Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
“Stop Hoax Indonesia”, ini semangat Hari Pahlawan di Yogyakarta
Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) di Yogyakarta mengespresikan semangat "Hari Pahlawan" dengan deklarasi "Stop Hoax Indonesia". @dok.mafindo
HEADLINE

“Stop Hoax Indonesia”, ini semangat Hari Pahlawan di Yogyakarta 

LENSAINDONESIA.COM: Peringatan “Hari Pahlawan” di Yogyakarta, menutup Jalan Mangkubumi di Selatan Tugu Pal Putih Jogja. Titik historis di Jogja ini dijadikan panggung aksi “Stop Hoax Indonesia”, Minggu (10/11/2019).

Perhelatan mengekspresikan semangat “Hari Pahlawan” ini sebagai bagian dari rangkaian aktivitas edukasi dan public campaign tentang literasi digital dan semangat anti hoaks.

“Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Mafindo dengan berbagai komunitas di Jogja, seperti Harian Kedaulatan Rakyat, Komunitas Biola Jogja, Gugat Rerasan, Perempuan Berkebaya Jogja, Roro Beras Kencur, Tepi Bayu,” kata Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dalam keterangan persnya, Minggu (10/11/2019).

Peringatan ini juga diramaikan komunitas sepeda onthel yang menghampiri venue. Diramaikan pula dengan “Fun Run dan Fun Bike”. Juga senam “Zumba” yang heboh bagi kaum hawa.

Kegiatan Fun bike dan komunitas sepeda ontel Yogyakarta mewarnai perhelatan mengekspresikan “Hari Pahlawan” di Yogyakarta. @dok. mafindo

Septiaji mengaku, semuanya dilakukan dengan semangat kegembiraan. “Melawan hoaks membutuhkan keseriusan di satu sisi, dengan membangun ekosistem anti hoaks yang Indonesia termasuk dihargai di level internasional. Namun juga penting kiranya menjaga semangat kebangsaan, tanpa meninggalkan sisi penting manusia: semangat kegembiraan,” tuturnya.

Septiaji menyampaikan, terimakasih atas kerja keras tim “Stop Hoax Indonesia” didukung oleh ratusan relawan anti hoaks, yang menghadirkan acara ini, juga memproduksi video dan lesson plan tentang edukasi literasi digital.

Selain perhelatan di Jogja ini, juga berlangsung serial workshop dan edukasi bagi pelajar dan ibu rumah tangga di 17 kota di seluruh Indonesia.

Perhelatan ini bisa berjalan lancer diakui Septiaji, juga berkat dukungan Polda DIY, Diskominfo DIY, KPU DIY, Bawaslu DIY, Pemerintah Kabupaten/Kota di DIY.

“Bangsa ini pernah terpecah belah, menjadi korban devide et impera, sehingga terjajah ratusan tahun. Namun pada tanggal 10 November 1945, bangsa ini menunjukkan bahwa apa pun akan kita pertaruhkan demi menghempaskan penjajahan di negeri ini,” kata Septiaji.

Baca Juga:  Surabaya sambut Piala Dunia U-20, siapkan akses jalan dan bangun fasilitas stadion standar FIFA

Menurut Septiaji, sebagai anak cucu para pendiri bangsa, bertugas untuk melanjutkan kemerdekaan yang amat mahal ini, dengan menjaga supaya jangan terpecah belah ketika memasuki peradaban digital. Diharapkan, harus menjadi pribadi yang bertanggungjawab dalam mengelola dan menyebarkan informasi, dan menjadi pahlawan pada masanya: menjauhkan masyarakat dari kekacauan informasi.

“Dari Yogyakarta untuk Indonesia, kami mendeklarasikan semangat perjuangan untuk terus melawan hoaks dari bumi Indonesia!”, pungkas Septiaji. @licom_09