Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
KH Masjkur, pejuang “Resolusi Jihad” pimpin Barisan Sabilillah saat perang 10 November 1945
KH Masjkur Pimpinan Tertinggi Barisan Sabilillah saat pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. @dok.istimewa
HEADLINE

KH Masjkur, pejuang “Resolusi Jihad” pimpin Barisan Sabilillah saat perang 10 November 1945 

LENSAINDONESIA.COM: Almarhum KH Masjkur, salah satu di antara enam tokoh yang mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional yang ditandatandatangani Presiden Jokowi. Kiai kelahiran Malang, Jawa Timur, 30 Desember 1904 ini termasuk pejuang “Resolusi Jihad” yang ketika terjadi pertempuran 10 November 1945, sebagai pimpinan tertinggi Barisan Sabilillah.

Peristiwa heroik perlawanan “Arek-arek Suroboyo” terhadap tentara Sekutu yang berniat menduduki kota Surabaya itu, sejarah mencatat, memang termotivasi semangat membela tanah air di kalangan santri yang ketika itu dikenal dengan sebutan “Resolusi Jihad”.

Tekad mempertahankan bumi NKRI –“Resolusi Jihad”—, berjuang dengan mempertaruhkan nyawa itu, pencetusnya KH Hasyim Asy’ari, pendiri Ormas Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945.

Ketika tentara Sekutu mendaratkan kapal di pelabuhan Surabaya dan bermaksud menduduki kota spontan mendapat perlawanan sengit, rakyat. Meski pun saat itu, rakyat hanya bersenjatakan bambu runcing dan senjata rampasan dari tentara kolonial.

Kegighan perlawanan rakyat terhadap tentara Sekutu saat itu, menggegerkan dunia. Pasalnya, perlawanan sengit rakyat menewaskan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby asal Inggris.

Kematian Mallaby itu, berbuntut mengundang amarah besar tentara Sekutu. Rakyat Surabaya diancam pelucutan senjata. Perintah menyerahkan senjata ternate tidak diindakan. Sebaliknya, rakyat tetap melakukan perlawanan semakin sengit hingga terjadi perang besar tepatnya pada 10 November 1945.

Meski tentara Sekutu membombardir Kota Surabaya dari darat dan udara, rakyat Surabaya bukannya menyerah. Malahan, “Arek-arek Suroboyo” bergerak melakukan perlawanan bersama. Pekikan heroisme “Allahu Akbar” yang diteriakkan Bung Tomo lewat siaran RRI digambarkan amat membakar semangat. Sejarah juga mencatat hingga terjadi peristiwa monumental penyobekan bendera Kolonial Belanda di menara Hotel Orange –kini Hotel Mojopahit—menjadi merah putih.

Ketika kondisi berangsur stabil, berbagai sumber menyebutkan, di masa kepemimpinan Presiden pertama Ir Soekarno, KH Masjkur kelahiran Malang, 30 Desember 1904 ini dipercaya menjabat Menteri Agama (1947-1949). Di era Kabinet Parlementer, KH Masjkur kembali menjabat Menteri Agama (1953-1955).

Baca Juga:  Napi teroris harus sumpah setia ke NKRI sebelum kembali ke masyarakat

Setelah tidak menjabat Menteri Agama, KH Masjkur menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI saat Presiden Soekarno sebelum dan sesudah mengeluarkan dekrit membatalkan UUD 1950 dan kembali ke UUD 1945 (1956-1971). Bahkan, Kiai yang meninggal pada 19 Desember 1994 ini, pada tahun 1968 sempat dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Sebelum proklamasi RI, peran KH Masjkur dalam masa perjuangan kemerdekaan juga patut mendapatkan penghargaan. Era pendudukan Jepang, kiai ini juga berperan menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Tidak Cuma itu. Sejarah mencacat, Masjkur juga pendiri Pembela Tanah Air yang dikenal dengan pasukan “Peta”. Selanjutnya, menjadi unsur laskar rakyat dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di seluruh Jawa. Saat meletus pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, KH Masjkur dikenal sebagai pemegang tongkat komando Barisan Sabilillah yang anggotanya kalangan santri dan Ulama. @licom_09/berbagai sumber