Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Belasan tahun limbah industri pindang cemari Watulimo Trenggalek
Sungai di sisi barat Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang tercemar limbah industri pemindangan ikan. FOTO: JAMBE/ARPT
HEADLINE JATIM RAYA

Belasan tahun limbah industri pindang cemari Watulimo Trenggalek 

LENSAINDONESIA.COM: Masyarakat di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek mengeluhkan pencemaran limbah produksi ikan pindang yang berada di tengah pemukiman.

Limbah akibat aktivitas industri pindang yang berada di Desa Margomulyo, Prigi dan Tasikmadu ini mengakibatkan sungai di pesisir selatan tercemar. Air sungai yang dulunya jernih, saat ini berubah menjadi hitam pekat dan berbau anyir.

Gani, Ketua RT 14/RW 01 Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo mengungkapkan, pencemaran sudah terjadi lebih dari 10 tahun terakhir.

Limbah dibuang nganggo pipo kae ning kali, (Selama ini limbah produksi dibuang secara langsung ke sungai melalui pipa, red)” katanya saat ditemui lensaindonesia, Kamis (16/01/2020).

Selain merusak ekosistem sungai, libah cair produksi pindang juga merembes ke sumur-sumur warga sehingga warna airnya berubah warna dan berbau anyir.

Banyune ireng, ambune badeg (air sungainya menjadi hitam, berbau busuk, red),” ungkap Gani menggambarkan kondisi pencemaran limbah pindang yang sudah sedemikian parah.

Sungai-sungai di sisi barat Pantai Prigi ini yang dilalui limbah industri pindang diantaranya, Sungai Jembatan Rala, Kali mati, Kali Gereng, Kali Sempu, Kali Jurang Mangu dan Kali atau Sungai Ngemplak. Sungai ini bermuara di laut.

Gani mengungkapkan, sebenarnya warga terdampak sudah cukup bersabar dengan kondisi ini. “Warga di sini ewuh pakewuh. Mau demo itu yang berkerja di situ juga tetangga sendiri. Di diamkan pun masalahnya tidak pernah terselesaikan,” ujarnya.

Sementara itu, Joko Surosi, Ketua LSM Jaringan Aksi Masyarakat untuk Budaya dan Ekologi (JAMBE) mengatakan, saat ini terdapat 60 pemilik usaha pemindangan di Kecamatan Watulimo.

Dari 60 pemindang tersebut, 34 pengusaha masih berproduksi di tengah pemukiman, sedangkan sisanya sudah berada di Sentra Pemindangan Bengkorok.

“Semua produksi pindang ini tidak memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Limbahnya langsung dibuang ke sungai,” sebutnya.

Joko tidak menampik bila di sentra industri pindang sudah memiliki IPAL Komunal, tetapi instalasi pengolahan limbah itu tidak difungsikan. “IPAL Komunal yang dulu dibangun tidak digunalan lagi, malah dipakai ternak lele,” ungkapnya.

Kasus pencemaran lingkungan di Kecamatan Watulimo ini sejak akhir 2019 lalu mulai mencuat ke publik setelah LSM JAMBE dan Aliansi Rakyat Peduli Trenggalek (ARPT) melaporkan ke sejumlah pihak terkait.

Dua LSM tersebut juga telah mendorong DPRD Kabupaten Trenggalek untuk menggelar hearing pada 9 Januari 2020 kemarin. Sayangnya, para pengusaha pindang tidak hadir dalam hearing bersama Komisi III yang di hadiri Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kelautan dan Perikanan, Bappeda dan Satpol PP tersebut.@rofik