Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Kuasa hukum FWJ polisikan “debt collector” ACC Finance, kerahkan 15 orang resahkan warga di Depok
Tim Advokat Forum Wartawan Jakarta (FWJ) dan pengurus FWJ mendatangi Polresta Depon untuk melaporkan kasus 15 "debt collector" bertindak ala preman main ancam terhadap debitur di tempat terbuka, hingga meresahkan masyarakat. @dok. fwj
HEADLINE

Kuasa hukum FWJ polisikan “debt collector” ACC Finance, kerahkan 15 orang resahkan warga di Depok 

LENSAINDONESIA.COM: Tindakan ala preman oknum debt collector ‘kaki tangan’ leasing ACC Finance diduga menganiaya, mengancam, dan perlakuan tidak menyenangkan terhadap seorang warga selaku debitur, AR, yang wartawan online nasional, akhirnya dilaporkan ke Polresta Depok.

Wartawan AR yang juga Wakil Sekjen Forum Wartawan Jakarta (FWJ) berharap laporannya terhadap tindakan semena oknum-oknum debt collector itu, ditangani hingga tuntas oleh pihak Polres. Organisasi wartawan, FWJ pun berharap Polres bersikap tegas untuk menghentikan tindakan para debt collector yang meresahkan masyarakat.

AR melaporkan resmi ke Polresta Depok terkait dirinya jadi korban itu, Sabtu (9/10/2019). Ia datang ke Polresta, didamping tim kuasa hukum FWJ (Forum Wartawan Jakarta) yang diketuai Tonin Tachta Singarimbun, SH. Ikut mendampingi advokat Tonin, yaitu Julianta Sembiring SE, SH, dan Suta Widhya, SH. Polresta menerima laporan tersebut dengan Nomor: STPLP/2450/K/XI/2019/Rest Depok.

Advokat Julianta ketika ditemui wartawan di Polresta Depok, menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan para oknum debt collector alias “mata elang” itu jelas melanggar ketentuan hukum.

“Jelas, sangat tidak dibenarkan cara-cara eksekusi kendaraan yang dilakukan debt collector. Mereka memaksa pemilik untuk menyerahkan kendaraannya, dengan alibi membawa sertifikat fidusia dan SK penarikan dari ACC Finance. Apalagi, disertai intimidasi, menarik paksa lengan pemilik kendaraan hingga terkilir dan ngilu,” tegas Julianta.

Sebelumnya, ramai diberitakan, 15 oknum debt collector yang menjadi ‘kaki tangan’ leasing ACC Finance pada Kamis (7/11/2019), mengepung AR yang saat itu memarkir mobil Daihatsu Xenia B 1489 EOI miliknya, di Lapangan Sanca, Sukamaju, Tapos, Depok. AR bersama para pengurus FWJ kebetulan survei lokasi untuk persiapan FWJ menggelar Konser Budaya “Satoe Hati” pada 28 November – 8 Desember 2019.

Baca Juga:  Pertumbuhan 5 tahun terakhir, Crown Group rampungkan proyek senilai total Rp 18 triliun

Gerombolan debt collector itu dengan nada penuh ancaman dan intimidasi berniat menyita mobl Xenia milik AR yang dibeli secara kredit lewat leasing ACC Finance. AR dan rekan wartawan lainnya, kontan keberatan karena memahami tindakan debt collector itu melawan hukum, karena mengabaikan kewenangan pengadilan.

Adu argumentasi dengan nada keras pun terjadi. Bahkan, salah seorang oknum debt collector sempat menarik paksa lengan AR yang mempertahankan haknya. Kejadian yang sempat mengundang perhatian warga setempat ini baru reda, setelah rekan AR yang jurnalis perempuan, TWS menelepon Polsek Cimanggis, yang bertanggungjawab Kamtimas di daerah ini.

Julianta mengungkapkan, laporan di Polresta itu bukan hanya debt collector mengintimidasi AR. Tapi, dua jurnalis perempuan yang ikut bersama AR juga menjadi sasaran tindakan kasar dan intimidasi. Begitu pula anak di bawah umur yang ikut berada di lokasi itu.

“Dua wartawan perempuan, TWS dan RS, dan anak laki-laki di bawah umur ikut jadi sasaran tindakan semena-mena para debt collector itu. Bahkan terjadi argumen kasar dan hampir baku hantam. Kedua wartawan dan anak di bawa umur itu, sekarang trauma. Apakah itu tidak melanggar hukum?”, tegas Julianta.

Julianta juga mengungkapkan, saksi penjaga area lapangan dan pemilik rumah di sekitar lokasi mengaku sempat meminta para debt collector menghentikan ribut-ribut dan meninggalkan tempat. Tapi, mereka menolak dan semakin emosi.
“Kan jelas. Mereka itu para debt collector main masuk aja di tempat warga dan membuat keonaran. Berdasarkan keterangan para saksi, kejadiannya dari jam 4 sore sampe jam 7 malam. Mereka bertambah banyak, dan melakukan pengepungan terhadap teman-teman FWJ di area itu. Jelas, para debt collector itu pakai gaya-gaya premanisme,” kata Julian, bernada tinggi.

Baca Juga:  FKPPI tantang Cawali wujudkan air layak minum untuk masyarakat Surabaya

Atas nama warga Depok dan Advokat dari Forum Wartawan Jakarta (FWJ), Julianta menegaskan kepada seluruh jajaran kepolisian di wilayah hukum Polresta Depok agar segera membersihkan para debt collector yang sangat meresahkan warga.
“Ini menjadi PR untuk Kapolres Depok. Apa mampu atau tidak Kapolres membersikan para penagih hutang alias debt collector itu. Jika tidak mampu, jangan salahkan warganya jika sampai ada yang menggunakan cara-cara lain,” tegas Julianta.

Maklum, perampasan kendaraan di tempat terbuka seperti itu, warga bisa meneriakan rampok dan main hakim sendiri.

GUGAT ACC FINANCE
Kuasa hukum FWJ ini juga akan melakukan gugatan kepada pihak ACC Finance yang dengan sengaja menyebarkan data pribadi debiturnya ke pihak lain. Akibatnya, keamanan dan keselamatan debitur terancam.

“Leasing itu sudah melanggar ketentuan UU ITE pasal 26, yang diperkuat pasal 84 UU Adminduk (perlindungan data pribadi), Pasal 15 ayat 2 Penyelenggara Sistem Electronik (PSE), yang diatur dalam PP PSTE, ” ungkap Julianta.

Julianta mengungkapkan, bahwa AR selaku debitur tidak pernah menandatangani surat perjanjian kontrak dan tidak pernah menandatangani Fidusia. Ini lantaran AR hanya disodorkan kertas kosong warna putih untuk ditandatangani.

“Dia kan disodorkan kertas kosong warna putih, dan disuruh tanda tangan di situ. Terus, dia tanya dong, untuk apa? Kata pihak PT. Astra Sedaya Finance sebagai persyaratan tambahan jika diperlulan untuk dikeluarkannya unit kendaraan. Ya, AR jawab dong, asal jangan digunakan untuk merugikan saya. Tapi tiba-tiba muncul tuh tandatangan AR di surat perjanjian kontrak dan di fidusia. Ini aneh. Kita juga akan tuntut itu PT. Astra Sedaya Finance,” ungkap Julianta.

Suta Widhya menambahkan,, peristiwa yang terjadi pada AR dan teman-teman FWJ menjadi satu bukti bahwa penegakan hukum dan pemeliharaan Kamtibmas di wilayah Depok sangat kurang. Ini mengkhawatirkan warga, karena akan terus terancam tindakan semena-mena debt collector. Praktik ala preman ini bisa bertambah injak-injak hukum, karena merasa tidak diawasi ketat. Mereka akan tambah bebas bertindak semena-mena terhadap masyarakat, dan tak peduli melanggar hukum.

Baca Juga:  Gelar Wisuda ke-23, STIAPAS targetkan SDM mandiri dan profesional

“Kita mewaspadai itu. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kita melaporkan hal ini agar kepolisian segera mengambil tindakan hukum, sebelum ada kejadian keributan hingga menimbulkan kekhatirwan yang lebih dalam,” tegas Suta.

Suta mempertegas, meski AR selaku pemilik kendaraan menunggak pembayaran kredit hingga 82 hari, namun bukan cara-cara preman seperti itu yang dilakukan pihak ACC Finance.

“Datanya kan jelas, AR sudah melakukan pembayaran 43 bulan. Artinya, dia sangat kooperaktif sebagai debitur. Pembayaran AR itu kan hampir mau lunas, tinggal beberapa bulan lagi,” kata Suta. Beruntung, tidak jadi dirampas. Jika sampai dirampas, bisa jadi AR adi korban praktik-praktik yang diduga tindak kejahatan berkedok debt collector. @ san/bs