Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Alotnya relokasi industri pindang Watulimo, pemindang rela beli IPAL asal tetap di pemukiman
Produksi pindang milik Yasni di Dusun Sempu, Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. FOTO: rofik-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Alotnya relokasi industri pindang Watulimo, pemindang rela beli IPAL asal tetap di pemukiman 

LENSAINDONESIA.COM: Proses relokasi 34 produsen pindang di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek ke Sentra Pemindangan Ikan Bengkorok berlangsung ‘alot’. Sejumlah pemindang lebih memilih membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) tetap berproduksi di tengah pemukiman.

Upaya relokasi ini dilakukan oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin karena limbah industri pindang yang tersebar di tiga desa tersebut telah mencemari lingkungan.

Dalam surat teguran yang diterbitkan pada 19 Desember 2019 Bupati Nur Arifin menginstruksikan agar indusri pindang tersebut pindah ke sentra Bengkorok atau membuat IPAL dengan batas akhir 31 Januari 2020.

Salah satu pengusaha pindang yang berusaha tetap bertahan di tengah pemukiman adalah Yasni. Ia memilih membeli IPAL agar tetap memproduksi pindang di Dusun Sempu, Desa Margomulyo.

Alasan Yasni tidak mau direlokasi karena usaha yang digelutinya sudah berlangsung puluhan tahun.

“Di sini saja. Pemindangan di sini sudah lama tahun 1976, jaman kakek-nenek dulu. Lalu pindah ke sini mulai tahun 1980, sudah 40 tahun. Iya saya akan membuat IPAL,” katanya saat ditemui di tempat produksi pindang miliknya, Sabtu (18/01/2020).

Yasni mengungkapkan, untuk membuat IPAL akan membeli dari sebuah CV yang ditunjuk oleh pihak kabupaten (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Trenggalek). “Bilangnya ketua begitu (beli). Ada ketuanya (Ketua kelompok pemindang) Pak Juli namanya. Bisa lebih jelas kalau tanya Pak Juli,” ungkapnya.

Yasni menyebut, dalam pertemuan antara pemindang dengan pemerintah (Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perikanan & Kelautan) pihaknya ditunjukkan gambar IPAL.

Dalam pertemuan di Gedung Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Watulimo pada 6 Januari 2020 itu juga dipaparkan beberapa ukuran IPAL sesuai dengan kapasitas produksi para pemindang.

Kata Yasni, ukuran IPAL yang ukuran besar untuk produksi pindang sekitar 8 ton, sedangkan ukuran sedang untuk produksi 4-6 ton. Sedangkan yang terkacil adalah kapasitas produksi 2-3 ton per hari.

“Saya ukuran (IPAL) yang paling kecil karena produksi sekitar 2 ton. Harganya Rp 36,750 juta. Ada, ditunjukkan gambar IPAL-nya. Di kasih foto kopi IPAL,” ungkapnya.

Sebelumnya, Midi, seorang pengusaha pindang yang sudah 10 tahun menempati Sentra Pemindangan Bengkorok Watulimo merasa heran dengan para pemindang yang ogah direlokasi dari pemukiman penduduk.

“Itu katanya mau dipakai tempat relokasi pemindang. Tapi nggak tahu kapan mulainya,” ujarnya sambil menunjuk lahan yang disiapkan untuk tempat relokasi, Kamis (16/01/2020).

“Saya dulu juga memindang di rumah. Karena sering didemo warga akhirnya dipindahkan kesini. Ya nggak tahu kenapa mereka kok tidak mau dipindahkan ke sini. Ya namanya manusia,” ujarnya.

Diketahui, saat ini terdapat 60 pemilik usaha pemindangan di Kecamatan Watulimo.

Dari 60 pemindang Desa Margomulyo, Prigi dan Tasikmadu tersebut, 34 masih berproduksi di tengah pemukiman, sedangkan sisanya sudah berada di Sentra Pemindangan Bengkorok.

Limbah industri pindang yang berada di Desa Margomulyo, Prigi dan Tasikmadu ini mengakibatkan sungai di pesisir selatan tercemar. Air sungai yang dulunya jernih, saat ini berubah
menjadi hitam pekat dan berbau anyir.@rofik