Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
KPK dalami dugaan pekerjaan fiktif 14 proyek PT Waskita Karya
Proyek PT Waskita Karya. FOTO: ILUSTRASI/ISTIMEWA
HEADLINE UTAMA

KPK dalami dugaan pekerjaan fiktif 14 proyek PT Waskita Karya 

LENSAINDONESIA.COM: Kasus dugaan pekerjaan fiktif dalam 14 proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya (Persero) terus didalami penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pelaksana Harian (Plh) Kabiro Humas KPK, Yuyuk Andriati mengatakan, penyidik memanggil tiga orang saksi untuk dimintai keterangan terkait masalah ini.

“Hari ini penyidik memeriksa tiga saksi untuk tersangka FR (mantan Kepala Divisi II PT Waskita Karya, Fathor Rachman),” kata Yuyuk di Kantor KPK, Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Tiga saksi itu adalah mantan Kabag Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya, Yuly Ariandi Siregar; dan dua karyawan PT Waskita Karya, Hori Djunaidi dan Dono Parwoto. Yuly dihadirkan sebagai saksi untuk Fathor, kendati telah berstatus tersangka.

“Penyidik mendalami keterangan saksi terkait proses pembuatan, pembayaran dan pertanggungjawaban kontrak fiktif pada proyek-proyek di PT Wakita Karya (Persero) Tbk,” kata Yuyuk.

Sebelumnya, Fathor Rachman ditetapkan sebagai tersangka bersama mantan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya, Yuly Ariandi Siregar. Fathor Rachman dan Yuly Ariandi diduga menunjuk sejumlah perusahaan subkontraktor melakukan pekerjaan fiktif pada 14 proyek PT Waskita Karya.

Proyek itu tersebar di Sumatra Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, hingga Papua. Proyek yang telah dikerjakan perusahaan lain dibuat seolah-olah akan dikerjakan empat perusahaan yang telah teridentifikasi.

Diduga empat perusahaan tersebut tidak melakukan pekerjaan sebagaimana tertuang dalam kontrak. Namun, PT Waskita Karya tetap melakukan pembayaran kepada perusahaan subkontraktor tersebut.

Setelah menerima pembayaran, perusahaan-perusahaan subkontraktor itu kemudian mengembalikan uang kepada sejumlah pihak. Termasuk, Fathor Rachman dan Yuly Ariandi.

Akibat kasus ini, negara merugi hingga Rp186 miliar terkait kasus ini. Jumlah itu merupakan total pembayaran dari PT Waskita Karya kepada perusahaan subkontraktor pekerjaan fiktif tersebut.@LI-13/mc

Baca Juga:  Bebas kontaminasi plastik, Gubernur Khofifah tegaskan telur Jatim aman dikonsumsi