Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Bakal calon wali kota Surabaya jadi saksi sidang pencurian DPD Partai Berkarya
Ketua DPD Jatim Partai Berkarya Usman Halim (batik cokelat). FOTO: ROFIK-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Bakal calon wali kota Surabaya jadi saksi sidang pencurian DPD Partai Berkarya 

LENSAINDONESIA.COM: Sidang perkara pencurian di kantor DPD Partai Berkarya dengan terdakwa Supriyadi dan Ridwan kembali digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (16/10/2019).

Dalam sidang dengan agenda keterangan saksi ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maryani Melindawati dari Kejati Jatim menghadirkan Ketua DPD Jatim Partai Berkarya Usman Halim dan Sarman seorang pengurus partai.

Dalam keterangannya, Usman yang mengaku akan maju sebagai calon Wali Kota Surabaya tersebut mengetahui telah terjadi pencurian pada Jumat 19 Juli 2019, saat itu dirinya akan mengambil Ijasahnya yang berada di ruang kerjanya.

“Saat itu saya mau mengambil ijazah saya karena akan mencalonkan diri sebagai walikot, namun kantor terkuncir, sehingga kami menghubungi Pak Sarman (saksi),” terang Usman Hakim.

Usman menjelaskan, setelah dirinya menghubungi saksi Sarman terdakwa Supriyadi datang. Namun dirinya mengaku kaget saat melihat fasilitas kantor sudah kosong.

“Setelah saya menanyakan kepada terdakwa Supriyadi, dirinya mengaku tidak tahu. Sempat saya mintanya agar jujur, namun dirinya tetap mengaku tidak tahu, sehinga kami melapor ke pihak berwajib,” tambahnya.

“Dari hasil penyidikan Polisi, yang melakukan pencurian adalah Heri Siswoyo alias Basir (wakil sekretaris) yang sampai saat ini masih DPO. Kedua terdakwa mengetahui dan mendapat hasil dari penjualan barang yang dibobol,” papar Usman.

Sementara terdakwa Supriadi mengaku bahwa terpaksa menyetujui pembobolan kantor DPD Berkarya tersebut, karena selama bekerja sebagai serabutan tidak mendapat gaji.

“Memang kami perjanjiannya saat bekerja disana tidak mendapat gaji. Namun waktu itu bertepatan dengan hari raya, kami mau pulang kampung. Kami sudah menghubungi Pak Usman, tapi tidak direspon,” ungkap Supriyadi.

Hal senada juga diungkapkan terdakwa Ridwan, yang memang tidak mendapat gaji saat masuk kerja.

Baca Juga:  Tiga penghargaan disabet Arc by Crown Group di ajang 2019 MBA Awards

“Kami dijanjikan fasilitas kendaraan operasional, tapi tidak ditepati, kami juga tidak mendapat tunjangan hari raya (THR), padahal waktu itu kami mau pulang, saat dihubungi dia tidak merespon,” ucapnya.@rofik