Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Selesai dibangun tiga bulan lalu, IPAL Sentra Pemindangan Ikan Watulimo senilai Rp 1,8 miliar belum bisa dioperasikan
Bangunan IPAL Komunal untuk Sentra Industri Pemindangan Watulimo yang selesai dikerjakan CV Mardi Utomo pada November 2019. FOTO: LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Selesai dibangun tiga bulan lalu, IPAL Sentra Pemindangan Ikan Watulimo senilai Rp 1,8 miliar belum bisa dioperasikan 

LENSAINDONESIA.COM: Guna menangani pemcemaran limbah industri pindang, Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Sentra Pemindangan Ikan Watulimo di Desa Bengkorok.

Untuk pengadaan IPAL ini, Pemkab Trenggalek harus merogoh kocek APBD 2019 total sebesar Rp 1.898.602.992,16. Anggaran tersebut untuk proyek Pembangunan IPAL Komunal untuk Sentra Industri Pemindangan seharga Rp 652.279.992,16 yang dikerjakan oleh CV Mardi Utomo dan proyek Pembangunan Bangsal Pemindangan Ikan dan Pengadaan Bangunan Instalasi Limbah Pemindangan Ikan Rp 1.246.323.000,00 yang dikerjakan CV Sekawan Tunggal Jaya.

Plang proyek Pembangunan IPAL Komunal untuk Sentra Industri Pemindangan Watulimo. FOTO: LICOM

Dua proyek yang proses lelangnya sama-sama berlangsung di tahun 2019 itu dilakukan oleh dua kuasa pengguna anggaran (KPA) berbeda. Dimana proyek Pembangunan IPAL Komunal untuk Sentra Industruli Pemindangan yang dikerjakan oleh CV Mardi Utomo merupakan hasil lelang yang dilakukan oleh Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) Kabupaten Tenggalek pada Juli 2019 dengan nilai Pagu Rp 778.000.000,00 dan selesai dibangun pada November 2019.

Sedangkan proyek Pembangunan Bangsal Pemindangan Ikan dan Pengadaan Bangunan Instalasi Limbah Pemindangan Ikan yang dikerjakan CV Sekawan Tunggal Jaya adalah hasil lelang yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek pada Juli 2019. Proyek ini juga sudah diselesaikan pada November 2019 lalu.

Plang proyek Pembangunan Bangsal Pemindangan Ikan dan Pengadaan Bangunan Instalasi Limbah Pemindangan Ikan Watulimo. FOTO: LICOM

Meski proyek sudah rampung tiga bulan lalu, namun IPAL untuk Sentra Pemindangan Ikan Watulimo tersebut masih belum bisa difungsikan. Otomatis, sekiatar 26 industri pindang yang ada di Sentra Semindangan masih membuang limbah industrinya secara langsung ke sungai.

Belum diketahui secara pasti mengapa IPAL seharga Rp 1,8 miliar lebih tersebut belum dioperasikan. Padahal, saat ini sudah memasuki tahun anggaran baru.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Trenggalek, Cusi Kurniawati mengatakan, kapasitas IPAL tersebut tidak cukup bila digunakan untuk mengolah limbah seluruh pemindang di Sentra Watulimo.

Di lain pihak, Midi, seorang pelaku usaha pemindangan ikan di Sentra Watulimo membenarkan bahwa IPAL yang sudah selesai dibangun itu belum dioperasikan.

“Iya itu ada bangunan alatnya (IPAL). Air pindang masih saya buang lewat sini (selokan),” katanya saat ditemui lensaindonesia.com di Sentra Pemindangan Ikan Watulimo, Kamis (16/01/2020) lalu.

Pria asal Desa Tasikmadu yang lebih dari 10 tahun memproduksi pindang di Sentra Pemindangan Ikan Watulimo ini mengungkapkan, sebenarnya beberapa tahun lalu Pemkab Trenggalek telah membuatkan IPAL Komunal. Namun IPAL mangkrak tidak terpakai sampai sekarang.

“IPAL yang dulu ada di sana, sudah tidak dipakai. Lha tidak dipakai lagi. Sudah lumayan lama, tahun berapa itu (dibangun), lupa,” ungkapnya.

Bangunan IPAL yang lama jadi kolam lele

Bangunan IPAL Komunal yang lama di Sentra Industri Pemindangan Ikan Watulimo mangkrak. FOTO: LICOM

Adanya bangunan IPAL di Sentra Pemindangan Ikan Watulimo yang bertahun-tahun mangkrak itu juga disampaikan Ketua LSM Jaringan Aksi Masyarakat untuk Budaya dan Ekologi (JAMBE) Joko Suroso. Kata dia, IPAL tersebut hanya digunakan beberapa bulan saja setelah itu dibiarkan tak beroperasi. Malah bangunan IPAL Komunal itu sempat dimanfaatkan para pemindang untuk kolam ikan lele.

“Iya IPAL yang lama sudah tidak dipakai. Pernah digunakan untuk kolam lele. Kalau tidak salah dibangun tahun 2015,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Trenggalek, Ir Muyono Piranata belum bisa dikonfirmasi. Beberapa kali telponya dihubungi, ia tidak memberikan jawaban.

Berdasarkan pengamatan lensaindonesia.com, dua unit IPAL bercat biru yang selesai dibangun pada November 2019 di Sentra Pemindangan Ikan tersebut sampai kini memang belum dioperasikan. Bahkan saluran pembungan limbah para pemindang juga belum terintegrasi ke lokasi IPAL.

Diketahui, saat ini di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek terdapat 60 pemilik usaha pemindangan. Dari 60 pemindang terserbut, 34 masih menjalankan usahanya di tengah pemukiman Desa Margomulyo, Prigi dan Tasikmadu. Sedangkan sisanya sudah berada di Sentra Pemindangan Ikan.

Masih-masing pemindang ini mampu memproduksi pindang mulai 2 hingga 8 ton per hari.

Akibat adanya limbah industri pindang yang sudah berlangsung puluhan tahun ini, sungai di pesisir selatan tercemar. Air sungai yang dulunya jernih, berubah menjadi hitam pekat dan berbau anyir.@rofik