Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Konser Budaya “Satoe Hati” di Depok, Forum Wartawan Jakarta sosialisasi kearifan lokal
Forum Wartawan Jakarta (FWJ) sosialisasikan budaya kearifan lokal, menggelar panggung rakyat "Konser Budaya Satoe Hati" di Depok . @foto:fwj
JABODETABEK

Konser Budaya “Satoe Hati” di Depok, Forum Wartawan Jakarta sosialisasi kearifan lokal 

LENSAINDONESIA.COM: Forum Wartawan Jakarta (FWJ) kembali menggelar panggung rakyat bernuansa budaya kearifan lokal. Event yang ditampilkan lebih mengarah sosialisasi kebudayaan atau kearifan lokal menjadi harga diri bangsa. Acara ini digelar di Lapangan Sanca, Jalan Bhakti Abri, Sukamaju Tapos, Depok, Jawa Barat.

Ketua Forum Wartawan Jakarta, Mustofa Hadi Karya –akrab disapa Opan— menegaskan FWJ peduli menyosialisasikan budaya kearifan lokal menjadi ujung tombak harga diri bangsa.

“Kali ini, kita mengangkat unsur budaya kearifan lokal untuk menyosialisasikan budaya sebagai harga diri bangsa. Saatnya, sosialisasi bahwa kebudayaan (kearifan lokal) menjadi ujung tombak bangsa,” kata Opan.

Menurutnya, sebagai insan pers yang juga pegiat kebudayaan harus lebih memperhatikan hal-hal sensitif bangsa. Meski kritis mengemban pilar demokrasi, namun harus punya empati menjaga kebudayaan sebagai harga diri bangsa.

“Saatnya, kita untuk maju guna mengembangkan kebudayaan bangsa sendiri. Karena kebudayaan adalah harga diri bangsa. Ketika kita tidak memiliki harga diri, maka bangsa ini akan jatuh dalam keterpurukan. Kita sepakat NKRI harga mati, namun kebudayaan juga harga diri bangsa,” papar Opan.

Diakui Opan, meski panggung rakyat yang digelar FWJ tanpa dukungan pendanaan dari Pemkot Depok maupun dari Dewan Kesenian Depok, semangat kerja team work FWJ menjadi penentu suksesnya panggung rakyat ini.

Kegiatan bertajuk “Konser Satoe Hati” ini dimulai sejak Jumat (29/11/2019) Pukul 15.00 WIB. Pembukaan acara ni dihadiri Kakan Kesbangpol Kota Depok Hakim Siregar, Perwakilan dari Kodim 0508/Depok, perwakilan Polresta Depok, perwakilan PWRI Kota Depok, Sekber Wartawan Depok, DPC Brinus Depok, Ikatan Pemuda Bhakti Abri yang diketuai Dody.

Panggung rakyat ini menampilan kreatifitas seni tari khas lokal Jawa Barat. Masyarakat juga dihibur artis-artis seperti Dimas Moersass, Ayu Gemulai, Dea Bacan, Fanny Sumapode, Yossi, dan Duo Singa.

Opan menyampaikan terimakasih kepada beberapa pengurus Forum Wartawan Jakarta. Antara lain, Wulan, Boim, Koko, dan dari Ikatan Pemuda Bhakti Abri yang diketuai Dodi beserta anggotanya Dede, dan Dayat maupun sahabat FWJ yang telah gigih memperjuangkan event tersebut.

“Kami menyayangkan Pemerintahan Kota Depok maupun Kepolisian Polresta Depok belum memahami tentang pentingnya kebudayaan sebagai harga diri bangsa. Meski Pemkot Depok dan Polresta tidak memberi dukungan pendanaan, namun kami tetap menjalankan acara ini dengan keterbatasan yang ada. Tanpa teman-teman dan kerja tim work yang solid, mungkin tidak akan terjadi pelaksanaan event ini, ” urainya.

Ketua FWJ Opan (celana hitam dan bertopi pet) sukses mewujudkan program panggung rakyat “Konser Budaya Satoe Hati”, meski tanpa dukungan dana Pemkot Depok. Nampak artis pendukung konser turut foto bersama perwakilan dari Polres dan Kondim Depok, serta jajaran Pemkot, serta elemen masyarakat Depok. #foto:fwj

Opan kembali mempertegas, sebagai jurnalis harus memiliki kesadaran mendasar bahwa suatu bangsa akan hancur jika kebudayaannya diabaikan. Bahkan, dapat dan mematikan semangat generasinya. Terlebih mengabaikan kebudayaan, maka bangsa itu tidak memiliki harga diri.

Untuk itu, lanjut Opan, mengapa Forum Wartawan Jakarta (FWJ) mensosialisasikan bagaimana kebudayaan ini disatukan dalam rasa, dalam hati yang dibalut dalam “Konser Budaya Satoe Hati”.

“Saya mengajak teman-teman sesame jurnalis agar tahu dan memahami bahwa tugas wartawan sebagai fungsi nyata yang berinovasi, berkarya, dan melakukan banyak hal untuk Negeri ini,” kata dia.

“Kita boleh saja mengkritik ketidakwajaran yang dilihat, didengar. Namun, sebagai peran kontrol sosial dan bagian dari empat pilar demokrasi, kita insan pers harus peduli terhadap harga diri bangsa. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa pemerintah, termasuk di daerah harus jeli dan memahami arah bangsa. Jangan sampai generasi, selanjutnya tak mengenal budayanya sendiri,” tegas Opan.

Pria yang kerap kritis, tegas dan bergelut di berbagai organisasi kewartawanan ini miris ketika melihat produk budaya kearifan lokal tergerus arus global hingga lambat laun sirna. Apalagi, kebudayaan nasional banyak diklaim luar negri, namun pemerintah Indonesia tidak hadir menyelamatkan.

“Konsep sosialisasi kebudayaan jangan disepelekan, justru pemerintah harus mendukung penuh guna membangkitkan gairah kebangsaan dan kearifan lokal,” kata Opan. @fwj