Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Mencemaskan, “Debt Collector” ala preman berkeliaran di Depok, FWJ desak Polres tindak tegas
Wartawan AR dan wartawati TWS menghadapi gerobolan "debt collector" yang mengancam akan menyita mobil Daihatsu Xenia yang mereka bawa. @dok.fwj
HEADLINE

Mencemaskan, “Debt Collector” ala preman berkeliaran di Depok, FWJ desak Polres tindak tegas 

LENSAINDONESIA.COM: Meresahkan. Debt Collector atau yang biasa disebut “Mata Elang” (Matel) berpraktik ala preman di wilayah Depok kembali menjamur. Tindakannya yang dirasakan masyarakat mirip preman dengan segala ancaman dan teror terhadap warga ini, tidak hanya meresahkan. Bahkan, dinilai seolah mengabaikan Kamtibmas yang ditegakkan kepolisian.

Jasa tukang tagih yang digunakan leasing kendaraan ini bukan saja mendatangi rumah warga selaku debitur, dengan cara atau pola mirip preman. Tapi, mereka juga berkeliaran di jalanan, mengincar dan memburu unit-unit kendaraan debitur yang pembayaran kreditnya menunggak.

Tindakan debt Collector di wilayah Depok yang paling mencolok seolah masyarakat dikuasai preman, terjadi Kamis (7/11/2019), di Lapangan Sanca, Sukamaju, Tapos, Depok. Segerombolan debt collector berjumlah 15 orang mendatangi kendaraan Daihatsu Xenia B 1489 EOI yang diparkir di lapangan itu.

Para debt collector ini berniat merampas alias menyita mobil Xenia itu. Alasannya, kredit kendaraan ini mengalami penunggakan pembayaran beberapa bulan. AR si pembawa kendaraan yang juga debitur ini karena wartawan media online nasional yang paham hukum, kontan tidak menyerah begitu saja saat digertak dan diancam gerombolan debt collector, untuk menyerahkan kendaraan.

AR kebetulan tidak sediri. Ia di lokasi itu dalam kapasitasnya sebagai Wakil Sekjen Forum Wartawan Jakarta (FWJ) bersama para pengurus FWJ sedang survei lokasi untuk persiapan menggelar Konser Budaya “Satoe Hati” pada 28 November – 8 Desember 2019. Mereka datang di lokasi ini menggunakan mobil kredit leasing itu.

Meski sudah menunjukkan identitas wartawan dan menilai tindakan para debt collector bertentangan dengan Undang Undang dan tidak sesuai hukum perdata, namun 15 oknum debt colllector tetap bersikeras akan menyita kendaraan itu.

Adu argumentasi dan saling bicara keras pun terjadi. Situasi memanas hingga mengundang perhatian masyarakat sekitar. Walau demikian, tak ada masyarakat yang berani mendekat. Sikap debt collector semakin menjadi-jadi dalam mengintimidasi wartawan AR.

Baca Juga:  Ciptakan aplikasi alternatif game yang lebih mendidik, Ikhsan asal Tangsel langganan Juara Robotik

Bukan hanya AR yang merasa diintimidasi. Dua jurnalis perempuan, TWS dan RS yang juga pengurus FWJ di rombongan itu juga menghadapi sikap tak ubahnya preman jalanan. TWS dan RS juga diancam lantaran membela AR dan turut beragumentasi bahwa soal sita menyita perkara perdata kredit mobil itu yang berhak memutuskan adalah pengadilan.

“Terhadap wartawan perempuan yang paham hukum, mereka bertindak melecehkan seperti itu. Bisa dibayangkan bagaimana sikap semena-mena mereka terhadap masyarakat umum yang tidak paham hukum,” kata Sekjen FWJ, Ichsan, prihatin tindakan melawan hukum jalanan terhadap wartawan itu.

Untungnya, jurnalis perempuan TWS tanggap. Melihat para debt collector emosi tinggi, ia menghubungi pihak kepolisian setempat melalui ponselnya. Tidak sampai menunggu lama. beberapa anggota Polres Depok dan satu anggota Polsek Cimanggis datang ke TKP.

Penyelesaian perkara ini pun akhirnya ditangani di kepolisian setempat. Hanya saja, para wartawan kecewa lantaran gerombolan 15 oknum debt collector itu seperti tidak merasa bersalah bertindak semena-mena di jalanan seperti itu. Pratik semena-mena debt collector seolah mengganggap Kota Depok tidak ada hukum.

Ketua Forum Wartawan Jakarta (FWJ) Mustofa Hadi Karya (Opan) dalam keterangan persnya, meminta Polres Depok menindak tegas praktik debt collector bergaya preman itu. Tindakan memaksa dan mengintimidasi masyarakat yang dialami wartawan AR debitur dari leasing ACC dan pengurus FWJ lainnya, identik melecehkan hukum.

“Kami meminta Kapolres dan jajarannya segera menindak tegas oknum-oknum debt collector itu. Ini pertaruhan kinerja Kepolisian Depok,” kata Opan.

Ketua FWJ ini juga berharap polisi jajaran Polres Depok seperti Polsek Cimanggis bertindak tegas terhadap praktik-praktik ala preman yang bisa mengganggu Kamtibmas, seperti yang belakangan mernjadi fokus perhatian Kapolri Jenderal Idham Azis.

Baca Juga:  XL Axiata terapkan donasi kuota di 196 Madrasah Aliyah di Jatim

“Jangan sampai debt collector merasa bebas bertindak semena-mena terhadap masyarakat. Kejadian 15 oknum ngeroyok wartawan seperti itu jika dibiarkan, kasihan masyarakat umum. Kami meminta Polres dan Polsek di wilayah Depok tegas, meski kami juga mengetahui ada dugaan back-up dari oknum Ormas Nasional kepada debt collector itu.“ tegas Opan.

Opan juga menyebut kendaraan yang sedang dalam proses kredit itu tidak dibenarkan pihak Leasing ACC memakai pihak ke tiga atau debt collector, Ia menegaskan bahwa prosedur hukum tetap harus dijalankan, yakni untuk menarik unit konsumen yang mengalami tunggakan pembayaran harus dilengkapi surat resmi dari pengadilan.

“Ranahnya kan sudah jelas, yang berhak untuk menarik unit kendaraan itu adalah pengadilan dan bukan segerombalan preman dengan cara-cara yang menjijikan dipertontonkan di tengah publik,” tegas Opan.

WASPADA SINDIKAT?
Kasus debt collector merampas kendaraan roda empat atau roda dua milik debitur sebuah leasing seperti yang nyaris menimpa wartawan ini, belakangan memang dikeluhkan masih terus terjadi di wilayah Jabodetabek.

Ray (34), contohnya, warga di daerah Manggarai, Jakarta Selatan, salah satu debitur motor merk brand ternama. Ia mengambil kredit tempo pelunasan tiga tahun, dan sudah menyicil setahun. Lantas cicilian tidak lancar, hingga menunggak tiga bulan. Ia bernasib sial, kendaraannnya dirampas oknum debt collector di jalanan.

Ray pun menyerah begitu saja. Ia hanya bisa bergeming saat diintimidasi harus melunasi tunggakan. Karena tidak paham hukum, ia pasrah motor lenyap dan uang cicilan setahun tidak jelas nasibnya.

“Saya hanya bisa memendam dendam kalau lihat ada debt collector. Gara-gara motor dirampas, pekerjaan saya kacau, karena mengandalkan kendaraan. Ekonomi keluarga juga sempat terganggu,” keluh Ray.

Baca Juga:  Gamal Albinsaid tawarkan solusi kurangi pengangguran di Surabaya

Kerapnya terjadi kasus perampasan atau penyitaan paksa kendaraan milik debitur yang menunggak itu, tak ayal mengundang kecurigaan jangan-jangan ada permainan sindikat ‘jahat’ antara oknum leasing dan pihak ketiga atau debt collector. Kecurigaan ini dikaitkan dengan calon debitur yang mudah mendapatkan kredit kendaraan. Seleksi mampu tidaknya lancar membayar cicilan pun tidak ketat. Malahan, ada kredit tanpa uang muka dan uang muka minim.

Pengalaman Yunus (24), misalnya. Karena uang muka hanya Rp500 ribu, pekerja harian di Depok ini nekat mengambil kredit motor,, meski penghasilan pas-pasan. Yunus bisa lancar membayar cicilan hanya enam bulan. Setelah itu, nunggak hingga tiga bulan. Yunus seperti juga Ray hanya bisa gigit jari ketika motornya diambil paksa debt collector. Motornya lepas begitu saja ini lantaran ia tak bisa memenuhi ancaman debt collector segera melunasi tagihan tunggakan.

Tidak sedikit masyarakat bernasib seperti Ray dan Yunus. Kendaraan yang diharapkan jadi fasilitas mencari nafkah lenyap dirampas debt collector. Uang cicilan kredit yang sudah terlanjur dibayar ke leasing juga amblas begitu saja. Siapa yang diuntungkan? @san