Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Djaduk “Teater Gandrik” meninggal dunia,  sutradarai “Para Pensiun” untuk Surabaya
Poster repertoar "Para Pensiun" yang distradarai Djaduk Ferianto (kacamata), rencananya digelar di Citraland Surabaya, 6-7 Desember mendatang. @dok. ist
HEADLINE

Djaduk “Teater Gandrik” meninggal dunia, sutradarai “Para Pensiun” untuk Surabaya 

LENSAINDONESIA.COM: Dunia seni teater dan musik tanah air berduka. Djaduk Ferianto, salah satu kreator Teater Gandrik, yang juga seniman musik popular di Yogyakarta, meninggal dunia pukul 02.30 WIB, Rabu dini hari (13/11/2019).

Djaduk yang bernama lengkap RM Gregorius Djaduk Ferianto meninggal dalam usia 55 tahun. Almarhum kelahiran Yogyakarta, 1964 ini disemayamkan di Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo, di Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Pemakamannya, dikabarkan, Rabu sore Pukul 15.00 WIB, di Makam Keluarga, di Sembungan, Kasihan, Bantul. Satu jam sebelum itu, Pukul 14.00 WIB dilakukan pemberkatan.

“RIP, Djaduk Ferianto telah mendahului kita,” tulis Butet Kertarejasa melalui WAG, tadi pagi pukul 4.00 WIB.

Djaduk yang belakang mempersiapkan –sebagai sutradara– pementasan Teater Gandrik di Surabaya, 6-7 Desember mendatang, menurut mantan Pemred Jawa Pos, Arif Afandi selaku penyelanggara pementasan, bahwa Butet kakak kandung Djaduk, menduga Almarhum meninggal karena serangan jantung.

“Djaduk sebetulnya sudah lama menderita sakit jantung. Sejak beberapa tahun lalu,” tulis Arif terkait pengakuan Butet, di media online-nya di Surabaya, ngopibareng.com, Rabu pagi (13/11/2019).

Malahan, Djaduk yang putra bungsu seniman tari kondang –juga pelukis nasional– di era Orde Baru, Bagong Kussudiarjo (Alm) itu pernah didiagnosis dokter untuk operasi pemasangan ring. “Namun, entah karena apa Djaduk membatalkan rencana pemasangan ring,” tulis Arif lagi.

Arif sebagai penggagas repertoar “Para Pensiun” yang disutradarai Djaduk, mengaku beberapa hari lalu Almarhum sempat komunikasi via ponsel. Djaduk bertutur tentang persiapan pentas di Surabaya.

“Tanggal 14, saya mau mengumpulkan teman-teman untuk mulai latihan lagi. Untuk pertunjukan Surabaya,” kutip Arif dari pembicaraan Djaduk.

Tentu, tidak ada yang menyangka pengabdi di dunia kesenian di Tanah Air ini, tidak berumur panjang. Ia bergelut di dunia kesenimanan mengikuti jejak mendiang ayahandanya, sejak duduk di bangku SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) di Yogyakarta. Nama Djaduk populer sebagai aktor nasional khususnya seni teater, setelah ia bersama Butet melambungkan Teater Gandrik. Djaduk memang juga dikenal menyutradarai sejumlah pertunjukan teater.

Baca Juga:  Pakai aplikasi Snapchat kini dapat 5Gb paket kuota IM3 Ooredoo

Selain berproses kreatif sebagai aktor dan sutradara, Djaduk juga dikenal sebagai musisi yang rajin menggali musik-musik etnik. Berkah kreatifitasnya bermusik sarat nuansa eksotika dan eksperimental, PWI Yogyakarta menganugerahi penghargaan “Pemusik Kreatif 1996”. Tahun 2000, Djaduk juga memperoleh penghargaan Grand Prize 2000 dari Unesco.

Kepiawaian Djaduk berkreasi musik ilustrasi untuk setiap pertunjukkann Teater Gandrik, menjadikan kelompok teater yang dipelopori Butet ini berkarakter melengkapi kesejarahan nama besar teater-teater para seniman generasi terdahulu. Sebut Teater Mandiri-nya Putus Wijaya, Teater Popular-nya Tegu Karya, dan Teater Koma-nya N Riantiano, contohnya. Apalagi, Bengkel Teater-nya WS Rendra yang dikenal sebagai pelopor teater modern di tanah air.

Djaduk sebagai musisi semakin bereksistensi, setelah berproses kreatif keukeuh di kelompok musik Kua Etnika. Juga, musik keroncong humor “Sinten Remen”. Djaduk juga dikenal produktif menggarap ilustrasi musik untuk sinetron. Tahun 1995, Djaduk mendapat Piala Vidia sebagai Penata Musik Terbaik 1995 di Festival Sinetron Indonesia.

Ayah lima anak ini juga dikenal menjadi pengisi setia “Jazz Gunung”. Kesetiannya di Kelompok Kua Etnika, tahun ini, bareng Endah Laras menjadi salah satu penampil di Jazz Traffic Festival. Terimakasih, Pren! @ngopibareng_licom_09