Straegyc & Corporate Communication Indonesia Crown Internasional Holding Group, Bagus Sukmana menyatakan, selain harga dan kenyamanan, suku bunga kepemilikan propertindi Australia cukup kecil dibanding Indonesia.

“Bagaimana properti di Australia permintaannya minim, jika suku bunga kepemilikan di sana saja hanya berkisar 4,6 hingga 4,8 persen setiap tahunnya,” ujar Bagus.

Dari sisi penjaminan, lanjut Bagus, pembelian properti di Australia, 90 persen menggunakan dana dari Bank.

“Jadi di sana itu penjualan propertinya cukup sehat. Sebab 90 persen belanja properti di sana menggunakan dana dari Bank. Dan pihak developer tak menggoreng atau memainkan harga kepada konsumen yang berujung harga lebih tinggi dan kadang tak sesuai promo nya,” imbuh Bagus.

Baca Juga:  Aliansi kota Santri lawan kekerasan seksual desak Polres Jombang tindaklanjuti laporan pencabulan

Crown Group sendiri memprediksi kenaikan harga properti di Australia bakal mencapai 6 persen hingga Desember 2019 nanti.

Bahkan inflasi di Australia hanya berkisar 1,8 persen. Sekain itu, peningkatan tenaga kerja masih bisa mencapai 8,6 persen hingga tahun 2023. Untuk pertumbuhan penduduk, dari angka kelahiran diprediksi ada kenaikan 1,6 hingga1,7 persen. Lalu untuk penambahan jumlah penduduk bisa mencapai 400 ribuan. diantaranya dari migrasi hingga mencapai 236 ribu.

“Yah di sana itu untuk bekerja sebagai profesi apapun, itu masih layak upahnya. Dan mereka pun sudah bisa tinggal di rumah yang layak kendati masih bersifat sewa. Itu salah satu faktor adanya kenaikan jumlah penduduk sebab dari meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sana,” terang Bagus.@Eld-Licom