Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
PWI Jatim kumpulkan pemimpin media, kecam polisi borgol Pemred Duta Masyarakat mirip teroris
Pemred Duta Masyarakat, M Kayis diangkut mobil polisi dengan tangan diborgol, dan dibawa ke Polrestas Surabaya. (Kanan), barang-barang awak redaksi Harian Duta Masyaraat berserakan dikeluarkan dari Graha Astranawa. @istimewa
HEADLINE

PWI Jatim kumpulkan pemimpin media, kecam polisi borgol Pemred Duta Masyarakat mirip teroris 

LENSAINDONESIA.COM: Para Wartawan di Jawa Timur mengecam keras dan menyayangkan tindakan berlebihan anggota Polresta Surabaya, mengamankan secara paksa dan memborgol Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Duta Masyarakat. Apalagi, Pemred, M Kayis sempat diangkut mobil dengan tangan diborgol mirip “maling” atau teroris ke Polresta. Ia dianggap menghalangi eksekusi Graha Astranawa, Rabu (13/11/2019).

Wakil Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Timur Lutfi Hakim mengaku prihatin kejadian merendahkan martabat wartawan itu. Pimpinan PWI sepakat mengumpulkan para pemimpin media Nasional dan lokal di Jawa Timur untuk membahas bersama kasus itu, Kamis besok (14/11/2019).

Lutfi berpandangan, tindakan oknum polisi memborgol Pemred Duta Masyarakat itu sangat berlebihan. Apalagi, sikap M. Kayis mempertahankan kantornya agar koran hariannya tetap bisa terbit, merupakan sikap tanggungjawab terhadap profesi wartawan, sebagai nakoda para wartawan dan redaksi di medianya.

“Tindakan oknum polisi yang tidak patut itu sangat menodai hubungan kemitraan antara Polri dan teman-teman media yang selama ini terjalin baik. Apalagi, dilakukan terhadap pemimpin redaksi koran bersejarah bagi kalangan Nahdliyin di Jawa Timur. Jangan sampai jadi preseden buruk hubungan media dan kepolisian,” kata Wakil Ketua PWI Jawa Timur, Lutfi
Hakim kepada LensaIndonesia.com, Rabu (13/11/2019).

Lutfi berharap ada kerjasama Kapolda Jatim dan PWI dalam menyikapi peristiwa tersebut.

“Kita percaya, Kapolda tentunya tidak ingin ada anggota bertindak di luar nalar memperlakukan pemimpin redaksi seperti maling motor atau teroris seperti itu,” kata Wakil Ketua PWI, Lutfi Hakim, menyesalkan

Karena itu, Lutfi berharap ada kerjasama Kapolda Jatim dan PWI dalam menyikapi peristiwa tersebut, dengan menegakkan kedisiplinan dan profesionalitas terhadap anggota yang bertindak menyakiti dan memperlakukan Pemred seperti “maling’ atau teroris.

Baca Juga:  Polisi gagalkan 2 juta pil koplo masuk Surabaya jelang pesta tahun baru

Mantan Ketua PWI Jawa Timur, Akhmad Munir pun menyayangkan dan prihatin terhadap kejadian yang menimpa awak media Harian Duta Masyarakat, yang berjuang agar koran tidak berhenti terbit.

“Turut prihatin. Tetap dan terus semangat Mas Kayis dan Mas Eko Pamuji (Redpel) dan kawan-kawan Duta. Insya’ Allah ada jalan terbaik,” pesan mantan Ketua PWI ini di grup medsos PWI Jawa Timur, Rabu (13/11/2019).

Wakil Ketua PWI Jatim Lutfi Hakim dan H. Machmud mendampingi Ketua PWI Jatim Ainur Rohim saat menerima mandat dari Ketua PWI periode sebelumnya, Akhmad Munir. @dok.wirafokus

“Kok (aneh) ada pemborgolan Pemred. Apa selama ini, mereka gak pernah dibantu wartawan,” protes Edi Purwanto jurnalis Sindonews.com. Padahal, M Kayis menolak eksekusi agar koran tetap terbit ada dasar hukum menunggu proses sidang perlawanan terhadap eksekusi.

Wahyoe Haryanto, anggota PWI yang juga wartawan senior di Jawa Timur bersama para wartawan senior lainnya, termasuk wartawan milenial sepakat mendukung PWI memprotes Kapolda Jatim dan Kapolresta Surabaya.

“PWI Jatim harus mengeluarkan pernyataan resmi memprotes keras kriminalisasi Pemred Duta, dengan melakukan perborgolan,” pinta Wahyoe.

“Apa menolak proses eksekusi itu masuk rana kriminal, atau bahasa kerennya radikdik?,” sindir Yulianto, wartawan media nasional lainnya. .

Diberitakan ramai, Pemred Duta Masyarakat M Kayis diamankan dengan cara diborgol karena menolak eksekusi Graha Astranawa. Ia dibawa ke Polresta Surabaya, kemudian diserahkan ke Polsek Gayungan, Rabu (13/11/2019).

Kayis yang juga wartawan senior di Surabaya ini, melakukan penolakan lantaran mendasarkan permohonan penundaan eksekusi Sebaliknya, petugas eksekutor yang didamping aparat kepolisian memaksa seluruh awak media Harian Duta Masyarakat, saat itu harus mengosongkan kantor koran yang menempati Graha Astranawa di Jalan Gayungsari 35 Surabaya. @tim_licom .