Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Bantah CV penyedia IPAL tunjukan oknum pejabat, Pemindang Watulimo: Dari konsultan dinas
Produksi pindang milik Yasni di Dusun Sempu, Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. FOTO: rofik-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Bantah CV penyedia IPAL tunjukan oknum pejabat, Pemindang Watulimo: Dari konsultan dinas 

LENSAINDONESIA.COM: Juru bicara Kelompok Pemindang Karya Cipta Bahari, Suparto membantah adanya oknum pejabat yang diduga menjadi ‘makelar’ IPAL (instalasi pengolahan air limbah) untuk para pengusaha pindang di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang memilih bertahan di pemukiman.

“Tidak benar. Salah itu. Tidak ada yang namanya makelar,” katanya saat menghubungi lensaindonesia.com, Sabtu malam (18/01/2020).

Suparto menyatakan, bahwa keterangan yang disampaikan Yasni bahwa yang memberikan gambar IPAL dan membelinya di sebuah CV adalah pemerintah (Dinas Lingkungan Hidup Trenggalek) tersebut tidak benar.

“Yang menunjukkan CV itu konsultan dinas (dinas lingkungan hidup). Bukan orang dinas. Pak Yasni tidak ikut kumpulan (pertemuan). Yang ikut menantunya, Wito,” jelasnya.

Suparto menyebut, pertemuan yang berlangsung di Balai Pertemuan Masyarakat (BPM) Tasikmadu itu dihadiri Dinas Perikanan, Dinas Lingkungan, konsultan dinas serta kelompok pemindang. “Tanggalnya saya lupa,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, kata Suprapto, pihak konsultan memaparkan wawasan tentang IPAL pada para pemindang. Kemudian konsultan menawarkan berbagai ukuran IPAL sekaligus harganya.

“Kami diberi desain, gambar (IPAL). Pemindang tidak tahu belinya dimana, pesannya ke siapa, kan nggak tahu. Ya okelah (terpaksa beli)” paparnya.

Jadi, menurut Suparto, penunjukan CV penyedia IPAL bukan dilakukan oleh pihak dinas melainkan konsultan dinas (Dinas Lingkungan Hidup).

“Konsultan yang punya kenalan pabrik pembuat kapsul (tabung IPAL) di Malang. Terus dari pabrik ini juga datang. Konsultan menawarkan silahkan nego sendiri dengan pabriknya. Ada (IPAL) kapasitas 6 ton, 9 ton, 12 ton,” ucapnya.

“Intinya tidak ada dinas yang mengusulkan harus membeli kapsul (tabung IPAL) di sini (salah satu CV). Intinya cuma diberi pilihan, kalau mau beli di tempat lain silahkan atau membuat IPAL sendiri,” tambahnya.

Suparto mengatakan, pihaknya tidak menolak bila ada perusahaan IPAL lain ikut menawarkan dengan harga kompetitif. Namun, kata dia, hal itu sudah terlambat sebab para pemindang sudah membayar DP kepada salah satu CV yang katanya dari konsultan dinas itu.

“Iya kami sudah bayar DP, 30 persen dari harga IPAL,” kata Suparto tanpa mau menyebut harga IPAL yang dibeli masing-masing pemindang.@rofik