Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
FWJ kecam keras dan minta polisi usut tuntas oknum Ormas Tangsel aniaya wartawan saat liput demo
Aksi FBR di Balai Kota Tangerang Selatan, Selasa (3/12/2019). @foto:ist
HEADLINE

FWJ kecam keras dan minta polisi usut tuntas oknum Ormas Tangsel aniaya wartawan saat liput demo 

LENSAINDONESIA.COM: Forum Wartawan Jakarta (FWJ) mengecam aksi kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan Kabar6.com, Eka Huda Rizki Rangkuti, yang dilakukan oknum Ormas FBR (Forum Betawi Rempug) di Tangerang Selatan. Ketua FWJ, Opan juga mendukung peristiwa ini dilaporkan ke polisi, dan minta kepolisian mengusut tuntas.
FWJ sangat prihatin dan menaruh perhatian serius aksi kekerasan itu, karena terjadi saat korban melakukan perkerjaan jurnalistik.

“FWJ prihatin dan mengecam keras. Aksi tindak kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan seperti ini tidak bisa dibiarkan terus terulang. Kepolisian harus mengusut tuntas, karena wartawan bekerja dilindungi Undang Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999,” papar Ketua FWJ Opan, Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Ketua FWJ, Mustofa Hadi Karya (Opan) bersama penasihat FWJ, Joko Irianto Hamid, menegaskan bahwa siapa pun tidak berhak menghalangi tugas wartawan meliput berita yang dilindungi Undang Undang. Apalagi, menyepelekan dan menyamakan dengan para pegiat media sosial.

“Bagi yang sengaja menghalangi tugas jurnalistik, sebagaimana diatur Pasal 18 ayat 1 UU Nomor 40 Tahun 1999, dapat diancam pidana kurungan selama 2 tahun dan denda maksimal Rp 500 juta,” tegas Ketua FWJ, yang anggotanya juga tak sedikit bertugas di Jabodetabek ini.

Sebelumnya, wartawan Eka Huda Rizki Rangkuti didampingi pimpinan Kabar6.com, Sukardin melaporkan kejadian tersebut ke Polres Tangerang Selatan, Rabu dini hari (4/12/2019). “Ini termasuk tindakan premanisme, wartawan kita sudah mengakui kalau dia wartawan dan ingin meliput, tapi masih dianiaya,” kata Sukardin, yang juga pengacara saat melapor di Polres, dikutip Kabar6.com, Rabu (4/12/2019).

Sukardin mengatakan, selain melaporkan dugaan melanggar UU Nomor 40 Tahun 1999, pihaknya juga melaporkan tindak penganiayaan yang diatur Pasal 351 KUHP.

Kejadiannya berawal Selasa siang (3/12/2019), wartawan Eka berada di dalam masjid melihat ada konvoi kendaraan roda empat dan roda dua. Konvoi ini merupakan massa FBR yang berdemo di Balai Kota Tangerang Selatanl.

Baca Juga:  Kakek Bekasi 2/3 abad dituntut penjara 3,6 tahun, "dikambinghitamkan" tipu tanah sendiri

Eka berniat meliput peristiwa itu, dan bermaksud mengambil gambar pakai smartphone. Beberapa oknum FBR menghardik.

“Lu, gerombolan Satpol PP, ya!,” teriak salah seorang oknum ditirukan Eka. “Hapus, gak Lu!,” teriak yang lain.

Karena belum mengambil gambar, Eka pun berkata jujur. Tapi, beberapa oknum tetap emosi. Mereka tak mau peduli meski Eka mengaku wartawan dengan menunjukkan kartu identitas.

“Bohong, Lu! Coba lihat HP Lu, “ teriak di antara mereka, tak percaya Eka belum mengambil gambar foto.

Kemudian, Eka diamankan seorang wanita anggota FBR yang berniat meredam. Tapi, beberapa orang masih mengejar sambil membentak-bentak dan menarik-narik tangan Eka hingga terdapat luka cakaran tangan. Bahkan, Eka juga nyaris ditabrak motor salah seorang di antara mereka. Tapi, wanita tadi melerai.

“Ini termasuk tindakan premanisme. Sudah mengaku wartawan dan ingin meliput, asih dianiaya,” kata Sukardin. @sof