Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Gabung di Action Cullinary, punya usaha di mall tanpa uang sewa
Para pedagang di "Kampung Kuliner" ITC kawasan Jl. Gembong Surabaya mempromosikan produk dagangannya, Minggu (10/11/2019). Ist
Bisnis

Gabung di Action Cullinary, punya usaha di mall tanpa uang sewa 

LENSAINDONESIA.COM: Action University, komunitas enterpreneur yang aktif di Surabaya kini memberi peluang pelaku UMKM dan pedagang kaki lima berbisnis di mall tanpa uang sewa.

Langkah tersebut tercetus ketika Action University membuat wadah baru bernama Action Cullinary yang kini berhasil menciptakan “Kampung Kuliner” di dalam ITC Mall di kawasan Jl. Gembong Surabaya.

Syaiful Sumarsono Founder Action University mengatakan, hadirnya “Kampung Kuliner” oleh Action Cullinary yang merupakan anak didik Action University ini mengusung misi menaikkan level para pelaku UKM atau pedagang kaki lima berdagang di mall.

“Ini action nya membentuk koalisi pelaku UMKM dan pedagang kaki lima membangun bisnis di mall dengan konsep keroyokan untuk permodalannya. Cara ini merupakan solusi efektif untuk menampik bahwa membangun sebuah usaha itu butuh modal besar, namun hal ini bisa dilakukan oleh semua orang, apalagi misi Action University ini mencetak 1 juta pengusaha,” papar syaiful kepada Lensaindonesia.com, Minggu (10/11/2019).

Ia menambahkan, potensi bisnis kuliner di Surabaya ini masih besar. Sebab saat Indonesia mengalami resesi ekonomi, bisnis kuliner masih tegar.

“Kita berharap seluruh mall ada “Kampung Kuliner” seperti ini. Sebab di ITC ini kami memang menciptakan pangsa pasar sendiri. Sebab potensinya masih sekitar 50 persen, harusnya mall itu pas untuk kuliner, karena percepatannya jelas, berbeda dengan bisnis busana. Orang berkunjung ke mall pasti butuh kuliner,” jelas Syaiful.

Sementara itu, Lutfiah Erdiana, Founder Action Cullinary sekaligus Ketua Paguyuban Action Cullinary juga menjelaskan, memilih ITC kali ini sebab pihaknya telah bernegosiasi untuk memboyong komunitas UMKM dan pedagang kaki lima untuk meramaikan mall tersebut.

“Dari perbincangan dengan manajemen ITC kami diijinkan meramaikan mall ini tanpa kompensasi membayar uang sewa. Kami hanya dibebani membayar service charge dan biaya listrik saja. utk memberi kesempatan mereka berdagang di mall. Itu pun biayanya hanya sekitar Rp 500 hingga Rp 700 ribu perbulannya, dan itu ditanggung ramai-ramai,” papar Lutfiah (Upi).

Baca Juga:  Diskominfo Surabaya perkuat jaringan internet seluruh wilayah, ini tujuannya

Ia menambahkan, di Kampung Kuliner tersebut sudah menghimoun 30 stand yang terdiri dari 60 orang pedagang.

“Jika mereka punya satu stand, namun brand nya lebih dari satu, dan bayar listrik, service charge, bayar pegawai itu keroyokan patungannya. Karena kita mengemban misi ekonomi kerakyatan,” tegas Upi.

Ia memproyeksikan, tiap stand bisa beromset Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta perhari itu tanpa mengandalkan offline saja tetapi juga online.

“Yang kita terapkan di sini adalah bisnis modelnya, jika bisa kita juga jual brand nya agar menjadi UMKM yang inovatif,” tutur Upi.

Di kelas Action Cullinary ini, lanjutnya, kita beri pembinaan meliputi hal branding, packaging, dan menaikkan kualitas produknya melaluk kombinasi dan inovasi produk.

“Jika konsep tersebut diterapkan secara optimal, maka kami optimis akhir tahun ini omset kita bisa naik hingga 100 persen. Apalagi memasuki masa liburan panjang,” pungkas Upi.

Kampung Kuliner juga menerapkan konsep bakar duit dengan adanya ada icip-icip makan gratis, sale up to 75 persen dengan cash back voucher senilai Rp 5.000 berlaku di semua stand (cross selling,red).@Eld-Licom