LENSAINDONESIA.COM: Anggota Komisi A DPRD Surabaya Imam Syafi’i meminta arena Car Free Day (CFD) bebas dari kegiatan politik.

Politisi partai NasDem ini menyesalkan kegiatan kelompok masyarakat yang menamakan diri Relawan #Risma Selamanya menggelar aksi di kawasan CFD sekitar Taman Bungkul, Surabaya, Minggu (10/11/2019) kemarin.

Dalam kegiatan long march tersebut, para relawan mengkampanyekan akan mendukung siapa pun calon wali kota pilihan Risma.

“Jangan pilih kasih. Kalau dilarang ya dilarang. Jangan karena pro-Bu Risma diperbolehkan. Ini kan tidak fair, ” kata Imam Syafi’i kepada LICOM, Senin (11/11/2019).

Imam khawatir jika kegiatan serupa diperbolehkan menggelar aksi politik di area car free day, yang lainnya pasti tidak mau kalah. “Karena itu kalau mau fair ya sekalian saja diperbolehkan untuk semua pendukung bakal calon wali kota Surabaya lainnya,” tegasnya

Politisi yang dikenal kritis ini mengusulkan ke komisinya untuk memanggil kepala satpol pp untuk mengklarifikasi aksi politik ini. “Satpol PP kecolongan, atau pura pura tidak tahu. Kan bu Risma sendiri yang pernah mengatakan tidak boleh menggelar kegiatan politik di area car free day,” katanya.

Sebelumnya, acara car free day yang digelar di sekitar Taman Bungkul, Surabaya, Minggu (10/11/2019) mendadak penuh oleh ratusan relawan berbaju putih merah dengan tulisan #Risma Selamanya.

Para relawan yang sebelumnya berkumpul di Gedung Perpustakaan Bank Indonesia itu kemudian melakukan long march di sepanjang lokasi car free day dengan membentang sejumlah poster kampanye seperti “Bu Risma Dulu Baru Kamu”, “Bu Risma, Bangunkan Taman Bunga di Hati Areknya”, “Opo Jare Bu Risma”, “Angka Ikut Bu Risma”.

Juru Bicara Relawan Risma Selamanya Lailiana Indriawati mengatakan bahwa aksi ini diinisiasi ratusan relawan yang tersebar di seluruh penjuru Surabaya. Mereka bergerak karena belum muncul satupun sosok mumpuni dengan wibawa dan kerja nyata seperti Bu Risma. “Yang muncul di baliho dan pemberitaan sebagai calon wali kota kebanyakan amat diragukan kapasitasnya,” ujar Indri.

Indri dan para relawan Risma Selamanya menyadari bahwa Risma tak mungkin menjabat lagi. Tapi bukan berarti tongkat estafet kepemimpinan Risma harus berhenti. Sebab, hal itu bisa membahayakan masa depan Surabaya jika Kota Pahlawan ini jatuh ke politikus busuk.

Kalau memang Bu Risma tidak bisa menjabat lagi, kata Indri, paling tidak ada satu sosok yang nantinya ditunjuk oleh Bu Risma sendiri sebagai calon walikota yang pantas menggantikannya.

“Entah itu Eri Cahyadi, kepala Bappeko Surabaya yang disebut-sebut sebagai anak emas beliau, terserah Bu Risma. Yang jelas kami tak ingin perkembangan pesat Surabaya bertahun-tahun ini malah mundur hanya gara-gara salah pilih pemimpin,” katanya.@wan