Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Instansi di Jatim diduga merekomendasi peredaran daging kerbau eks impor dari India
Daging kerbau eks impor dari India beredar di tradisional Surabaya. FOTO: PPSDS Jatim
EKONOMI & BISNIS

Instansi di Jatim diduga merekomendasi peredaran daging kerbau eks impor dari India 

LENSAINDONESIA.COM: Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) menyayangkan sikap pemerintah yang kurang tanggap terhadap mahalnya harga sapi siap potong menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2020. Padahal, terjadinya harga stabil mahal ini telah berlangsung sejak Idul Adha Agustus 2019 lalu.

Ketua PPSDS Muthowif mengatakan, pemerintah lamban mengatasi mahalnya sapi siap potong ini. Selaku pemegang kebijakan, pemerintah juga tidak melakukan perbaikan tata niaga perdagangan antar provinsi. Justru, pemerintah ‘menyebar’ daging kerbau eks impor dari India untuk menutupi permintaan daging sapi.

Menurut Mothowif, mahalnya harga sapi siap potong dan maraknya peredaran daging kerbau impor di pasar-pasar, otomatis jumlah pemotongan sapi di RPH (Rumah Potong Hewan) pun menurun secara drastis.

“Daging kerbau eks impor dari India masuk ke Jatim secara bebas,” kata Muthowif kepada lensaindonesia.com di Surabaya, Senin malam (09/12/2019).

“Biasanya menjelang natal dan tahun baru permintaan daging mengalami kenaikan, tapi pada tahun ini permintaan daging segar mengalami penurunan. Buktinya adalah jumlah sapi yang dipotong di RPH mengalami penurunan yang drastis. Sebelum Idul Adha pemotongan masih 150 ekor sapi perhari, pada bulan September kemaren yang di potong sekitar 105 ekor tiap hari. Padahal jumlah penduduk terus bertambah dari tahun ke tahun,” sebutnya.

Muthowif menyampaikan, masuknya daging kerbau eks impor secara bebas ke pasar-pasar tradisional di wilayah Jatim ini diduga karena mendapat rekomendasi dari instansi terkait di Jatim.

“Yang pasti, daging kerbau eks impor dari India ini dipasok oleh instansi pemerintah juga. Daging eks impor ini diambil dari Jakarta,” sebut Muthowif.

Peredaran daging kerbau eks impor dari India di Surabaya. FOTO: PPSDS Jatim

Saat ini, daging kerbau eks impor tersebut telah beredar di pasar-pasar tradisional di Surabaya dan beberapa daerah di Jatim.

Muthowif menyatakan, kebijakan (rekomendasi) ini sangat bertentangan dengan semangat surat edaran (SE) Gubernur Jatim tahun 2010, yang melindungi peternak tradisianal yang ada di Jawa Timur.

“Pemahaman kami sampai saat ini SE Gubernur yang dibuat pada tahun 2010 tersebut pabelum direvisi, sehingga daging yang masuk ke Jatim bisa dikatakan ilegal. Dan sampai saat ini, belum ada kebijakan yang bersifat strategis untuk menjadikan Jawa Timur mensukseskan swasembada daging,” tandasnya.@LI-13