Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Dituduh gelapkan 1.136 kg emas, Eksi Anggraeni gugat PT Antam dan Bos Plaza Marina
Budi Said saat memberikan keterangan perkara dugaan penipuan dan penggelapan pembelian emas di ruang sidang PN Surabaya, Selasa (22/10/2019). FOTO: ROFIK-LICOM
HEADLINE DEMOKRASI

Dituduh gelapkan 1.136 kg emas, Eksi Anggraeni gugat PT Antam dan Bos Plaza Marina 

LENSAINDONESIA.COM: Merasa dituduh menggelapkan emas, Eksi Anggraeni menggugat perdata PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Bos Plaza Marina Budi Said.

Atas tuduhan tersebut, saat ini menjadi terdakwa perkara dugaan penipuan dan penggelapan 1.136 kilogram emas yang saat ini kasusnya tengah dalam proses sidang di Pengadilan Negeri Surabaya.

Eksi yang bertindak sebagai marketing eksternal dalam pembelian emas Direktur Utama PT Trijaya Kartika Budi Said di PT Antam tersebut merasa menjadi korban dari kasus pidana dugaan penipuan dan penggelapan pembelian emas itu.

Melalui kuasa hukumnya, terdakwa Eksi Anggraeni melakukan gugatan perdata terhadap PT Antam dan Budi Said atas perbuatan melawan hukum (PMH). Gugatan dengan nomer 1043/Pdt G/2019 ini menyebut bahwa PT Antam selaku Tergugat dan Budi Said sebagai Turut Tergugat.

Kuasa hukum Eksi DR. C Maya Indah S SH MHum menyatakan, Eksi mengajukan gugatan ini karena merasa telah menjadi korban ketidakadilan atas perbuatan yang sama sekali tidak dilakukan.

Maya menyebut, Eksi yang notabene adalah seorang wiraswasta yang bergerak di bidang jual beli emas namun dalam kaitannya dengan perkara ini, Ekai adalah perantara jual beli emas batangan antara PT Antam sebagai Penjual dengan Turut Tergugat dalam hal ini Budi Said.

Maya menceritakan, kasus ini berawal ketika Eksi menawarkan kepada Budi Said untuk membeli emas batangan kepada PT Antam. Atas penawaran tersebut, Budi Said menyetujui.

Kemudian pada Maret 2018 antara Eksi dan PT Antam yang diwakili oleh Pimpinan Cabangnya di Surabaya Endang Kumoro dan stafnya Misdianto melakukan pertemuan di butik PT Antam Cabang Surabaya.

“Setelah itu, pada Maret 2018 sampai dengan November 2018 ternyata telah terjadi transaksi jual beli emas batangan antara Tergugat (PT Antam) dengan Turut Tergugat (Budi Said) secara bertahap. Transaksi dilaksanakan sendiri oleh Tergugat dengan Turut Tergugat dengan sepengetahuan Penggugat. Bahwa pada semua pembelian emas batangan yang Turut Tergugat beli pembayarannya ke Rekening PT Antam Tbk. Pada setiap transaksi, Penggugat yang disuruh menandatangani fakturnya oleh Tergugat. Sedangkan yang menerima emas terkadang karyawan Turut Tergugat, tetapi terkadang juga Turut Tergugat sendiri yang menerima. Sedangkan Penggugat hanya menyaksikan saja. Perlu disampaikan bahwa penandatangan faktur bukan berarti penandatangan tanda terima barang,” beber Maya.

Baca Juga:  Investasi hulu migas harus berkontribusi pada pembentukan PDB nasional

Beraselang waktu kemudian, tiba-tiba Budi Said melaporkan Eksi ke Polda Jatim dengan tuduhan melakukan penipuan dan atau penggelapan dan atau penggelapan dalam jabatan sebagaiman diatur dalam pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP dan atau 374 KUHP atas dasar pernyataan yang dibuat oleh Tergugat (Eksi) tanggal 16 Nopember 2018 yang pada pokoknya seakan Tergugat (Eksi) menerangkan atas pembayaran dari Turut Tergugat (Budi Said) kepada Tergugat (PT Antam) sebesar Rp 573.680.000.000.

“Padahal Tergugat (PT Antam) telah menyerahkan emas batangan seluruhnya seberat 1.136 kilogram dengan rician kami sertakan dalam gugatan ini,” sebut Maya.

Maya melanjutkan, bahwa surat yang dibuat oleh Tergugat (PT Antam) pada tanggal 16 November 2018, menerangkan bahwa penyerahan dilakukan tanggal setelah 16 November 2018. Hal mana berarti bahwa surat keterangan tersebut hanyalah berbicara tentang janji penyerahan atau jadwal penyerahan. Sama sekali tidak bisa dikatakan bahwa Tergugat (PT Antam) telah menyerahkan sejumlah emas seberat 1.136 kilogram.

Bahwa sesuai dengan standart Operating Procedur yang ada  di PT Antam Tbk, bahwa pembelian yang diikuti dengan penyerahan barang dari butik kepada konsumen dilakukan paling lambat 10 sampai 12 hari kerja setelah konsumen melakukan pembayaran. Ini artinya bahwa apabila diruntut sesuai dengan waktu dalam tanggal yang tertera dalam Surat Keterangan, maka bisa diruntut pembayaran ditarik 10-12 hari kebelakang mengacu pada bukti transfer dan faktur yang ada.

“Bahwa dalam Berita Acara Pemeriksaaan saksi sebagaimana Perkara Nomor 2576 / Pid.B/2019/ PN.SBY, laporan pidana ada dugaan pembuatan faktur ganda oleh Oknum  PT Antam Tbk Surabaya. Bahwa harga yang tertera dalam Surat Keterangan tanggal 16 November 2018 adalah tuntutan harga yang diinginkan oleh Turut Tergugat (Budi Said) sebagai harga diskon atau potongan harga. Hal mana menjadi janggal mengingat PT Antam Tbk sebenarnya memiliki harga tersendiri. Demikianlah atas seluruh isi surat keterangan yang dibuat oleh Tergugat (PT Antam) tersebut maka Penggugat (Eksi Anggraeni) merasa sangat dikorbankan, karena seakan-akan Penggugat menjadi pihak yang bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Penggugat,” tutupnya.

Baca Juga:  Digeruduk massa Pemuda Pancasila, Nissan kembalikan mobil Samsurin yang dirampas debt collector

PT Antam saat dikonfirmasi terkait kasus ini menyarankan agar menghubungi langsung kantor pusat. Sementara PT Antam pusat saat dihubungi melalui nomer 02129980900 tidak ada yang merespon.

Terpisah, Budi Said saat dikonfirmasi menyatakan jika dirinya tidak mengetahui kalau digugat oleh Eksi. Namun, dia mengaku menyerahkan kasus ini ke proses hukum.

“Kalau memang benar ada gugatan ya, itu hak dia. Yang jelas kita ikuti proses hukumnya saja,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus dugaan penipuan dan penggelapan pembelian emas ini disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (22/10/2019).

Budi Said dihadirkan dalam sidang untuk memberikan kesaksisan dalam sidang perkara dugaan penipuan dan penggelapan pembelian 6 ton emas di PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Perkara ini menyeret tiga karyawan PT Antam Tbk yakni Endang Kumoro (pimpinan butik PT Antam Surabaya), Musdianto (tenaga administrasi) dan Ahmad Purwanto (tenaga pemasaran PT Antam) serta Eksi Anggraeni (marketing ekternal).

Dalam kesaksiannya, Budi Said yang membeli emas seberat 6 ton di PT Aneka Tambang Til senilai Rp 3,5 triliun mengaku mengalami kerugian sebanyak 1.136 kg emas, karena merasa tidak sesuai dengan perjanjian awal.

“Dalam perjanjian bersama terdakwa, saya akan diberikan diskon sebesar 20 persen dari harga Rp 600 juta per kilogram menjadi Rp 530 juta, dan saya mengalami kerugian 1.136 kilogram (emas)” ungkapnya dalam sidang.@rofik