Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Aniaya istri, ‘makelar kasus’ hanya didakwa pasal pengapusan kekerasan
Terdakwa KRDT Tjiang Rendy Bester,saat menjalani sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (20/01/2020). FOTO: rofik-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Aniaya istri, ‘makelar kasus’ hanya didakwa pasal pengapusan kekerasan 

LENSAINDONESIA.COM: Meski melakukan penganiayaan terhadap istrinya terdakwa Tjiang Rendy Bester (63) warga Jl Kertajaya Indah XVII, hanya didakwa pasal 44 ayat (4) U RI no 32 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Pada sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Surabaya beberapa waktu lalu, terdakwa mengaku sering mengurusi perkara hukum (makelar kasus) baik di kepolisian dan di pengadilan.

Pada sidang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi, Jaksa penuntut umum (JPU) Neldy dari Kejari Surabaya menghadirkan tiga saksi yakni Fanni Gosalina (saksi korban), Yurike Susilo (anak korban) dan dokter dari Polrestabes Surabaya yang mengeluarkan hasil visum.

Dalam keterangannya, saksi korban Fanni Gosalina menyatakan, dirinya mengalami kekerasan fisik saat dirumahnya dan disaksikan oleh asisten rumah tangganya.

“Saat itu, Sabtu (09/01/2019) kami cekcok, saya dipukuli oleh terdakwa satu kali di kepala, beberapa kali dibagian muka dan lengan kiri,” terang saksi korban Fanni.

Saksi Fanni juga menjelaskan, akibat kekerasan yang diterimanya tersebut, dirinya mengalami lebam di lengan kirinya. “Ada lebam dilengan kiri dan itu juga diperkuat dari hasil visum,” ungkapnya.

Sementara saksi Yurike Susilo saat dimintai keterangannya menyatakan, setelah mendapat kabar dari korban, dirinya langsung mendatangi rumah orang tuanya.

“Setelah mendapat kabar, saya langsung pulang, dan menjemput ibu yang berada di rumah teman.” ungkapnya.

Setelah menjemput korban dan membawanya ke rumah sakit, saksi langsung melihat rekaman CCTV yang conect ke ponselnya.

“Setalah itu saya memeriksa rekaman CCTV lalu saya download sebagai barang bukti,” ujarnya lebih lanjut.

G.W Tody selaku kuasa hukum terdakwa yang menyinggung apakah saksi berada dilokasi saat peristiwa kekerasan tersebut, dengan tegas saksi menyatakan tidak berada ditempat.

Tody juga mempermasalahkan lebam dilengan kiri saksi korban bagian dalam yang disebut tidak masuk akal.

“Bagaimana mungkin ada lebam di lengan bagian dalam, sementara korban menangkis. Seharusnya dibagian luar, ini sudah tidak benar?” tanya Tody.

Mendapat pertanyaan tersebut, saksi menyatakan bahwa dalam rekaman CCTV terdakwa terlihat melakukan pemukulan pada ibunya. “Masalah kebenaran bukan biar majelis hakim yang memutuskan,” ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan terdakwa Tjiang Rendy Bester, atas lebam yang dialami saksi korban dilengan kiri bagian dalam. “Waktu itu tangan saksi  begini (menangkis seraya menirukan gerakan), mana mungkin bisa lebam dibagian dalam ini sudah direkayasa,” ucapnya.

Percekcokan yang disertai penganiayaan tersebut berawal dari terdakwa yang meminta surat sertifikat tanah mantan suami saksi korban yang berlokasi di Tulungagung dan rumah yang ditempati. Namun, karena tidak dikasih terdakwa emosi sehingga melakukan pemukulan.@rofik