Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Amblas! Jika pengusaha lama latahan ikut pola bakar uang
Bisnis startup tren dengan bakar uang. Ilustrasi-istimewa
Bisnis

Amblas! Jika pengusaha lama latahan ikut pola bakar uang 

LENSAINDONESIA.COM: Pakar bisnis Prof Rhenald Kasali berpendapat, kini marak pengusaha melakukan perang bakar uang tanpa memahami DNA lawan yang dihadapi berbeda.

“Tren bakar uang membuat pengusaha lama terganggu hingga latahan demi mengimbangi persaingan. Motifnya, untuk mempertahankan pelanggan. Padahal business model dan value creation yang terjadi pada bisnis model lama dengan startup itu berbeda jauh,” ujarnya di sela-sela konferensi international di Bali Selasa, (03/07/2019).

Ia menambahkan, DNA keduanya sangat bertolak belakang dan struktur, proses bisnis dan manajemen barbeda. Faktanya, keleluasaan gerak dan struktur biaya membedakan mereka di pasar.

“Basis manajemen pemain-pemain lama itu adalah heavy assets, sangat tangible, controlling, supply-side, skala ekonomis, dan sangat mengandalkan branding. Ini berbeda dengan basis manajemen start-up yang light assets, intangibles, orkestrasi ekosistem, data, dan mengandalkan review dan rating. Untuk itu, pemain baru menempuh mobilisasi ketimbang marketing, dan orkestrasi ketimbang manajemen,” tandasnya.

Dengan demikian, sebagian proses bakar uang sudah memasuki tahap stabil dan tak perlu saling berperang. Hal ini namoak jelas pada bisnis transportasi.

Namun, pertempuran besar masih bakal terjadi di sektor retail dan e commerce, dan betpotensi ricuh ada di sektor keuangan, kesehatan dan pendidikan.

Ia mengingatkan, keluhan chairman Lippo terkait strategi bakar uang yang harus dihentikan grup ini dengan menjual sebagian besar sahamnya di OVO merupakan fenomena baru.

“Saya menyebutnya sebagai pertatungan antara old power vs new power. Bakar uang itu tradisi new power yang sudah dilakukan sejak awal revolusi industri oleh setiap pendatang baru atau pendobrak pasar. Namun kini mereka datang dengan strategi longtail. Ekornya terlihat dulu tapi panjang sekali, sedangkan sosok hewannya baru nampak 10-20 tahun ke depan. Sedangkan oldpower maunya selalu melihat hewannya dulu, baru ekor pedeknya di belakang,” tuturnya.

Baca Juga:  Ratusan Massa tuntut “penghinaan Nabi” di DPRD Kota Bekasi, PKS janji teruskan ke DPR RI

Masalahnya, lanjut Rhenald, pembakar uang di era start up itu sangat light asetnya dan bukan dibiayai dari hutang bank. Jadi nanti di dunia startup bakal berbeda antara EBITDA dengan EAT (pendapatan bersih) yang tidak selisih jauh.

“Depresiasi dan interest charges-nya mendekati zero. Dan sebaliknya bagi oldpower, terkondisi dengan heavy assets dan hutang bank berakibat laporan keuangan sangat cepat terbebani depresiasi dan biaya bunga. Ini saja sudah membuat oldpower nervous dengan strategi bakar uang,” ucap Rhenald.

Untuk berhasil memasuki era baru, ia menyarankan agar pengusaha paham karakter manajemen dunia baru.

“Ubah mindset dan lakukan transformasi mendasar. Jangan latahan ikut mendigitalisasi atau melakukan akuisisi startup sembarangan jika struktur DNAnya masih oldpower,” pungkas Rhenald.@Rel-Licom