Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Honda Surabaya Center: “Program Kendaraan Bermotor Listrik perlu infrastruktur matang dan subsidi pemerintah”
Marketing and After Sales Service Director Honda Surabaya Center, Wendy Miharja. Ist
Bisnis

Honda Surabaya Center: “Program Kendaraan Bermotor Listrik perlu infrastruktur matang dan subsidi pemerintah” 

LENSAINDONESIA.COM: Kebijakan tentang program Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) menuai pro dan kontra.

Kendati program tersebut sudah ada pada Perpres 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, namun perlu persiapan panjang.

Dikutip dari CNBC, pemerintah sudah siap untuk hal ini, sebab menurut Kepala Subdit Kelaikan Teknik dan Keselamatan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Didit Waskito memaparkan, kapasitas daya listrik nasional saat ini sebesar 36.968 MW dengan beban puncak 33.247 MW.

Namun, hal ini direspon oleh pihak ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek). Seperti halnya oleh Marketing and After Sales Service Director Honda Surabaya Center, Wendy Miharja yang mengatakan, hal ini perlu persiapan infrastruktur dan subsidi dari pemerintah.

Menurutnya, dari Honda sendiri sudah mempersiapkan beberapa skenario terkait kebijakan mobil listrik tersebut. Namun masih melihat efek ke kedepannya, khususnya di Indonesia.

“Salah satunya sih infrastruktur yang sampai saat ini belum disiapkan seperti halnya charging station yang tak harus ada di tempat khusus. Bahkan perlu juga ada di mall, hotel, dan lainnya, jadi tak sekedar mengandalkan di rumah, dan itu pasti butuh instalasi khusus,” papar Wendy saat dikonfirmasi Lensaindonesia.com, Selasa (14/01/2020).

Ia menambahkan, tak cukup dukungan infrastruktur saja, subsidi atau insentif dari pemerintah pun diperlukan untuk percepatan penerapan program KBL.

“Untuk membangun satu produk berbasis tenga listrik itu cukup mahal. Memang di negara-negara lain bisa, itu pun disubsidi pemerintah. Yang memungkinkan saat ini adalah dengan sistem kombinasi, yakni kendaraan bermotor tenaga listrik yang dipadu dengan sistem bahan bakar minyak atau namanya sistem hybrid. Itu yang mungkin masih bisa diterima, tetapi harga kendaraannya cukup mahal,” tegas Wendy.

Selain itu, lanjut Wendy, untuk suku cadang oendukungnya bisa dipastikan harus simpel, dan pasti memerlukan teknologi baru.

“Artinya, suku cadang simpel tersebut juga belum tentu murah, karena ada yang baru pasti ada harga baru. Seperti halnya pada Honda CR-Z yang mengusung teknologi hybrid, pada masa launchingnya waktu lalu itu sudah dibanderol dengan harga Rp 500 jutaan,” ungkap Wendy.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa ATPM dan pemerintah harus bersinergi terkait penyediaan infrastruktur dan support terhadap dukungan perangkatnya, agar harga KBL mudah dijangkau oleh masyarakat.@Eld-Licom