LENSAINDONESIA.COM: Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menyikapi pencoretan 13 cabang olahraga (cabor) di PON XX 2020 Papua.

KONI terus berupaya agar belasan cabor tersebut dapat dipartandingkan. Salah satu cara yang ditempuh adalah mengajukan revisi terhadap Paraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pekan dan Kejuaraan Olahraga Nasional.

Wakil Ketua Umum KONI Pusat, Soewarno menyampaikan, pihaknya memahami betul atas keluhan dari KONI Jatim sebagai salah satu provinsi yang merasa dirugikan atas kebijakan tersebut. Maklum, dari 13 cabor yang dicoret itu, beberapa cabor merupakan unggulan Jatim. Salah satunya adalah bowling.

“Tadi disampaikan oleh Pak Erlangga (Ketua Umum KONI Jatim, Erlangga Satriagung), bahwa atlet bowing Jatim telah menyumbangkan empat emas untuk kontingen Indonesia di SEA Games 2019. Nah, kalau sampai bowling tak dipertandingkan di PON Papua, tentu kerugian besar bagi Jatim,” kata Soewarno di acara Lokakarya Mencari Desain Pembinaan pasca Rasionalisasi 10 cabang olahraga PON 2020 di Hotel Kampi, Surabaya, Sabtu (14/12/2019).

Menurutnya, untuk mempertandingkan kembali 13 cabor tersebut, tidak ada jalan lain harus merevisi PP 17/2007. Kalau tidak, kata Soewarno, maka KONI Pusat akan melanggar aturan.

Revisi PP tersebut, sudah diajukan lewat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) agar mendapatkan persetujuan dari Presiden. “Sekarang sudah ada di Sesneg. Mudah-mudahan segera selesai,” ungkapnya.

Mantan Pangdam V Brawijaya ini, lalu menjelaskan secara rinci persiapan PON Papua. Mulai dari rapat terbatas bersama Presiden dan kementerian terkait yang pertama hingga rapat terbatas kedua. Pada rapat terbatas kedua, dibahas beberapa hal terkait dengan penyelenggaraan PON 2020.

Beberapa hal itu, antara lain jumlah cabor dikurangi, PON XX diundur tahun 2021 dan pencoretan Kabupaten Wamena dan Biak dicoret sebagai tempat penyelenggaraan beberapa cabor.

“Kami bersyukur Wamena dan Biak dibatalkan, karena jaraknya terlalu jauh dengan Papua. Dari Papua ke Wamena harus menggunakan pesawat lagi, kasihan atletnya,” paparnya.

Sedangkan, pengurangan jumlah cabor disesuaikan dengan berbagai pertimbangan. Pertama, tidak ada venue. Kedua, olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade ada yang punya prestasi. Ketiga, olahraga non-Olimpiade tapi punya prestasi. Keempat, melihat kondisi tuan rumah.

“Setelah kami ketemu dengan Gubernur Papua Lucas Enembe menghadap Kemenpora dan Kemenko PMK disepakati 37 cabor yang dipertandingkan di PON 2020. Akhirnya gubernur Papua sendiri yang mendeklarasikan jumlah cabor tersebut,” terangnya.

Selain itu, mengenai keamanan, Soewarno memastikan Papua siap menjadi tuan rumah. Masalah keamanan menjadi tanggung jawab polisi dan TNI. Kalau mungkin dibutuhkan penambahan pasukan, akan didorong oleh Mabes Polri dan TNI.

“Saya sudah bicara dengan Kasdam dan Wakapolda Papua, mereka mengatakan Papua aman. Mereka mengatakan pengamanan di Papua, bukan hanya tempat pertandingan dan kelancaran lalu lintas, keamanan wilayah dan sebagainya,” tegasnya.

Pihaknya menyarankan alangkah baiknya nanti kontingen mungkin membawa unsur TNI dan Polri untuk mempermudah koordinasi. Namun, jumlahnya tidak perlu banyak-banyak.

“Berapa jumlah personil keamanan selama berlangsungnya PON 2020, sudah saya koreksi. Kalau mau tambah, silahkan mengajukan ke unsur masing-masing,” imbuhnya.@fredy