Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Kombatan dukung Jokowi bersihkan anasir-anasir penjerumus di dalam Istana
Presiden Jokowi saat akan memimpin rapat terbatas di Istana Negara. @foto: dok. setpres
HEADLINE

Kombatan dukung Jokowi bersihkan anasir-anasir penjerumus di dalam Istana 

LENSAINDONESIA.COM: Kombatan (Komunitas Banteng Asli Nusantara) prihatin isu seksi dalam sepekan ini terkait ada pihak-pihak ‘menyelam sambil minum air’, yang berniat menampar dan menjerumuskan Presiden Joko Widodo, karena mewacanakan jabatan presiden tiga periode. Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kombatan, Budi Mulyawan, mendukung apabila Presiden membersihkan mereka yang mengeksploitasi power Istana.

“Pernyataan Presiden mengibaratkan ‘ditampar’ dan dijerumuskan, jelas itu teguran keras sekali di awal kepemimpinan periode keduanya ini. Jangan ada yang menganggap ‘enteng’ dan ‘angin lewat’, Presiden layak membersihkan musuh-musuh dalam selimut tidak hanya di luar istana, tapi juga di dalam Istana,” kata Ketua Umum (Ketum) DPN Kombatan, Budi Mulyawan, Jakarta, Sabtu (7/12/2019).

Budi Mulyawan menyampaikan, pemerintahan Presiden Jokowi periode kedua ini memang momentum sangat strategis dimanfaatkan para anasir politik. Bukan hanya bagi mereka yang sengaja ingin cari muka untuk kepentingan pragmatis. Tapi, sangat strategis pula bagi yang mengincar peluang politik ke depan pasca pemerintahan periode kedua berakhir.

“Pihak-pihak yang dimaksud Presiden Jokowi akan menampar dan menjerumuskan itu, tentu saja lantaran ambisi mengincar peluang besar kekuasaan politik ke depan. Mengingat, pemerintahan Jokowi periode kedua diperkirakan akan kondusif situasi politik internal dan eksternalnya, paling lama dua tahun. Selebihnya, semua partai ancang-ancang memburu peluang politik Pemilu 2024,” tutur Budi Mulyawan, yang akrab dipanggil Cepi.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kombatan, Budi Mulyawan. @foto: dok.ist

Diketahui, Presiden Joko Widodo buka suara kepada jurnalis dengan nada keras soal wacana amandemen UUD 1945. Usulan amandemen, yaitu hendak mengembalikan pemilihan presiden oleh MPR, dan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode. Termasuk, ada usulan presiden satu kali menjabat 8 tahun. Jokowi menolak dengan tegas semua usulan itu.

“Kalau ada yang usulkan presiden 3 periode ada tiga (motif) menurut saya, ingin menampar muka saya, cari muka, atau menjerumsukan,” kata Presiden di Istana Negara, dikutip LensaIndonesia.com (Senin (2/12/2019).

Ketum Kombatan ini menyampaikan, anasir-anasir politik yang setiap saat bisa mengganggu kinerja Pemerintahan Jokowi itu bukan hanya di luar Istana. Tapi, menurut Budi Mulyawan, paling membahayakan justru berkeliaran leluasa di dalam lingkaran Istana Negara.

“Kombatan sangat mendukung harus ada clearing di dalam Istana. Karena bisa cari muka, bisa menampar, bahkan juga bisa menjerumuskan seperti yang diungkapkan Pak Jokowi sendiri,” tegas Ketum Kombatan yang kini jadi Ormas bersimbol banteng kerakyatannya Proklamator Ir Soekarno, dan terdapat di lambang Pancasila.

Skema politik paling krusial, lanjut Cepi, Jokowi tidak memiliki power full seperti presiden-presiden sebelumnya yang juga pimpinan partai besar, seperti SBY yang Ketua Umum Demokrat atau Megawati yang Ketua Umum PDI Perjuangan. Sehingga, Jokowi bargaining position-nya tidak sekuat presiden yang pimpinan partai tersebut.

“Karena bukan pimpinan partai, pernyataan keras Presiden Jokowi menolak wacana presiden tiga kali dan tidak setuju nantinya presiden dipilih MPR, sangat mungkin akan melunak jika situasi politik ke nanti sampai membuat bargaining position Jokowi semakin melemah,” tuturnya.

Walau begitu, Cepi berpandangan sebaliknya, bahwa Jokowi bisa menciptakan ‘bargaining position’ lebih kuat dibanding presiden yang pimpinan parpol. Menurutnya, Presiden harus ‘clearing’ dari orang-orang yang masuk tiga kategori yang diungkapkan secara terbuka tersebut.

“Lebih krusial, Presiden harus berani menyeleksi lagi dan membersihkan dari pemain-pemaian yang masuk kategori penjerumus, penampar, dan pencari muka yang ada di dalam Istana. Kalau ini dilakukan, baik politik yang sedang berproses maupun politik 2024, posisi tawar Pak Jokowi tidak bisa dipermainkan,” pungkas Budi Mulyawan. @licom_09