Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Hari Santri Nasional, Khofifah: Pesantren sebagai laboratorium perdamaian dunia
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda dan Pangdam V Brawijaya. FOTO: SARIFA-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Hari Santri Nasional, Khofifah: Pesantren sebagai laboratorium perdamaian dunia 

LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ikut memperingati Hari Santri 2019 dwngan tema “Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia”.

Dalam amanat tertulis Menteri Agama pada Hari Santri disampaikan bahwa isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam Rahmatan lil alamin. Islam ramah dan moderat dalam beragama.

Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural. Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia.

Di Jatim, rangkaian Peringatan Hari Santri dilaksanakan secara beragam. Antara lain yang diselenggarakan lembaga pendidikan Khadijah Surabaya dengan menghadirkan Sheikh Afeefuddin Al Jailani, Senin (21/10/2019), hingga digelarnya apel Hari Santri yang dipimpin oleh Gubernur Khofifah di Mapolda Jawa Timur, Jalan Ahmad Yani Surabaya, Selasa (22/10/2019).

Acara dihadiri Pangdam V/Brawijaya, Kapolda Jawa Timur, Ketua MUI, Ketua PWNU, PW Muhammadiyah dan Forkopimda lainnya. Serta pengasuh pondok pesantren dan ribuan santri, juga prajurit TNI/POLRI.

Gubernur Khofifah mengajak khususnya para santri untuk membangun semangat heroisme (kepahlawanan). Semangat tersebut disampaikan untuk mengikuti jejak sekaligus melanjutkan perjuangan para syuhada dan pahlawan yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Gubernur perempuan pertama di Jatim itu berharap agar semua siswa dan masyarakat Jawa Timur mendapatkan syafaat dari Nabi Mugammad SAW serta barokah dari karomahnya ulama, khususnya As Syech Abdul Qodir Al Jaelani lewat cicitnya Asy Syech Afeefuddin Al Jaelani.

Dalam peringatan Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober ini dijelaskan komitmen fatwa resolusi jihad bahwa fardu ain (kewajiban secara individu) untuk bela negara dari para kyai dalam komando KH. Hasyim Asy’ari yang saat itu sebagai Rais Akbar PBNU.

Baca Juga:  Lagi, Kabupaten Jombang raih penghargaan Peduli HAM 2019

Para kyai kemudian memberikan fatwa tentang resolusi jihad bahwa membela dan mempertahankan  kemerdekaan  Indonesia adalah fardu ain, kewajiban yang melekat pada setiap orang.

“Itulah yang kita peringati pada Hari Santri. Kalau detik-detik diumumkannya fatwa resolusi jihad pada banyak sejarah kira-kira jam 20.30 WIB. Maka Pemprov mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur untuk hening cipta selama 60 detik pada  jam 08.00 dan do’a bersama di pesantren pada pukul 20.30 atas dasar Keppres No. 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri,” imbuh Khofifah.

Selain itu, ada dua poin penting pada Surat Edaran Gubernur Jawa Timur terkait Peringatan Hari Santri pada tanggal 22 Oktober. Poin pertama, kepada seluruh masyarakat Jatim dimohon untuk mengheningkan cipta selama 60 detik pada pukul 08.00 WIB. Tujuannya untuk mendoakan arwah syuhadah, para pahlawan yang menjaga dan mempertahankan kemerdekaan RI, sekaligus mendoakan untuk keselamatan bangsa.

Poin kedua dalam Surat Edaran Gubernur Jatim, yaitu Pondok Pesantren melakukan doa bersama pada pukul 20.30 WIB.

“Jadi ada pagi, ada malam. Supaya santri-santri bersama berdoa untuk arwah syuhada dan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan RI, serta doa untuk keselamatan bangsa,” tandasnya.@sarifa