Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Investasi hulu migas harus berkontribusi pada pembentukan PDB nasional
Ilustrasi aktifitas SKK Migas.istimewa
EKONOMI & BISNIS

Investasi hulu migas harus berkontribusi pada pembentukan PDB nasional 

LENSAINDONESIA.COM: Kurun kuartal III tahun 2019, SKK Migas Jabanusa secara nasional lifting gas nya mencapai 1.050 juta kaki kubik per hari, minyak dengan 745 ribu barel per hari.

Hingga September 2019, capaian investasi hulu migas mencapai USD 8,4 miliar dan capaian penerimaan negara dari hulu migas sebesar USD 10,99 miliar.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menyampaikan, mengamati sektor hulu migas pada konteks ekonomi nasional kekinian, tak hanya pada perspektif penerimaan negara yang tergambar secara statistik di APBN saja. Sebab menurutnya, hal ini perlu analisis input dan output bersifat multiplier effect pada investasi hulu migas secara komprehensif.

“Khususnya yang harus diperhatikan ada pada sudut pandang bagaimana investasi dan kegiatan hulu migas memberikan kontribusi pada pembentukan produk domestik bruto (PDB) nasional dan porsi tenaga kerja yang terlibat,” tutur Komaidi dalam keterangan resmi yang diterima Lensaindonesia.com, Rabu (20/11/2019).

Ia menambahkan, dari kegiatan investasi hulu migas memerlukan 73 sektor pendukung dan 45 sektor pengguna. Dari 73 sektor pendukung tersebut, berkontribusi PDB sebesar 55,99 persen dan porsi tenaga kerja yang ditarik sebesar 61,53 persen. Bagi pengguna, besar kontribusi PDB yang dihasilkan mencapai 27,27 persen dan porsi tenaga kerja yang ditarik sebesar 19,34 persen.

“Dari perspektif ini, posisi hulu migas tetap strategis dan mesti didukung semua stakeholder,” tegasnya.

Di tataran global, lanjutnya, kendati inovasi teknologi energi baru terbarukan (EBT) atau energi non-fosil gencar dikampanyekan, trend demand minyak dan gas secara global cenderung merayap naik secara konstan.

“Seperti di India, China, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara hingga tahun 2050 menjadi negara konsumen minyak dan gas pada volume besar, sebab besaran angka demografi dan pertumbuhan ekonomi mereka bergerak konstan,” terangnya.

Jika perang dagang antara Amerika Serikat versus China mereda dan dinamika growth ekonomi global menggeliat kembali, menurutnya, demand migas di pasar internasional bakal terjadi lonjakan signifikan.

“Boleh saja kampanye energi nabati dan EBT terus digeber, tapi konsumen energi berprinsip energi fosil lebih efisien dan terbukti efektif mendukung growth ekonomi dan mobilitas orang di seluruh dunia. Sebwb biaya energi nabati jauh lebih mahal dibanding energi fosil,” pungkas Komaidi.@Rel-Licom