Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
DPN Komunitas Banteng Asli Nusantara rencanakan Kongres perdana di Ibu Kota Baru, hormati Sang Proklamator
Ketum DPN Kombatan Budi Mulyawan (blaser hitam) memimpin rapat konsolidasi DPW Kombatan. @foto:licom_09
HEADLINE

DPN Komunitas Banteng Asli Nusantara rencanakan Kongres perdana di Ibu Kota Baru, hormati Sang Proklamator 

LENSAINDONESIA.COM: Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan) mengagendakan Kongres I DPN Kombatan bertempat di Kutei Kartanegara, Kalimantan Timur, yang merupakan wilayah yang ditetapkan Pemerintah menjadi Ibu Kota yang baru, pada awal Februari 2020.

Kongres DPN Kombatan tersebut akan diikuti seluruh pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan perwakilan DPC
(Dewan Pimpinan Cabang) Kombatan dari seluruh Indonesia.

“Seluruh pengurus DPW Kombatan yang sudah terbentuk, termasuk perwakilan dari pengurus DPC-DPC akan menjadi peserta dalam Kongres DPN Kombatan pertama nanti,” kata Ketua Umum DPN Kombatan, Budi Mulyawan, SH saat memimpin rapat konsolidasi perwakilan DPW Kombatan, Jumat (29/11/2019), di Kantor DPN Kombatan, Jalan Layur No 3A, Jakarta Timur.

Perhelatan Kongres I Kombatan itu merupakan tindak lanjut dari rapat-rapat konsolidasi DPW dan DPC Kombatan. Konsolidasi dilakukan pasca DPN Kombatan selama dua tahun “all out” menjadi relawan militan pendukung Presiden Joko Widodo berpasangan dengan KH Ma’ruf Amin saat Pilpres 2019.

“Setelah tujuan Pilpres 2019 sukses, Kombatan yang sebelumnya hanya relawan dan tersebar di daerah-daerah, langsung
melakukan konsolidasi untuk menjadi Organisasi Masyarakat (Ormas) berbasis nasionalisme sesuai ajaran Proklamator Ir
Soekarno dan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945,” kata Budi Mulyawan, yang akrab dipanggil Cepi.

Agenda Kongres, menurut Budi Mulyawan, akan dilakukan pengukuhan secara resmi para pengurus DPW dan DPC yang selama ini sudah melakukan konsolidasi. Selain itu, juga akan membahas program kerja Kombatan setelah didaftarkan ke Kemenkumham dan dilaporkan secara resmi ke Kemendagri.

“Sebagai Ormas penerus cita-cita Proklamator Bung Karno dalam menegakkan NKRI, pengurus dan anggota Kombatan terbuka bagi siapa pun warga negara Indonesia. Semangat ini yang melatarbelakangi Kombatan perlu menjadi Ormas, di tengah gencarnya pengaruh global, yang menjadi ancaman NKRI,” kata Budi Mulyawan.

Baca Juga:  Pabrik polietilena baru di Cilegon akan dikembangkan lagi untuk kurangi ketergantungan impor

ALASAN KONGRES DI KALIMANTAN

Menurut Budi Mulyawan, pertimbangan memilih provinsi Kalimantan Timur yang ditetapkan Pemerintahan Jokowi, menjadi ibu kota menggantikan DKI Jakarta, sebagai lokasi kongres perdana Kombatan, semata-mata karena Kombatan ingin menghormati Proklamator Ir Soekarno yang tahun 1954, berkeinginan memindahkan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke wilayah Indonesia bagian Timur.

“Kenegarawan Ir Soekarno yang diakui dunia, tentu sudah mempertimbangkan dari segala aspek kenapa ingin memindahkan
lokasi ibu kota dari Jakarta ke wilayah kepulauan Kalimantan, meski pun saat ini diwacanakan Palangkaraya. Kami juga
sangat menghargai keputusan Presiden Jokowi memilih Kutei Kartanegara dan Penajem Pasir menjadi ibu kota Indonesia.
Mengingat, era perkembangan zaman sudah berubah,” tutur Budi Mulyawan.

Rapat konsolidasi DPN Kombatan yang berlangsung Pukul 14.00 WIB sampai Pukul 20.00 WIB, selain dipimpin langsung Ketum Kombatan Budi Mulyawan, dan Sekretaris I Dharma Setiawan. Juga dihadiri penasihat DPN Kombatan, Max Siso politikus senior PDI Perjuangan. Dewan penasihat DPN Kombatan, selain Max Siso, juga Sidharto Danusubroto, Eros Djarot, dan Menteri Sosial Juliari Batubara, MBA.

Soal dipilihnya nama Banteng Asli Nusantara, politikus senior Max Siso mengatakan, bukan karena ada banteng palsu. Nama banteng asli ini merupakan banteng yang diperkenalkan Proklamator Ir Soekarno bermakna simbol kerakyatan.

“Simbol Banteng juga ada dalam lambang Pancasila, yang juga dari hasil pemikiran besar Proklamator Ir Soekarno. Sebagai penerus cita-cita Bung Karno dalam berkebangsaan, sehingga Kombatan memilih simbol ini,” kata Max Siso seraya bercanda, jadi jangan disamakan dengan bantengnya orang Itali yang dikenal dengan matador. @licom_09