LENSAINDONESIA.COM: Forum Energi Muda, “ID Next Leader (IDNL)”, meski baru sebulan didirikan di Indonesia, namun berhasil menarik minat 37 mentor/tokoh senior dari berbagai latar belakang. Juga 200 lebih pemimpin potensial, dan 2 IDNL regional di Jawa Tengah dan Sumatera Utara.

“Tren ini adalah bukti IDNL diterima secara positif oleh masyarakat Indonesia”, kata Ferro Ferizka, selaku pendiri dan Presdir IDNL dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (12/12/2019).

ID Next Leader (IDNL) adalah sebuah gerakan strategis, non-profit, dengan semangat untuk: mencari, mengakselerasi, dan menjejaringkan pemimpin-pemimpin potensial Indonesia di masa mendatang, di berbagai sektor, dan berbagai tingkatan.

Di lain sisi, Ferro menjelaskan, Forum Energi Muda merupakan sebuah forum diskusi dan networking bagi mereka yang memiliki ketertarikan dan/atau terlibat di sektor energi. IDNL didirikan oleh Ferro Ferizka dan Hokkop Situngkir.

Forum Energi Muda ini diinisiasi awardee LPDP yang tergabung dalam LPDP Energy Related Studies, namun tidak bersifat eksklusif hanya untuk LPDP awardee.

“IDNL ingin menjadi sebuah Gerakan yang bisa menghimpun para calon pemimpin, pemikir, dan innovator, dari berbagai latar belakang, yang nantinya akan kami jembatani supaya mereka bisa menciptakan perubahan bagi Indonesia,” kata Ferro.

IDNL, lanjut dia, berusaha menjembatani para pemimpin potensial tersebut, untuk menciptakan perubahan, melalui 3 cara: (1) melalui pemikiran mereka, (2) dengan mensinergikan apa yang mereka kerjakan dengan pemerintah.

“Atau, ketiga, jika dibutuhkan, masuk dan melakukan perubahan dari dalam,” imbuh pendiri Forum Energi Muda, yang Kamis (12/12/2019), menggelar event “Renewable Energy: Harga Mati”, bekerja sama dengan FEM, di Jakarta.
Event “Renewable Energy: Harga Mati” ini, menurut dia, untuk memberikan wawasan mengapa Renewable Energy adalah wajib, dilihat dari perspektif dampak terhadap lingkungan; Pemahaman mengenai EBT dari perspektif pelaku industri, wawasan mengenai nilai ekonomis dari EBT itu sendiri, dan pemahaman mengapa kita perlu menumbuhkan nilai-nilai kepemimpinan dalam sektor EBT kepada generasi saat ini.

Event IDNL dan FEM, kali ini, menghadirkan enam pembicara dan yang akan dimoderasi oleh Hokkop Situngkir, Direktur PT Waskita Sangir Energi dan juga Executive Director IDNL. Hokkop juga tokoh nasional yang aktif mengadvokasi renewable energi di Indonesia.

“Energi Baru terbarukan bukan pilihan tapi keharusan. Untuk itu, saya membawa diskusi ini ke tingkat nasional dan menghadirkan sahabat-sahabat saya yang memang sudah berkecimpung di dalamnya”, ungkap Hokkop SItungkir.

“Renewable Energy: Harga Mati” menjadi bahasan aktual para milenial ID Next Leader, di Jakarta, Kamis (12/12/2019. @foto: idnl

“Energi fosil adalah masa lalu, akan segera habis. Sebagai pemimpin, kita harus bertanya, Habis ini Apa? What’s Next? Renewable Energy inilah ‘The Next Big Thing’ dunia. Diskusi seperti ini akan sering saya inisiasi ke depannya”, tambah Hokkop.

Acara ini dibuka Arya Sinulingga selaku Staf Khusus Kementerian BUMN dan juga Komisaris INALUM. “Saya mendukung penuh kegiatan positif seperti yang dilakukan Ferro dan Hokkop. Hal ini perlu lebih banyak, lebih sering. Dan lebih massif”, ungkap Arya.

Enam pembicara pada event ini masing-masing berbicara berdasarkan keahlian dan pengalamannya.

Rida Mulyana, misalnya, berbicara dalam kapasitasnya sebagai Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, KESDM. Ia dilantik Mantan Menteri ESDM, Ignasius Jonan pada Februari 2019 untuk mengemban tanggung jawab yang besar, yakni penggunaan lebih banyak renewable energy bagi ketenagalistrikan nasional.

Sebelumnya, Rida pernah menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM.

Adhityani Putri selaku Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah (sebelum nya dikenal dengan CERA – Centre for Energy Research Asia), yang merupakan pusat kajian kebijakan dan komunikasi strategis untuk energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia.

Dhitri berkarir lebih dari 10 tahun dengan rekam jejak tanggung jawab yang beragam, mulai dari jurnalisme lingkungan hingga manajemen pengembangan untuk riset kebijakan publik dengan fokus pada perubahan iklim, energi berkelanjutan dan efisiensi energi.

Kirana Sastra Wijaya selaku Senior Partner Umbra Law. Ia berbagi pengalamannya yang relatif panjang lebih dari 14 tahun dalam bidang pengembangan dan pembiayaan energi dan infrastruktur. Ia juga specialist dalam power development, power M&A, pembiayaan proyek dan kerjasama pemerintahan maupun BUMD; memiliki pengalaman yang signifikan dalam memberikan nasihat dan mewakili klien dalam renewable energy (terutama gheotermal dan hydro).

Narasumber Refi Kunaefi, lain lagi. Ia berbicara dalam kapasitasnya sebagai Managing Director Akuo Energy Indonesia. Refi seorang profesional dalam bidang energi, terutama pada bidang energi baru terbarukan. Ia memulai karirnya sebagai field engineer di salah satu perusahaan terkemuka di dunia dalam oil & gas service yakni Schlumberger, hingga saat ini menjadi seorang sustainability enthusiast dengan focus utama yang berhubungan ke energi baru dan terbarukan.

Di Akuo Indonesia, Refi mengemban tanggung jawab untuk pengembangan portofolio renewable energy lebih dari 500 MW dalam berbagai teknologi mulai dari tenaga matahari, air, angin, biomasa, dan Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC).

Begitu pula Lukman Adi Prananto, yang Vice President – Strategic Investment dan Partnership PT. PP Energi. Ia seorang profesional yang memulai karir sejak 2010 sebagai Project Engineer di Toshiba dengan spesialisasi pada Thermal Power Plant, sempat mengabdikan diri sebagai Energy Expert di BAPPENAS hingga saat ini berkontribusi untuk salah satu BUMN yang berfokus dalam energi yaitu PT. PP Energi.

Pembicara keenam, Florian Kitt, yang merupakan seorang energy specialist berasal dari Jerman. Dia memiliki pengetahuan yang dalam mengenai social, lingkungan dan iklim serta masalah infrastruktur di Asia Pasifik dan Oceania.

Florian memiliki pengalaman yang cukup panjang, kurang lebih 5 tahun bekerja untuk Bank Dunia yang secara spesifik menaruh perhatian lebih terhadap perubahan iklim dunia. @jrk