LENSAINDONESIA.COM: PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) luncurkan PRUTotaI Critical Protection (PRUTop) dan PRUTotaI Critical Protection Syariah (PRUTop Syariah).

Ini merupakan produk asuransi tambahan pertama untuk memastikan masyarakat Indonesia terlindungi secara total tanpa ada batasan jumlah maupun jenis penyakit kritis.

Jens Reisch, President Director Prudential Indonesia mengatakan, selama hampir 25 tahun, Prudential Indonesia selalu berkomitmen menjadikan masyarakat Indonesia hidup lebih sehat dan lebih lama dengan beragam solusi perlindungan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang.

“Kami tahu kebutuhan masyarakat Indonesia akan perlindungan makin dinamis. Sebab itu, dengan kampanye ‘We DO’ Prudential, kami terus berinovasi dengan meluncurkan PRUTop dan PRUTop Syariah, rangkaian solusi asuransi yang melindungi masyarakat dari kondisi kritis secara total,” tambah Jens saat dikonfirmasi Lensaindonesia.com, Rabu sore (15/01/2020).

Sementara itu, dr. Chandra Wijaya mewakili Siloam HOSpitals Surabaya menjelaskan, permasalahan kesehatan saat ini makin nyata dan mengancam, sehingga masyarakat harus selalu waspada. Secara global, World Health Organization (WHO) mengkategorikan permasalahan kesehatan hingga mencapai 68.000 jenis.

“Indonesia jadi sasaran bahaya kesehatan tersebut dan kita wajib siaga terhadap munculnya penyakit-penyakit baru. Para ahli memperkirakan lima penyakit baru pada manusia muncul tiap tahun, tiga diantaranya bersumber dari binatang-binatang,” tuturnya.

Diabetes militus masih tinggi di Jatim
Merujuk data Riset Kesehatan Dasar 2018, sejumlah prevalensi Penyakit Tidak Menular Jawa Timur ada di atas rata-rata nasional, seperti penyakit stroke 12,4% (rata-rata nasional 10,9%) dan kanker 2,17% (rata-rata nasional 1,79%).

Selain itu, diabetes melitus di Jawa Timur juga masih tinggi, yakni 2% (rata-rata nasional 1,5%) dan Surabaya merupakan kota dengan prevelansi cukup tinggi hingga melebihi 3%.

“Penyakit kritis bisa menyerang siapa dan kapan saja, sebaiknya masyarakat tak fokus mencegah penyakit tertentu. Penyakit terus bertambah akibat banyak faktor, seperti lifestyle, globalisasi hingga perubahan iklim. Selain itu, penyakit kritis bisa berimplikasi pada aspek psikologis, sosial hingga finasial yang mampu menggoyahkan stabilitas ekonomi dan masa depan keluarga,” tegas dr. Chandra.

Secara terpisah, Himawan Purnama, Head of Product Development Prudential Indonesia mengungkapkan, asuransi kondisi kritis saat ini terbatas pada diagnosis jenis penyakit. Untuk itu, PRUTop dan PRUTop Syariah menawarkan konsep baru perlindungan kondisi kritis yang fokus pada perawatan, tindakan, atau ketidakmampuan permanen yang terjadi akibat kondisi kritis.

“Sebab itu, PRUTop dan PRUTop Syariah sangat dibutuhkan karena mampu melindungi kesehatan dan finansial masyarakat Indonesia secara menyeluruh dan memastikan mereka hidup lebih tenang,” terang Himawan.

Produk tersebut bisa digunakan oleh masyarakat berusia 6 hingga 65 tahun dengan perlindungan ganda jangka panjang.

PRUTop dan PRUTop Syariah dengan Asuransi Tambahan PRUCrisis Cover Benefit Plus 61 (Syariah) yang mengcover kondisi kritis tahap akhir atau paket PRUTop dan PRUTop Syariah dengan Asuransi Tambahan PRUEarIy Stage Crisis CoverPlus (Syariah) yang mengcover kondisi kritis sejak tahap awal.

Terkait dengan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi terlebih efek dari kasus Asuransi Jiwasraya, Himawan mengatakan bahwa Prudential tak memperoleh dampaknya.

“Kita juga manyayangkan dan tak perlu komentar lebih jauh dengan hal ini. Kami tetap berkomitmen untuk mewujudkan janji-janji kami kepada klien. Kita rerus berinovasi san menjalankan investasi sesuai tata laksana kelola perusahaan sesuai kaidah yang ada. Dan untuk setiap peluncuran ini semua proses persetujuan kita selesaikan agar bisa mendeliver janji-janji kita kepada nasabah,” pungkas Himawan.@Eld-Licom