Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Perempuan Indonesia di legislatif masih di bawah 30%, di parlemen Amerika hanya 20%
Para pembicara diskusi publik diselenggarakan IDNextLeader, bertajuk “Woman and Leadership, What’s Next”. @foto:idnl
CANTIKA

Perempuan Indonesia di legislatif masih di bawah 30%, di parlemen Amerika hanya 20% 

LENSAINDONESIA.COM: IDNL bekerjasama dengan @America mengadakan diskusi publik bertajuk “Woman and Leadership, What’s Next”. Hokkop Situngkir, salah satu pembicara yang pendiri sekaligus Executive Director IDNL mengungkapkan data terkait potensi peran kepemimpinan perempuan di Indonesia.

“Wanita di legislatif Indonesia masih di bawah 30%, dan pada kenyataannya di jabatan strultural ASN kita di level eselon 4 dan 5 masih cenderung seimbang, namun di top level management di eselon 1, 2 dan 3, proporsi wanita masih di bawah 20%,” ungkap Hokkop Situngkir, di Jakarta, akhir pekan ini.

Dhini Shanti Purwono, lulusan Harvard Law School, yang saat ini menjabat Staf Khusus Presiden RI, juga sebagai pembicara dalam forum ini, membandingkan peran wanita di Indonesia dengan di Amerika Serikat.

“Bahkan di Amerika Serikat, jumlah wanita di parlemen hanya di angka 20%. Ada budaya yang ditanamkan oleh keluarga yang ‘merendahkan perempuan’, dan cukup disayangkan kebanyakan wanita justru menerima dan melakukan “pembiaran”,” kata Dhini.

“Salah satu penyebab lainnya juga karena kinerja legislatif perempuan belum signifikan terasa oleh masyarakat,” imbuhnya.
Arimbi Yogasara selaku Regional Leader “Girl Up”, United Nation Foundation dalam kesempatan ini juga menyampaikan bahwa Gerakan Girl Up ini dilakukan di banyak negara. “Girl up ingin mencapai gender equality. Kesetaraan gender bisa dicapai tanpa harus memenangkan diri atas gender satu terhadap gender lainnya,” ungkapnya.

“Gender Quality bukan kompetisi, namun harus dicapai untuk membuat semuanya lebih bahagia,” imbuh Arimbi.

Director of General Affairs IDNextLeader, Chairunissa Fuadillah, menutup sesi diskusi dengan menunjukkan bahwa Gerakan IDNextLeader yang didirikan bersama rekan-rekannya di Yayasan tersebut, berharap dapat memberikan support system bagi semua orang yang ingin menjadi pemimpin di bidang masing-masing yang digelutinya dan terbuka bagi siapa pun, termasuk wanita.

“IDNextLeader ingin menjadi support system bagi seluruh teman-teman yang bersedia Bersama untuk membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan. Terutama dalam hal kepemimpinan wanita, seluruh wanita perlu 3 B, yaitu percaya (Believe) dan berani (Be Brave), berjuang (be Resilient).

Yayasan ID Next Leader (IDNL) merupakan sebuah wadah perkumpulan anak-anak muda Indonesia melakukan gerakan strategis, non-profit, dengan semangat untuk: mencari, mengakselerasi, dan menjejaringkan pemimpin-pemimpin potensial Indonesia di masa mendatang, di berbagai sektor, dan berbagai tingkatan.

“IDNL ingin menjadi sebuah Gerakan yang bisa menghimpun para calon pemimpin, pemikir, dan innovator, dari berbagai latar belakang, yang nantinya akan kami jembatani supaya mereka bisa menciptakan perubahan bagi Indonesia,” ungkap Ferro Ferizka, pendiri dan Presdir IDNL.

Dua bulan berdiri, lanjut Ferro, IDNL sudah berhasil menarik minat lebih dari 40 mentor/tokoh senior yang berasal dari berbagai latar belakang, 700 lebih pemimpin potensial, 4 IDNL regional di Papua, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Utara.
“Tren ini adalah bukti IDNL diterima secara positif oleh masyarakat Indonesia,” katanya.

IDNL berusaha menjembatani para pemimpin potensial tersebut, menurut Ferro, untuk menciptakan perubahan, melalui 3 cara: (1) melalui pemikiran mereka, (2) dengan mensinergikan apa yang mereka kerjakan dengan pemerintah, atau (3) jika dibutuhkan, masuk dan melakukan perubahan dari dalam. @jrk