Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Dua perangakat desa sebut Padepokan Kanjeng Dimas untuk kegiatan istighosah
Dua perangkat desa bersaksi di sidang kasus Kanjeng Dimas di PN Surabaya, Rabu (13/11/2019). FOTO: ROFIK-LICOM
HEADLINE DEMOKRASI

Dua perangakat desa sebut Padepokan Kanjeng Dimas untuk kegiatan istighosah 

LENSAINDONESIA.COM: Sidang dugaan penggelapan dan penipuan dengan terdakwa Kanjeng Dimas Taat Pribadi kembali digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (13/11/2019).

Sidang kali ini mengagendakan keterangan saksi.

Jaksa penuntut umum (JPU) M Nizar dari Kejati Jatim, menghadirkan dua saksi perangkat Desa yakni, Soleh selaku kepala dusun (Kasun) dan kepala Desa Wangkal, Samsuri.

Jaksa yang mempertanyakan 11 bidang tanah yang dibeli terdakwa sejak 2009 hingga 2012, dibenarkan oleh kedua saksi.

“Tanah tersebut memang dibeli terdakwa dari warga, lokasinya berdekatan dengan padepokan,” ungkapnya.

Sebelas bidang tanah tersebut, menurut saksi dibangun untuk rumah rumah kucing, tempat fitnes dan tenda.

“Tanah yang dibeli beliaunya berupa sawah, ada juga yang masih petok D. Itu (tanah) dibangun buat rumah kucing, tenda untuk Jamaah juga tempat fitnes,” tambah Soleh dan Samsuri.

Disinggung jumlah santri yang datang ke padepokan terdakwa dan adanya mahar, saksi mengaku tidak tahu.

“Kalau santri yang ikut istighosah banyak, mereka datang bergantian. Sekali datang bisa ratusan tapi jumlah pastinya tidak tahu,” ujarnya lebih lanjut.

“Kalau masalah mahar kami juga tidak tahu, karena kami tidak pernah mendengar itu dari santrinya. Jadi kami tidak tahu,” ungkap kedua saksi.

Saksi juga mengungkapakan, kegiatan istighosah dan mengaji di padepokan terdakwa, dilakukan setiap waktu selesai sholat.

“Kami tahunya memang setiap waktu ada istighosah,” ucapnya.

Majelis hakim yang menyinggung terkait adanya penggandaan uang yang dilakukan terdakwa, saksi mengaku tidak pernah tahu. “Kalau itu kami tidak tahu, karena kami tidak pernah masuk kedalam padepokan,” imbuhnya.

Sementara saat ditanya tiga bidang sawah yang dibeli terdakwa, saksi mengaku letaknya agak berjauhan dengan padepokan dan selama ini ditanami padi.

Baca Juga:  Banyak yang tanya kenapa dibangun ruas-ruas tol lingkar Jakarta, ini jawaban Presiden Jokowi

“Kalau yang tiga bidang sawah itu jaraknya agak jauh dari padepokan yang mulia, selama ini ditanami padi. Tapi yang menggarap siapa kami tidak tahu,” kata saksi Samsuri yang dibenarkan oleh Soleh.

Disinggung dengan adanya pihak kepolisian dan TNI yang datang atau adanya pelarangan di padepokan terdakwa, saksi mengaku tidak tahu adanya petugas yang datang.

“Kami tidak pernah masuk, apakah ada Polisi atau TNI yang datang atau memang ada pelarangan, tidak pernah mendengar juga. Tapi setahu kami, beliaunya tidak pernah membatasi siapa saja yang masuk ke padepokan,” papar saksi lebih lanjut.

Sementara disinggung pengurus yang terlibat di padepokan terdakwa serta aktivitas sampai saat ini, saksi mengaku orang dalam. “Kalau pengurusnya orang dalam yang mulia, dan sampai saat ini kegiatan istighosah dan pengajian masih berlangsung,” pungkas keduanya.@rofik