LENSAINDONESIA.COM: Buku “Cerita dari Sudut Istana” selama pemerintahan Presiden Joko Widodo periode pertama, akhirnya diluncurkan pada Kamis (12/12/2019), di Wisma Antara Lt.2, Jalan Merdeka Selatan 17, Jakarta Pusat.

Buku setebal 350 halaman ini, ditulis dua pegiat komunikasi berlatar belakang jurnalis yang selama Pemerintahan Presiden Jokowi periode pertama, bergabung di Kantor Staf Presiden (KSP) yang dipimpin Jenderal (Purn TNI) Moeldoko. Keduanya, yaitu Alois Wisnuhardana dan Jojo Raharjo.

Peluncuran buku tersebut juga menghelat diskusi publik, menghadirkan narasumber yang memahami dinamika komunikasi publik di Pemerintahan Presiden Jokowi. Antara lain, Prof Dr Widodo Muktiyo (Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika), Ali Mohtar Ngabalin (Tenaga Ahli Utama Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden 2018-2019), Fajroel Rachman (Juru Bicara Presiden dan Staf Khusus Presiden 2019-2024).

Sebagai penulis buku, Jojo Raharjo dan Alois Hardana yang ikut jadi narasumber dalam diskusi publik ini, dipastikan akan membeberkan pengalaman empirisnya yang dideskripsikan dengan tajuk ‘Cerita dari Sudut Istana: Kisah Tentang Peristiwa dan Berita yang Menghiasi Panggung Media’: Perspektif Government Public Relations dalam Membangun Narasi Positif di tengah Membanjirnya Hoaks dan Skeptisisme Terhadap Pemerintah”.

“Terlalu banyak pembelajaran yang berharga, yang jika tidak ditulis atau didokumentasikan, akan menguap sia-sia,” demikian pengakuan Alois dan Jojo, mengapa menerbitkan buku ini sebagaimana diuraikan dalam pengantar buku yang diterbitkan PT Kompas Gramedia Pustaka Utama (Kompas Gramedia) Jakarta.

Diskusi publik peluncuran buku ini dipandu moderator Cindy Sistyarani (KompasTv).

Penulis buku, Alois Wisnu Hardana (kanan) dan Jojo Raharjo. @foto: dok.jojo

Penulis mengakui, isi buku ini lebih banyak bercerita bagaimana sebuah peristiwa di Istana Kepresidenan diolah dan distribusikan dari salah satu sudut di kompleks tersebut, tepatnya di salah satu ruangan di Gedung Bina Graha.

“Selama kurang lebih empat tahun terakhir, kami diberi tanggung jawab untuk mengelola pemberitaan atas substansi yang dikerjakan Kantor Staf Presiden terkait program-program strategis dan program prioritas nasional yang dijalankan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla,” ungkap penulis.

Tidak hanya itu. Pelbagai rumor, isu, fitnah, berita palsu, sering kali juga membuat fokus pekerjaan juga tersita untuk menangani dan mengelola hal-hal semacam itu. “Kami memilih topik-topik yang dibahas di buku ini dari ribuan peristiwa, kegiatan, dan program yang bersumber pada Istana Kepresidenan, dengan pertimbangan topik-topik tersebut memiliki dimensi yang lebih kompleks daripada sekadar pekerjaan kehumasan atau diseminasi informasi,” papar penulis lagi.

“Kami juga berterima kasih kepada para kolega di Kantor Staf Presiden yang telah bekerja sama dan membantu memikul tanggung jawab ini secara bersama-sama. Terima kasih pula kepada para pengelola media, baik yang berada di lingkungan Istana Kepresidenan maupun yang di luar, atas kerja sama dan dukungan yang telah diberikan,” imbuh penulis.

Penulis mengakui bukunya itu tidak berpretensi mengisahkan secara utuh dan lengkap apa saja yang terjadi di dalam Istana Kepresidenan dan segala aktivitas dan dinamika yang ada. “Kami menyusunnya sebagai suatu cerita, yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi publik yang selama ini banyak berurusan dengan media, komunikasi, kehumasan, dengan segala dinamika dan tantangannya,” ungkap penulis.

Menurut Jojo mengawali peluncuran bukunya ini, pihak Gramedia mencetak 3000 eksemplar. Buku ini tentunya, akan beredar di toko-toko buku Kompas Gamedia di seluruh Indonesia. “Cetak pertama 3000 eksemplar,” kata Jojo, yang mantan jurnalis media Grup Jawa Pos, asal Surabaya ini. @licom_09