Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Tolak relokasi, kelompok pemindang Watulimo sebut pembangunan Sentra Bengkorok tidak jelas
Suparto, juru bicara Kelompok Pemindang Karya Cipta Bahari, Kabupaten Trenggalek. FOTO: dok.
HEADLINE JATIM RAYA

Tolak relokasi, kelompok pemindang Watulimo sebut pembangunan Sentra Bengkorok tidak jelas 

LENSAINDONESIA.COM: Sejumlah pelaku industri pemindangan ikan di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang menolak direlokasi dari pemukiman warga menilai, rencana pemerintah membangunkan tempat usaha di Sentra Pemindangan Bengkorok masih masih belum jelas.

Karena alasan itu, sejumlah pemindang menolak direlokasi. Mereka lebih memilih mempertahankan usaha di tengah pemukiman yang digelutinya sejak puluhan tahun lalu itu, meski telah dinyatakan mencemari lingkungan.

“Kami tahu kalau kami ini salah (mencemari lingkungan). Kami terima kasih diberi (difasilitasi) pinjaman bank untuk membuat IPAL (instalasi pengolahan air limbah). Tapi di sana (Sentra Bengkorok) mau dibangun atau tidak kan belum jelas,” kata Suparto, juru bicara Kelompok Pemindang Karya Cipta Bahari kepada lensaindonesia.com, Sabtu malam (18/01/2020).

Suparto juga mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanaya dari Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Trenggalek, bahwa pembangunam Sentra Pemindangan Ikan Bengkorok adalag program dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Katanya programnya pemerintah Jokowi, sudah ada master plan-nya. Tapi itukan masih rencana, tidak jelas kapan dibangunnya. Karena itu kami tidak mau relokasi,” tegasnya.

Para pemindang mengkawatirkan bila mengikuti relokasi dan membangun tempat semi permanen dengan biaya swadaya, tiba-tiba pembangunan jadi dilaksanakan.

“Ya kan belum jelas mas (pembangunannya). Lha kalau kita bangun tempat semi permanen lalu tiba-tiba ada pembangunan dari pemerintah gimana? Bangunan semi permanen itu biaya sendiri lho mas. Ya walau pun nantinya kita akan direlokasi semua,” kata Suparto.

Lalu saat ditanya lebih besar mana biaya untuk membangun tempat semi permanen di lahan sentra Bengkorok dengan membuat IPAL untuk industri pindang di pemukiman, Suparto menjawab “Ya mahal membeli IPAL.”

Kepada lensaindonesia.com, Suparto. menyampaikan bahwa para pemindang juga keberatan dengan instruksikan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin kepada pemindang untuk relokasi ke sentra Bengkorok atau membuat IPAL dengan batas waktu hingga 31 Januari 2020.

“Lha waktunya mepet lho mas. Apalagi sekarang usaha pindang juga agak lesu karena ikan sedang banyak. Ya ini kita rela utang sana sini untuk membeli IPAL,” ungkap pemindang asal Tasikmadu, Watulimo yang mengaku memproduksi pindang 6 ton perhari ini.
Diketahui, proses relokasi 34 produsen pindang di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek ke Sentra Pemindangan Ikan Bengkorok berlangsung ‘alot’. Sejumlah pemindang lebih memilih membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) tetap berproduksi di tengah pemukiman.

Upaya relokasi ini dilakukan oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin karena limbah industri pindang yang tersebar di tiga desa tersebut telah mencemari lingkungan.

Dalam surat teguran yang diterbitkan pada 19 Desember 2019 Bupati Nur Arifin menginstruksikan agar indusri pindang tersebut pindah ke sentra Bengkorok atau membuat IPAL dengan batas akhir 31 Januari 2020.

Saat ini di Kecamatan Watulimo terdapat 60 pemilik usaha pemindangan. Dari 60 pemindang terserbut, 34 masih menjalankan usahanya di tengah pemukiman Desa Margomulyo, Prigi dan Tasikmadu. Sedangkan sisanya sudah berada di Sentra Pemindangan Bengkorok.

Masih-masing pemindang mampu memproduksi pindang mulai 2 hingga 8 ton per hari.

Akibat adanya limbah industri pindang ini, sungai di pesisir selatan tercemar. Air sungai yang dulunya jernih, saat ini berubah menjadi hitam pekat dan berbau anyir.@rofik